
❤️ Happy Reading ❤️
Tak terasa sudah tiga bulan berlalu, kini hari pernikahan antara Davin dan Sira pun sudah semakin dekat.
Hubungan mereka masih sama, sembunyi-sembunyi jika di perusahaan.
"Gak capek apa main kucing-kucingan terus kayak gini?" tanya Davin saat Sira baru saja masuk ke dalam mobil.
"Ya aku gak mau aja di kira merayu atasan mereka, lagian aku juga mau bekerja dengan tenang dan tanpa adanya di istimewakan karena mereka tau aku kekasih bos mereka, karena bagiku itu akan membuat tak nyaman." sahut Sira. "Biar mereka tau setelah kita menikah saja." imbuhnya lagi sambil memakai sabuk pengaman.
"Huft terserah kamulah." kata Davin yang kemudian mulai menginjak pedal gasnya.
Kadang Davin itu merasa sangat aneh sama kekasihnya ini, di saat wanita lain berlomba-lomba menunjukan kedekatan mereka dengan Davin...eh ini kekasihnya sendiri malah maunya di tutup-tutupi.
"O iya mama sudah hubungi kamu belum?" tanya Davin yang teringat jika siang tadi mamanya menelpon dirinya.
"Sudah tadi pas jam makan siang." jawab Sira.
Meraka berdua memang tak makan siang hari ini, sesuai permintaan Sira yang mengatakan jika ada kalanya ingin bereng sama kedua sahabatnya.
"Jadi?" tanya Davin dengan melihat Sira sekilas, sebab dirinya harus tetap fokus dalam mengemudi agar tidak terjadi sesuatu yang tak di inginkan.
"Jadi apanya?" sahut Sira. "Ya harus fittinglah...gitu aja kok pakek nanya." sahut Sira. "Tapi aku bilang ke mama kalau fitingnya sore habis kita pulang kerja dan untuk photo prewednya aku minta ke mama untuk ambil waktu yang akhir pekan aja biar gak ganggu waktu kerja kita." katanya memberi tahu apa yang di katakan pada calon mertuanya tadi.
"Aku setuju, karena aku juga akhir-akhir ini lagi banyak kerjaan." sahut Davin. "Em mau mampir beli makanan dulu gak?" tanya Davin.
"Gak usah, langsung pulang aja." jawab Sira yang merasa tubuhnya sudah sangat gerah dan lengket.
Perjalanan mereka di lanjutkan dengan obrolan-obrolan ringan juga kadang di selingi dengan candaan dari keduanya hingga tak terasa mobil milik Davin sudah sampai di halaman rumah Sira.
''Aku langsung pulang ya." kata Davin. "Salam sama ibu." sambungnya.
__ADS_1
"Hem, hati-hati...jangan ngebut-ngebut." tutur Sira.
"Iya sayang." sahut Davin.
Davin langsung melajukan kendaraannya kembali setelah Sira sampai di depan pintu rumahnya.
❤️
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, loh Davin mana Ra?" tanya ibu Lena begitu putrinya masuk dan mencium tangannya.
"Davin langsung pulang Bu." jawab Sira. "Sira langsung ke kamar ya Bu...mau mandi, gerah." sambungnya.
"Ya udah sana, kamu bersihkan tubuh kamu dan istirahat." sahut ibu Lena.
Setiap kali melihat wajah sang putri yang terlihat begitu lelah, perasan sedih bercampur rasa bersalah langsung menyeruak di dalam hatinya.
Sedangkan Davin pun setelah sampai rumah langsung masuk kedalam kamar dan mandi, pemuda itu baru turun kembali saat jam makan malam telah tiba.
"Kak, gak pengen buat cari pacar gitu?" tanya Davin saat mereka semua tengah berkumpul di teras belakang sambil menikmati angin malam seusai makan.
"Kamu ini gak ada angin, gak ada hujan kok tiba-tiba nanya gitu." sahut Damar.
"Ya akukan cuma gak mau kalau kakak itu terus terpuruk dengan kenangan masa lalu." ujar Davin. "Katanya nih ya kak ... jika seseorang di sakiti oleh orang yang di cintainya, maka obatnya cuma satu." sambungnya.
"Apa?" tanya Damar dengan penasaran, bahkan mama Dinar dan papa Diki pun melihat ke arah Davin karena ingin tau juga jawaban dari putra bungsunya itu.
"Cari cinta yang baru." jawab Davin.
"Sok tau kamu, memangnya cari orang yang kita cintai itu gampang ... udah kayak beli permen aja." kata Damar.
__ADS_1
"Memang gak gampang dan aku juga gak bilang gampang kakakku yang tampan." sahut Davin. "Tapi paling tidak kakak itu coba untuk keluar, terus membuka hati." sambungnya. "Nongkrong kek cafe atau atau taman gitu sekali-sekali sama temen-temen kakak ... kan kakak single, kalau cuma diam di rumah sama di perusahaan aja, gimana mau dapat jodohnya." imbuh Davin dalam memberi masukan untuk kakaknya itu.
"Mama rasa bener tuh yang di katakan Davin Dam, mama setuju." sahut mama Dinar.
Semenjak perceraiannya dengan Cika, kehidupan Damar setiap harinya memang hanya berputar di rumah sama perusahan aja, sama sekali tak pernah keluar walau hanya sekedar nongkrong sama teman-temannya.
"Dav, kamu gak punya teman gitu buat di kenalin sama kakak kamu, atau teman Sira gitu ... kali aja ada yang nyantol di hati." kata mama Dinar lagi yang kali ini ditujukan pada putra keduanya.
"Nyantol...baju kali ma." ujar Davin.
"Ish kamu, ada gak?" tanya mana Dinar lagi.
Mama Dinar sangat berharap supaya putra pertamanya itu bisa membuka hati kembali, menjalin hubungan yang baru, agar tak terus merasa sedih karena terbayang-bayang akan pernikahannya yang pernah kandas.
Sebenarnya bukan hal sulit untuk seorang Damar mencari kekasih kalau dilihat dari segi keluarga juga materi, karena pasti di luaran sana banyak sekali wanita yang mengejar-ngejar dirinya bahkan rela melempar tubuhnya ke ranjang Damar dengan senang hati, tapi untuk mencari yang benar-benar pas di hati itu yang terasa sangat sulit.
"Gak ada ma." jawab Davin. "Mama tau sendiri teman cewek yang agak deket sama aku cuma Tyas, sedangkan Sira juga tak memiliki banyak sahabat, ada satu sahabatnya yang deket namun sudah punya kekasih." sambungnya lagi.
"Ma, biarkan Damar menentukan pilihannya sendiri." kata papa Diki yang mulai angkat bicara. "Kalau sudah saatnya ... tak perlu di cari juga bakal ketemu sendiri." imbuhnya lagi.
Mendengar kata-kata sang papa jadi mengingatkan Davin saat pertama kali bertemu dengan Sira yang langsung melemparkan kesepakatan pada gadis itu dengan sedikit memaksa.
Tapi Davin cukup bersyukur, karena kesepakatan gila itu dirinya bisa mendapatkan jodoh seperti Sira.
"Persiapan pernikahan kamu gimana Dav?" tanya papa Diki.
"Tanya ke mama dong pa, semuanyakan yang urus mama." sahut Davin yang melempar pandangan ke arah mama Dinar.
"Sudah lima puluh persen pa." kata mama Dinar. "Konsep pernikahan udah dipilih, mau undangan yang seperti apa pun sudah di tentukan tinggal di sebar, untuk pemilihan makanan pun sudah oke, sovenir ... sudah, seragam keluarga pun juga sudah di pilih, tinggal Davin sama Sira buat fitting pakaian serta melakukan sesi prewedding aja." jelasnya.
Mereka berempat pun terus mengobrol dari yang serius hingga ke santai hingga lumayan malam sebelum semuanya kembali ke kamar masing-masing.
__ADS_1