Tiba-tiba Jadi Calon Istri Orang

Tiba-tiba Jadi Calon Istri Orang
Bab 37


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


Ibu Lena dan Sira pun telah bersiap, mereka sudah rapi dengan pakaian yang memiliki warna yang sama.


Berbagai macam kue pun telah tersaji di atas meja ruang tamu, ada lemon cake dan tiramisu kesukaan calon besannya, juga ada beberapa jenis kue tradisional yang ibu Lena buat.


Di ruang makan pun juga sudah tertata beberapa jenis sayur dan lauk untuk mereka makan nanti, bahkan buah pun tak ketinggalan meskipun hanya jeruk juga pisang.


Saat Sira dan ibu Lena duduk di kursi ruang tv sambil sedikit berbincang, tak berapa lama ada yang mengetuk pintu rumah mereka.


Tok


Tok


Tok


"Biar Sira aja Bu, mungkin itu Davin dan keluarganya." kata Sira saat sang ibu hendak beranjak dari duduknya.


"Em bagaimana penampilan Sira Bu?" tanyanya sebelum berjalan ke depan.


"Anak ibu cantik sekali." puji ibu Lena.


"Ibu juga sangat cantik." puji balik Sira. "Sira ke depan dulu Bu." sambungnya.


Sebenarnya pernah ada keraguan dari ibu Lena saat tau Davin dan Sira mempunyai hubungan dekat, ibu Lena takut putrinya itu akan kecewa sehingga bisa meninggalkan luka baru yang begitu mendalam.akrran perbedaan status yang mereka miliki.


Tapi dengan diterimanya Sira oleh orangtua Davin, apalagi perlakuan Davin yang begitu baik membuat keraguan di hati ibu Lena perlahan mulai sirna.


Sebagai seorang ibu dia hanya ingin yang terbaik untuk putrinya.


Cklek


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." sahut Sira. "Ma, Pa, silahkan masuk." kata Sira.


"Aku enggak nih?" goda Davin.


"Ck, kamu." decak Sira.


"Davin." tegur mama Dinar yang membuat Davin berhenti untuk menggoda pujaan hatinya.


"Silahkan duduk Ma, Pa, Dav ... Sira kedalam sebentar untuk panggil Ibu." kata Sira dengan begitu sopan.


Sira pergi ke ruang tv, namun ternyata ibunya sudah tak ada di sana, akhirnya memilih untuk mencari sang ibu di dapur karena sebelumnya Sira cari di kamar pun tak ada.

__ADS_1


"Ibu ngapain?" tanya Sira saat sang ibu sedang menyusun gelas di atas nampan.


"Itu yang datang Nak Davin sama keluarganya kan?" tanya ibu Lena yang di angguki oleh Sira. "Nah ini Ibu mau bikin minum." kata ibu Lena yang kembali meraih gelas dari rak.


"Ya ampun Ibu.l ... gak usah, nanti Sira aja yang bikin." kata Sira dengan mengambil alih gelas yang ada di tangan ibunya. "Lebih baik sekarang Ibu ikut Sira ke depan buat ketemu mereka." sambungnya lagi.


Asira langsung saja meraih tangan ibu Lena dan menggandengnya. Mereka berdua berjalan menuju ke arah dimana ruang tamu berada.


"Ma, Pa, ini Ibunya Sira." kata Sira pada orangtua Davin.


"Selamat malam, maaf lama menunggu." kata ibu Lena yang kemudian mengulurkan tangannya untuk menyalami mama Dinar, papa Diki juga Davin. "Ya beginilah keadaan kediaman Sira." kata ibu Lena lagi.


"Rumahnya terasa nyaman kok jeng em ... " sahut mama Dinar dengan kalimat yang menggantung.


"Lena ... nama saya Lena." sahut ibu Lena.


"Ah iya jeng Lena." kata mama Dinar. "Saya Dinar dan itu suami saya namanya Diki." kata mama Dinar memperkenalkan dirinya juga sang suami. "Tapi ngomong-ngomong ayahnya Sira mana ya jeng?" tanya mama Dinar yang membuat wajah ibu Lena juga Sira langsung berubah sedikit muram.


"Mama." lirih Davin menegur mamanya.


"Apa sih Dav, mama cuma nanya kok ... memangnya gak boleh." sahut mama Dinar.


Slaah Davin juga sih yang tak mengatakan kepada kedua orangtuanya jika Sira hanya tinggal berdua dengan sang ibu tanpa sosok seorang ayah selama ini.


"Oh itu ayahnya Sira gak ada jeng." sahut ibu Lena.


"Bukan meninggal, tapi lebih tepatnya entah pergi kemana ... dia meninggalkan kami dari Sira masih kecil." kata ibu Lena sambil menundukkan kepalanya, dia rasa dirinya perlu mengatakan hal ini dari pada besannya itu tau dari orang lain. Perkataan ibu Lena itu membuat mama Dinar dan papa Diki sontak saja langsung saling pandang.


"Sekali lagi maafkan saya jeng, saya benar-benar gak tau dan gak bermaksud untuk membuka luka lama jeng Lena dan Sira." ucap mama Dinar yang saat tangannya sudah memegang tangan ibu Lena untuk memberikan kekuatan.


"Em maaf Sira permisi ke belakang sebentar." kata Sira.


Sira ke belakang untuk membuatkan teh hangat untuk mereka semua, namun Sira pun sempat menangis di dapur ... bukan menginat tentang ayahnya, melainkan mengingat kisah sedihnya bersama sang ibu.


❤️


"Begini Bu, maksud kedatangan kami ke sini ingin melamar putri ibu untuk menjadi istri putra kedua kami ... Davin." kata papa Diki mengatakan maksud kedatangannya setelah Sira pun duduk di sana.


"Kalau saya sebagai Ibu ... sebagai orangtua terserah dengan anaknya saja Pak, karena dialah yang akan menjalaninya." kata ibu Lena.


"Bagaimana Sira ... apakah kamu mau menerima lamaran dari keluarga kami?" tanya papa Diki dengan menatap ke arah Sira.


"Iya Pa ... insyaallah." jawab Sira dengan mantap.


"Alhamdulillah." ucap mereka semua.

__ADS_1


Mereka pun kembali berbincang untuk membahas pertunangan keduanya. Sehingga sudah di putuskan jika mereka berdua akan bertunangan hari sabtu depan.


Keluarga Ardiansyah meminta agar pertunangan anak-anak mereka di lakukan di ballroom hotel dengan meriah sama seperti dulu saat Damar dan Cika bertunangan, namun dari pihak Sira menolaknya secara halus.


"Apa Sira boleh minta acara pertunangannya di adakan di rumah ini dan itu pun dengan sederhana saja?" tanya Sira.


"Iya Pak, Bu ... saya juga inginnya pertunangan mereka di adakan di rumah ini, kalau pesta pernikahan mereka kelak, tak apa kalau akan di adakan di hotel ... terserah Bapak dan Ibu." timpal ibu Lena.


"Bagaimana Dav?" tanya papa Diki pada sang putra.


"Kalau Davin terserah sama Siranya saja Pa." jawab Davin.


"Baiklah kalau begitu sudah di putuskan kalau acara pertunangan akan di adakan di rumah ini." putus papa Diki.


"Tapi ijinkan kami untuk membantu semuanya jeng." sahut mama Dinar.


"Kami ... " kata ibu Lena yang ingin menolak keinginan mamanya Davin.


"Saya mohon dan saya memaksa." kata mama Dinar yang seolah tak mau terbantahkan.


"Baiklah." kata ibu Lena pada akhirnya.


Pembicaraan mereka pun terhenti karena mereka semua beralih ke ruang makan untuk makan malam.


"Saya itu pernah ngomong loh jeng sama Davin ...s aya minta di ketemuin sama jeng Lena." kata mama Dinar. "Mau minta ajarin bikin kue." sambungnya lagi. "Bolehkan jeng?" tanyanya.


"Tentu saja kapan saja Ibu mau belajar, dengan senang hati saya ajari, tapi sebenarnya saya ini tak terlalu pandai loh Bu." kata ibu Lena.


"Jeng Lena ini terlalu merendah." sahut mama Dinar. "Kue buatan Ibu Lena itu rasanya enak, saya dan suami sangat suka." sambungnya.


"Syukurlah kalau Bapak dan Ibu suka." kata ibu Lena.


"Khem ... mengingat hari sudah cukup larut, kamu sekeluarga pamit undur diri dan terimakasih atas jamuanya Bu, Sira." kata papa Diki.


"Tunggu sebentar Pak, Bu." kata ibu Lena yang langsung memberikan kode pada Sira.


Sira yang paham pun langsung bergegas pergi ke dalam untuk mengambil beberapa bingkisan.


"Pak, Bu ... mohon di terima." kata ibu Lena yang menyerahkannya pada mama Dinar.


"Apa ini Bu? Kok malah jadi ngerepotin." kata mama Dinar.


"Hanya kue, untuk Ibu sekeluarga." sahut ibu Lena.


"Terimakasih ya jeng." ucap mama Dinar.

__ADS_1


Semua urusan sudah beres, mereka juga sudah puas berbincang, malam pun sudah semakin larut ... akhirnya Davin beserta keluarganya pun undur diri.


__ADS_2