The Twins CEO

The Twins CEO
Bicara Empat Mata


__ADS_3

Tiba di rumah sakit, Nessa dan Irgi langsung menghampiri kamar perawatan Farel.


Tiba di kamarnya, Nessa langsung disambut dengan senyuman manis oleh Farel.


"Bagaimana keadaan kamu Farel?"tanya Nessa.


"Baik-baik saja, Anda lihat sendiri kan ?" tanya Farel sambil menatap wajah Nessa dengan tatapan mata yang berbinar. Hingga membuat Nessa tak mampu menatap wajahnya kembali.


"Syukurlah kalau begitu, aku datang membawa ini untukmu," ucap Nessa sambil meletakkan bungkusan makanan di atas nakas Farel.


"Terima kasih Nona," ucap Farel. Keduanya pun saling melempar senyum.


Nessa begitu Nervous ketika ditatap seperti itu oleh Farel.Karena itu, ia tak ingin berlama-lama di ruangan itu.


"Aku permisi dulu ya Rel," ucap Nessa dengan senyum sekilas.


"Hati-hati Nona," ucap Farel sambil tersenyum lebih manis lagi.


Farel sepertinya semakin berani untuk menujukan perasaannya terhadap Nessa.


Farel menatap Nessa hingga gadis cantik itu menghilang di balik pintu.


"Sudah?" tanya Irgi ketika melihat Nessa keluar dari ruang perawatan Farel.


"Sudah," sahut Nessa singkat.


"Sudah apanya?"tanya Irgi lagi.


"Ya sudah, makanannya sudah aku antar," jawab Nessa.


"Gak bukan itu. Maksud aku, sudah hilang kangen nya?"tanya Irgi seraya tersenyum menggoda Nessa. 


"Ih Irgi apaan sih kamu! " Seru Nessa sambil mencubit perut Irgi. Nessa merasa malu diledek seperti itu.


Haha,tawa Irgi ketika melihat Nessa salah tingkah.


"Sudah Yuk kita pulang saja," ucap Nessa sambil menarik tangan Irgi.


Sementara itu Farel mendengar apa yang dikatakan Irgi. Farel tersenyum, karena ia semakin yakin jika cintanya itu berbalas.


"Aku jadi ingin segera keluar dari rumah sakit ini dan segera bisa bekerja lagi, secepatnya aku akan mengutarakan perasaan ku terhadap Nessa, sebelum Nessa kembali di jodohkan," gumam Farel sambil meraba perutnya.Ia pun kembali tersenyum.


***


Setelah mengantar Nessa,Irgi kembali ke kantornya.


Kedatangan disambut antusias oleh Sherly sang sekretaris nya yang cantik dan Seksi.


Lebih seksi lagi, karena Sherly saat itu menggunakan terusan dress ketat berwarna putih  dibalut dengan blazer hitam,hingga lekuk tubuhnya terlihat sempurna.


"Selamat pagi Pak," ucap Sherly ketika Irgi berada di depan meja sekretaris nya.


"Selamat pagi juga," ucap Irgi.


"Sherly bawa laporan mingguan ke ruangan saya," perintah Irgi.


"Siap Pak," ucap Sherly.


Sherly tersenyum sebelum masuk ke ruangan CEO.


Kemudian ia membawa berkas ke ruangan Irgi.


Sherly berjalan berlenggak-lenggok menghampiri meja Irgi.


Buk

__ADS_1


 "Akh!" Tiba-tiba Sherly berteriak membuat Irgi yang sibuk menatap laptopnya menoleh ke arahnya.


"Sherly kamu kenapa?!" tanya Irgi kaget ketika melihat Sherly yang jatuh terjerembab  di atas lantai.


"Aduh kakiku sakit sekali,"rings serly sambil menyentuh bagian telapak kakinya.


Melihat Sherly yang tidak bisa bergerak, Irgi segera menghampirinya.


"Aduh sakit sekali!" Seru Sherly sambil meringis kesakitan.


Kaki Sherly menyilang di atas lantai, hingga membuka sebagian pahanya.


"Kamu kenapa?"tanya Irgi


"Nggak tahu pak, saya sepertinya keseleo. Kaki saya sakit sekali," ucapnya sambil menyentuh bagian telapak kakinya.


"Ya sudah kalau gitu kamu bangkit dari situ!" Perintah Irgi.


"Aduh nggak bisa Pak, saya nggak bisa berdiri sendiri," ucap Sherly.


Mendengar ucapan Sherly, Irgi langsung mengulurkan tangannya.


"Ayo saya bantu kamu berdiri," ucap Irgi.


Dengan senang hati Sherly menyambut uluran tangan dari Irgi.


Irgi menarik Sherly hingga gadis yang lebih tua 2 tahun darinya itu berdiri.


Setelah berdiri, Sherly pun tak bisa berjalan karena kaki nya yang terasa sakit.


"Pak tolong bantuin saya ke sofa," pinta  Sherly sambil meringis.


Sebenarnya Irgi keberatan untuk membantu Sherly. Namun, gadis itu sudah melingkarkan tangannya ke pinggang Irgi.


"Tolong Pak, saya nggak bisa berjalan," minta Sherly lagi. Mau tak mau pergi membopong Sherly.


'Hm, pria ini begitu mempesona, kali.ini aku tak boleh gagal untuk mendapatkan perhatiannya,' batin Sherly sambil tersenyum menyeringai.


Burg… tiba-tiba saja pintu dibuka oleh seseorang, Irgi yang tengah membopong tubuh Sherly menuju sofa, seketika menoleh ke arah pintu.


"Apa yang kalian lakukan?!" tanya seorang wanita yang tak lain adalah Karen.


Karen menyilang kedua tangannya ke dada, ia  terlihat begitu cemburu, kedatangannya kemari untuk bertemu Irgi dan meminta maaf atas apa yang telah Ia ucapkan di rumah sakit.


Tapi lagi-lagi keren melihat adegan yang membuat darahnya kembali mendidih.


"Karen?"guman Irgi.


Irgi pun melanjutkan membopong Sherly untuk duduk di atas sofa yang ada di ruangannya.


"Sedang apa kalian tanya?" Karen menyelidik.


"Tidak apa-apa, Sherly terkilir jadi aku membantunya untuk duduk di sofa,"jawab Irgi dengan tenang.


Sherly menatap tajam ke arah Karen, kedua wanita itu pun saling menatap dengan tatapan tajam.


"Kenapa kau tiba-tiba saja datang kemari?" tanya Irgi yang membuat kedua gadis itu  tersadar kemudian saling membuang muka.


Karen membuang pandangannya kini beralih memandang Irgi.


"Aku ingin bicara padamu empat mata, tapi sepertinya tidak bisa dilakukan di sini ucap," Karen sambil melirik sinis ke arah Sherly.


"Baiklah, Sherly kau bisa hubungi seseorang untuk membantumu kan? Jika keadaanmu tidak membaik juga, aku izinkan kau untuk pulang ke rumah dan beristirahat," tutur Irgi


"Iya Pak jawab," Sherly dengan wajah yang masam.

__ADS_1


"Baiklah, kamu ingin bicara di mana?"tanya Irgi.


Karen kemudian menghampiri Irgi dan menggandeng tangannya.


"Ayo aku tunjukkan tempatnya," ucap Karen sambil menggandeng mesra tangan Irgi 


Irgi mengikuti saja kemana Karen menuntunnya.


Ketika keluar dari kantor, Irgi mau minta keadaan melepaskan gandengan tangannya.


"Maaf Keren, Aku tak suka pamer kemesraan di kantor."


Dengan kesal karena melepas gandengannya. Mereka pun berjalan beriringan.


 "Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya Irgi.


Irgi sedikit terganggu dengan kedatangan Keren, jarena sudah seminggu ini ia tidak masuk kantor, kedatangan Karen di kantor pasti akan menyita waktunya.


"Nanti saja, Aku ingin berbicara di tempat yang nyaman."


Karen pun menaiki lift dan mereka tiba di rooftop kantor XA company.


Tiba di sana Keren duduk pada kursi yang terbuat dari semen, begitupun Irgi yang duduk di sampingnya.


"Katakanlah apa yang ingin kau bicarakan," ucap Irgi langsung karena ingin mempersingkat waktu.


"Pertama-tama aku ingin minta maaf padamu tentang kata-kataku yang menyakiti Dinda di rumah sakit,"ucap Karen.


"Kau menyakiti hati Dinda, kalu kenapa meminta maaf padaku?" tanya Irgi balik.


"Ya karena aku tidak sempat bertemu dengan Dinda, tapi  jujur saja Irgi, aku begitu cemburu melihat kau dengan wanita lain, meskipun itu Dinda atau siapapun. Percayalah Irgi Aku benar-benar mencintaimu, dan aku tak ingin pernikahan kita batal hanya karena orang ketiga," tutur Karen.


Irgi menatap lekat wanita yang pernah berbicara dengannya itu. Saat itu wajah Karen memang terlihat bimbang.


 


"Mungkin pernikahan kita nggak batal, hanya saja diundur,"ucap Irgi.


Mendengar hal itu, sontak saja membuat Karen  terkejut, kedatangannya Karen kesini untuk meminta Irgi agar bisa  mempercepat pernikahannya,tapi Irgi justru ingin mengundur jadwal pernikahan mereka lagi .


"Apa diundur lagi, tapi kenapa?" tanya keren bernada kecewa.


"Maafkan aku keren, Tapi saat ini keluarga kami tengah mengalami masalah. Dinda sedang sakit keras, dan ia  harus fokus menjalani pengobatannya, karena tak ada orang lain yang akan menjaga dan mengurus Dinda, karena itu aku memutuskan untuk memundurkan waktu pernikahan kita selama beberapa bulan, agar aku bisa fokus untuk pengobatan Dinda."


"Apa kamu sadar Gi, lagi-lagi kamu mengorbankan aku Gi, kamu boleh obatin adik kamu itu, tapi jangan sampai pernikahan kita diundur lagi dong," cetus Karen.


"Tapi aku nggak bisa, pernikahan itu sebuah momen bahagia, tidak hanya untuk aku tapi juga untuk keluargaku. Aku nggak akan bisa merasa bahagia, jika ada anggota keluargaku yang merasa sedih apalagi sedang merasa sakit."


"Untuk itu, aku minta pengertian dari kamu, jika kamu setuju, aku ingin  pernikahan kita sampai keadaan Dinda membaik."


"Apa nggak bisa gitu dong, Dinda itu menderita kanker, Bagaimana keadaannya bisa membaik?!"tanya Keren setengah emosi.


"Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini Karen, rencananya Dinda akan menjalani transplantasi sumsum tulang belakang. 


Kita menikah tunggu Dinda selesai menjalani operasi cangkok sumsum tulang belakangnya, Aku harap kau mengerti Karen," ucap Irgi.


Mendengar hal itu keren langsung melipat wajahnya hingga bertekuk.


Irgi menatap ke arah Karen." Aku tahu kamu kecewa dengan keputusan aku ini. Tapi tolonglah mengerti, aku ingin di saat menikah aku benar-benar bisa merasakan kebahagiaan. Jika Dinda masih merasakan sakit, maka aku tak bisa menikmati kebahagiaan pernikahan itu," tutur Irgi dengan nada membujuk.


Selama beberapa saat mereka diam.


Karen menatap lekat ke arah Irgi.Karena rasa cintanya yang begitu besar terhadap Irgi, Karen begitu takut kehilangannya. Keren juga takut jika Irgi sampai  direbut oleh perempuan-perempuan yang berada dekat dengannya, seperti Sherly dan Dinda.


'Apa aku jebak saja dia, agar ia tak lagi bisa menghindar untuk menikahi ku,' batin Karen sambil memicingkan matanya ke arah Irgi.

__ADS_1


bersambung dulu gengs.Terima kasih.


 


__ADS_2