The Twins CEO

The Twins CEO
Keputusan Irgi


__ADS_3

"Iya Dinda, ini mas Irgi," balas Irgi sambil menggenggam tangan Dinda yang menyebutnya di dalam mimpi.


"Kamu harus kuat Dinda, bertahanlah," ucap Irgi sambil menggenggam erat tangan Dinda.


Tapi Dinda tak membalas genggaman tangan itu.


Dinda masih berada di alam bawah sadarnya, dengan sejumlah alat medis yang terpasang di seluruh tubuhnya.


Nessa menghampirinya Irgi yang sedang duduk di samping Dinda 


"Gi, karena hanya satu orang boleh berjaga di sini, aku sebaiknya pamit ya," bisik Nessa.


Ehm, Irgi menganggukan kepalanya.


"Kalau begitu aku pergidulu Gi, jika ada perkembangan jangan lupa hubungi aku," ucap Nessa.


"Iya Ness."


***


Dari siang hingga malam Irgi terus berjaga, keadaan Dinda pun di pantau dua puluh empat jam, setiap satu jam sekali petugas kesehatan akan melakukan pengecekan secara berkala.


Setelah melewati satu malam di ruang ICU Dinda kembali sadar.


Dinda membuka matanya dan mendapati Irgi yang tersenyum ke arahnya.


"Mas Irgi," lirih Dinda.


"Dinda, kamu sudah bangun?" tanya Irgi.


Dinda menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


"Mas Irgi, Dinda dimana?" tanya Dinda ketika ia melihat sekelilingnya.


"Kamu ada di ruang ICU, kamu sudah tak sadarkan diri semalaman."


Dinda menutup matanya sambil meringis karena merasakan sakit pada bagian perutnya dan bagian dadanya.


"Kenapa Dinda, kamu merasa sakit ya?" tanya Irgi ketika Dinda meneteskan air matanya menahan rasa sakit.


"Dinda gak kuat rasanya Mas, sakit sekali," ucap Lirih Dinda.


"Iya rasanya memang sakit, karena itulah kamu harus mau menerima donor dari Nathan, mungkin hanya itu cara agar kamu bisa bertahan," ucap Irgi lirih. 


Ia begitu tak tega melihat kondisi Dinda.Irgi meneteskan air mata melihat Dinda yang semakin kurus dan pucat.


"Kamu harus sembuh Dinda, mas Irgi gak mau liat kamu menderita seperti ini," tutur Irgi sambil menggenggam tangan Dinda kemudian menciumnya.


Dinda mengerjap-ngerjapkan matanya yang terasa berat untuk dibuka.


Akh sakit sekali ringis Dinda sambil meneteskan air matanya.


"Bertahanlah Dinda, kamu harus bisa sehat kembali demi mas Irgi, mas Irgi cinta sama kamu, kita bisa hidup bersama setelah kamu sembuh," tutur Irgi.


Irgi  langsung memeluk Dinda.


Seketika bola mata Dinda terbuka lebar,  tubuh Dinda berguncang karena menahan tangisannya. Dinda tak percaya Irgi mengatakan hal itu.


"Mas Irgi," lirih Dinda kembali. 


"Iya Dinda, kamu harus sembuh,agar kita bisa hidup bersama, kamu mau kan menikah dengan mas Irgi?" tanya Irgi sambil menatap bola mata  Dinda yang berembun.


Hiks hiks Dinda kembali menangis memeluk Irgi.Ia tak bisa berkata apa-apa lagi.

__ADS_1


"Dinda, kamu mau kan menikah dengan mas Irgi?" tanya Irgi kembali.


Dinda semakin menangis haru mendengar pertanyaan dari Irgi itu,satu sisi ia merasa tak pantas untuk Irgi, di sisi lainnya ia memang mendambakan Dinda memang mendambakan bisa hidup bersama Irgi.


Untuk beberapa saat Irgi tak mendapatkan jawaban dari Dinda, tubuh benda yang berada dalam pelukannya masih berguncang menahan tangisan.


"Dinda kamu mau kan menikah dengan mas Irgi?" tanya Irgi untuk ketiga kalinya.


Kali ini Dinda benar-benar tak sanggup menolak lagi.


"Iya Mas Dinda mau,"balasnya sambil menangis memeluk Irgi semakin erat..


"Kalau begitu kamu harus sembuh Dinda, kamu harus mau melakukan transplantasi tulang belakang. Kamu nggak boleh mengecewakan Mas Irgi, kamu nggak boleh bikin mas Irgi sedih," tutur Irgi yang coba membujuk Dinda.


"Iya mas Dinda mau," ucap Dinda lirih.


Irgi tersenyum seraya melepaskan pelukannya.


"Syukurlah kalau begitu, secapat kita lakukan operasi itu," ucap Irgi sambil mengusap kepala Dinda.


Dinda tersenyum menatap Irgi dengan tatapan berbinar, seolah hidupnya kembali bergairah.


Hm, terdengar suara orang berdehem.


Keduanya pun menoleh dan segera menghapus air matanya.


"Pasien sudah sadar ?" tanya seorang suster yang bertugas memeriksa Dinda.


"Iya baru saja siuman suster," jawab Irgi.


Suster pun memeriksa keadaan Dinda.Setelah di periksa oleh suster, beberapa saat kemudian dokter kembali memeriksa keadaan Dinda.


Karena keadaan Dinda mulai membaik, Dinda pun diperbolehkan untuk kembali ke ruang perawatan.


Nessa dan Nathan datang mengunjungi ruang perawatan Dinda.


"Baiklah sebentar lagi aku akan kesana, Aku titip Dinda ya," ucap Irgi sambil berlalu begitu saja.


***


Irgi mendatangi ruang kerja Leon.


"Ada apa daddy memanggil ku?" tanya Irgi, sebenarnya ia sudah tahu apa yang akan bicarakan Leon kepadanya.


"Duduklah dulu," ucap Leon.


 Irgi duduk di hadapan dedinya.


"Daddy sudah mendengar dari T


tuan Charles sendiri, jika kamu memutuskan pertunangan kamu dan Karen secara sepihak. Apa itu benar?" tanya Leon sambil menatap lekat  ke arah putranya.


Irgi diam beberapa saat, kemudian menganggukan kepalanya.


"Iya benar Daddy," jawab Irgi.


"Tapi kenapa Irgi, Tuan Charles melapor pada Daddy, jika saat ini Karen begitu tertekan atas tindakan kamu itu, sebenarnya Apa kesalahan Karen?" tanya Leon lagi.


"Karen tidak salah apa-apa," jawab Irgi.


"Lalu kenapa kamu memutuskan pertunangan secara sepihak, apa ada wanita lain?" tanya Leon sambil mendelik.


Irgi  menganggukkan kepalanya lirih.

__ADS_1


Leon menghempaskan nafas panjang kembali.


"Siapa Irgi?  Kenapa kamu tidak bilang pada Daddy, jika kamu punya wanita lain, Bukankah sebelumnya kamu setuju saja terhadap perjodohan itu?!"


Leon menegakkan sedikit posisi tubuhnya dari semula. Matanya menatap lekat ke arah putranya.


"Siapa Irgi? tanya Leon kembali mengulang pertanyaannya, karena Irgi terlihat ragu untuk menjawab.


Irgi diam untuk beberapa saat, kemudian perlahan ia memberanikan diri untuk menatap menikmata Leon.


"Dinda, Daddy,"ucap Irgi lirih. Namun, masih terdengar di telinga Leon.


Bukan main kagetnya Leon mendengar ucapan dari Irgi.


"Dinda?! Dinda adik kamu?! tanya Leon memperjelas dengan bola mata yang membulat seperti hendak keluar.


Irgi  menunduk kan kepalanya sambil mengangguk lirih.


"Kamu bicara apa Irgi?! bukankah kamu dan Dinda itu bersaudara?!" tanya Leon membentak.


Irgi kembali menundukkan wajahnya.


"Maaf Daddy, dalam Islam seorang pria tak boleh menikahi wanita yang menjadi mahramnya. Saya dan Dinda bukan mahram, karena kami tak pernah menyusu pada ibu kami," ucap Irgi Secara singkat dan jelas.


Hal itu membuat semakin Leon  kaget.


"Menikah? maksud kamu,kamu akan menikahi Dinda?" tanya Leon begitu syok.


"Iya daddy," jawab Irgi ala kadarnya.


Gemuruh terasa di dada Irgi ketika mengatakan hal begitu pun dengan Leon.


Berkali-kali Leon menghempaskan nafas panjang sebelum kembali melanjutkan pertanyaannya.


"Irgi kamu sadar apa yang kamu katakan itu? Bagaimana bisa…." saking rumitnya, Leon sampai tak sanggup melanjutkan kata-katanya.


"Sadar Daddy, sadar dengan sepenuhnya," ucap Irgi sambil menahan air matanya.


"Hah?!" Leon begitu kaget.


 Lagi-lagi  Leon seperti tak percaya dengan ucapan putranya itu.


Berkali-kali Leon menghempaskan nafas dengan kasarnya, agar ia tidak tersulut emosi. Menurutnya ini adalah pertama kali Irgi melakukan sebuah perbuatan yang membuatnya resah.


"Tidak Irgi! Daddy tak bisa merestuinya," ucap Leon sambil menghela nafas panjang.


"Tapi kenapa daddy?" tanya Irgi menyela.


"Harusnya daddy yang tanya sama kamu Irgi! Kenapa kamu memutuskan pertunangan kamu dengan Karen dan memilih menikahi Dinda?!" tanya Leon masih dengan tatapan tajam ke arah Irgi. .


Irgi diam beberapa saat.


"Karena saya mencintainya daddy," ucap Irgi berbohong.


"Tapi Dinda itu sedang sakit Irgi, apa kamu gak memikirkan keadaannya?" tanya Leon sambil menghela nafas panjang.


"Karena itulah, saya ingin Dinda merasakan kebahagiaan, kita tak pernah tahu umur seseorang. Saya hanya ingin bahagia dan membahagiakan Dinda," jawab Irgi.


Lagi dan lagi Leon harus menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Apa kamu yakin Irgi dengan keputusan kamu itu?" tanya Leon sambil memicingkan matanya.


"Yakin Daddy," jawab Irgi lirih. Namun terdengar tegas.

__ADS_1


Bola mata Leon kembali membulat mendengar pertanyaan Irgi tersebut.


Bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya seikhlasnya saja terima kasih.


__ADS_2