
❤️ Happy Reading ❤️
Empat hari Sira di rawat di rumah sakit, hingga hari ini dirinya sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah.
Tentu saja Sira merasa begitu sangat bahagia, apalagi dirinya juga tak ingin merepotkan orang lebih lama lagi.
"Heh senengnya bisa kembali lagi kerumah." kata Sira dengan senyum cerahnya ketika baru saja melangkah masuk. "Badan aku sudah pegel-pegel semua...cuma rebahan di rumah sakit." sambungnya lagi dengan sedikit mengeluh.
Karena kemarin selama di rawat tangan Sira tertancap jarum infus jadi gadis itu menjadi tak leluasa untuk bergerak.
"Pulang bukan berarti kamu bisa langsung bebas ngapa-ngapain semaunya." kata Davin dengan tegas. "Kamu harus banyak istirahat." sambungnya lagi.
"Iya." sahut Sira dengan wajah yang cemberut, tapi sedetik kemudian dia kembali mengubah ekspresi wajahnya seperti semula. "Khem...karena aku sudah pulang dari rumah sakit dan juga kondisi aku sudah lebih baik, jadi ibu besok sudah bisa untuk berjualan kembali." kata Sira sambil memegang tangan sang ibu yang duduk di sampingnya. "Dan kamu juga besok harus berangkat ke kantor." kata Sira lagi yang kini menatap ke arah Davin.
"Ak..."
''Apa?" potong Sira. "Kamu itu sudah beberapa hari gak masuk kerja...kasihan bu' Tyas sama pak Riko kalau harus terus menghandle perusahaan tanpa kamu." cerocosnya yang membuat Davin hanya bisa diam, mau membantah pun rasanya juga percuma jika kekasihnya sudah dalam mode tegas seperti itu.
"Iya." sahut Davin dengan pasrah.
"Sama satu lagi." kata Sira. "Kamu pulang sekarang dan beri dukungan sama kakak Damar, kasihan dia...dia lebih membutuhkan kamu dibandingkan aku." sambungnya.
Davin tak menjawab dengan kata-kata, makin pemuda itu hanya mendesahkan nafasnya saja.
Dia cukup tau jika yang di katakan oleh Sira itu memang benar adanya. Saat ini memang masa-masa terburuk bagi sang kakak dan saat ini kakaknya itu sedang membutuhkan dukungan...terutama dari keluarga.
"Aku pulang ya..." pamit Davin pada akhirnya.
"Hem, hati-hati di jalan ya..." sahut Sira.
__ADS_1
Davin langsung pergi dari sana untuk pulang ke rumahnya.
❤️
Davin yang baru saja masuk dan sama sekali tak mendapatkan keberadaan kedua orangtuanya pun lebih memilih untuk bertanya pada art.
"Papa, mama mana bik?" tanya Davin.
"Ada di kamar tuan muda Damar, tuan muda." jawabnya.
"Oh terimakasih ya bik." ucap Davin yang langsung menaiki anak tangga dengan setang berlari.
Sejak kejadian di rumah sakit tempo lalu, Davin memang sama sekali belum pernah bertemu kembali dengan Damar.
Davin yang selalu stay di rumah sakit, sedangkan Damar di rumah...ya gak ketemu.
Pertama yang di tuju Davin adalah kamar sang kakak, dia ingin mengetahui bagaimana kondisi kakaknya...karena beberapa hari yang lalu mama Dinar sempat memberitahu jika kondisi kesehatan Damar yang drop.
"Gimana kabarnya kak? Kata mama kakak sakit." kata Davin berusaha bersikap biasa saja, karena dia pun memaklumi apa yang di lakukan kakaknya tempo hari, dia pun pasti akan menunjukan reaksi seperti itu jika apa yang di alami Cika terjadi pada Sira.
Bukannya menjawab, tapi sang kakak justru malah berdiri dan langsung memeluk dirinya.
"Dav, maafin kakak." ucap Damar yang suara terdengar penuh dengan penyesalan.
"Aku sudah memaafkan kakak, aku bisa mengerti apa yang kakak rasakan." kata Davin membalas pelukan Damar.
Mama Dinar dan papa Diki yang melihat kedua putranya tampak akur seperti itu merasa bahagia, bahkan sebuah senyuman tersungging di bibir keduanya.
"Bagaimana keadaan Sira?" tanya papa Diki saat kedua putranya sudah duduk.
__ADS_1
"Keadaan Sira sudah baik pa, dia juga sudah pulang." jawab Davin.
"Oh pantes kamu sudah pulang." sindir mama Dinar.
"Ya habis gimana ma...namanya juga belahan hati." sahut Davin dengan lebaynya yang membuat semuanya tersenyum.
"Cih." mama Dinar hanya bisa mencibir kenarsisan putranya.
"Khem...ma, pa, besok siang pertama perceraian aku sama Cika." kata Damar memberi tahu kedua orangtuanya. "Mediasi." sambungnya. "Tapi aku gak akan datang." kata Damar kembali.
"Kenapa?" tanya mama Dinar.
"Karena memang sudah tak ada yang bisa di pertahankan dari pernikahan kami ma." sahut Damar. "Semuanya sudah selesai." imbuhnya yang membuat mama Dinar juga papa Diki dan Davin saling pandang.
"Tuhan tau yang terbaik untuk kakak dan pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik lagi." kata Davin. "Ah Davin mau ke kamar Davin dulu, mau istirahat." kata Davin yang langsung berdiri dari duduknya, dia tak ingin melihat kakaknya melow seperti itu.
"Dam, kamu jangan mikir yang terlalu berlebihan." kata mama Dinar. "Mama sama papa gak ingin kamu ngedrop lagi." imbuhnya.
"Yuk ma, kita keluar...biarkan Damar istirahat." kata papa Diki yang kemudian keluar pergi bersama sang istri meninggalkan Damar sendiri.
❤️
"Aku gak tega lihat kak Damar." kata Davin berbicara pada Sira sesaat setelah masuk kedalam kamar.
"Mau bagaimana lagi, itukan sudah keputusan kak." sahut Sira di sebrang sana. "Yang penting terus kasih dukungan, kasih semangat ke kak Damar." sambungnya.
"Hem." sahut Davin.
"Ya udah lebih baik sekarang kamu istirahat, gak usah mikir yang macem-macem...kamu harus tetap sehat biar bisa memberi support pada kakak." kata Sira.
__ADS_1
"Kamu juga istirahat." kata Davin.
Begitu sambungan terputus, Davin pun memilih untuk merebahkan tubuhnya. Dia butuh waktu untuk istirahat, setelah beberapa hari kemarin tak bisa tidur dengan nyenyak.