
❤️ Happy Reading ❤️
"Ma, jangan begitu dong ma..." kata papa Diki yang menghampiri istrinya yang sudah duduk di tepi ranjang mereka, tapi sebelum itu pap Diki tak lupa untuk menutup pintu dengan rapat-rapat bahkan menguncinya supaya tak ada yang mendengar pembicaraan mereka berdua.
"Anak sama menantu kami itu dulu yang mulai." sahut mama Dinar yang perasannya masih saja kesal mengingat apa yang dikatakan anak dan menantunya di ruang makan.
"Anak sama menantu kita ma, bukan hanya anak dan menantu aku." ralat papa Diki.
"Terserahlah." ujar mama Dinar. "Aku gak suka pa sama omongan mereka berdua, aku itu sebagai ibu gak pernah ngajarin anak-anak aku untuk merendahkan orang lain berdasarkan harta atau hanya status sosial." sambungnya. "Sira itu calon menantu kita pa, cepat atau lambat akan masuk dalam keluarga kita...kalau kita aja gak bisa menghargai, menghormati, apalagi orang lain." imbuhnya. "Belum lagi kalau Davin sampai dengar...apa gak bakal jadi masalah yang fatal nantinya."
Papa Diki yang sedari tadi hanya diam sambil mendengar apa yang sang istri bicarakan pun mulai angkat bicara.
"Papa ngerti ma...tapi berikan pengertian dengan pelan pada mereka berdua, takutnya nanti malah mereka salah paham dan menyangka kalau kita pilih kasih, terutama mama." kata papa Diki. "Sampai di sini paham mama?" tanyanya.
"Iya pa, mama tau mama salah dan mama usahakan untuk tak mengulanginya lagi." kata mama Dinar setelah menganggukkan kepalanya.
"Itu baru istrinya papa." puji papa Diki yang langsung merentangkan tangannya.
Melihat hal itu, tanpa menunggu lama...mama Dinar langsung menghambur dan masuk kedalam pelukan suaminya...ayah dari kedua anaknya.
Dikamar lain ada Damar yang juga bersama Cika berada di dalam kamar mereka.
"Lihat ma...kamu dengar sendiri kan tadi, kamu lihat mama kamu lebih membela wanita kampung itu di bandingkan aku yang notabene adalah menantunya sendiri, menantu yang sudah resmi." kata Cika sambil berjalan bolak-balik karena kesal, sedangkan Damar sendiri lebih memilih duduk di salah satu sofa yang ada di kamar tersebut. "Ini aja belum resmi jadi istrinya Davin, gimana kalau sudah coba...apa gak bisa besar kepala tuh wanita..." sambungnya lagi dengan penuh kalimat provokasi. "Apa sih istimewanya wanita itu sehingga mama dan papa begitu membelanya." sambung Cika lagi.
__ADS_1
"Sudah jangan marah-marah sayang, kita lihat saja kedepannya kayak apa." sahut Damar. "Lagian juga biasa sih kau barang baru...semua pasti masih suka, tapi kita lihat beberapa pekan kedepan, pasti sudah tak seperti ini." kata Damar lagi. "Dari pada kamu yang marah-marah tak jelas, gimana kalau kita shopping aja..." usul Damar yang sudah sangat hafal dengan tabiat Cika.
"Oke, aku setuju...yuk lah berangkat." kata Cika yang langsung menyambar tas miliknya yang ada di atas nakas.
Mereka berdua akhirnya pergi ke salah satu mall milik Damar untuk sekedar menyenangkan hati Cika.
❤️
Ke esokannya di perusahan pagi-pagi sudah terjadi kehebohan ketika salah satu karyawan tak sengaja melihat cincin yang melingkar manis di jari tangan Davin.
Spekulasi tentang atasnya mereka yang sudah bertunangan pun langsung beredar bebas di perusahaan dengan begitu cepat.
"Tau gak...pak Davin...sudah bertunangan." kata Mona. "Aduh patah hati adek bang..." katanya lagi dengan terlalu mendramatisir karena selain suara yang dibuat menyedihkan, kedua tangannya pun memegang dada bagian kiri.
"Ck, bukan ngarang tapi ini kenyataanya dodol." sahut Mona dengan kesal. "Ada karyawan yang lihat pak Davin memakai sebuah cincin di jari manis tangan kirinya, padahal kemarin-kemarin gak ada." sambungannya lagi.
"Wah jadi penasaran, kira-kira siapa wanita yang beruntung bisa dapetin atasan kita itu " sahut Lina.
Sira yang tak sengaja mendengar pembicaraan mereka berdua pun memilih untuk memulai mengerjakan pekerjaannya dan tak mau ambil pusing.
"Eh Ra, kamu dengar kata duo racun tadi?" tanya Ami yang sudah mengerakkan kursinya ke dekat Sira.
Kursi untuk karyawan di tiap kubikelnya di lengkapi dengan kursi yang bawahnya terdapat roda, jadi bisa di geser-geser.
__ADS_1
"Hem, terus?" tanya Sira yang tak mengalihkan pandangannya dari kertas yang berisi banyak sekali angka yang tepat ada di atas meja.
"Kamu gak ikut penasaran gitu sama ceweknya si bos?" tanya Ami lagi.
"Enggak." jawab Sira dengan singkat dan cepat.
"Ish, kamu ini...gak seru." gerutu Ami.
"Dari pada terus ngerumpi...lebih baik segera kamu kerjakan pekerjaan kamu, biar nanti kamu tak berakhir dengan lebur." sambungnya.
Ck, temennya itu memang tak asik jika di ajak yang namanya ngegosip.
"Eh Sira, jari kamu..." kata Ami ketika matanya tak sengaja melihat sesuatu yang bersinar di jeri sahabatnya itu.
"Apa?" tanya Sira. "Itu...cincin apa Ra? Atau jangan-jangan kamu itu diam-diam tunangan dan gak ngasih tau aku sama Beni." tebak Ami yang tepat sasaran.
"Maaf ya Mi, aku gak bermaksud...kehadirannya begitu cepat." kata Sira dengan salah satu tangannya yang tadinya memegang pulpen, saat ini jadi memegang tangan Ami.
"Tapi kamu tetap punya hutang penjelasan pada aku juga Beni." tekan Ami.
"Huft...iya.'' sahut Sira.
"Oke, kami tunggu...kalau begitu aku kerja dulu, kerjaanku juga lagi numpuk banget ini." sambungannya lagi.
__ADS_1
Sira pun kemudian meraih ponsel miliknya yang masih berada di dalam tas bahwa nanti siang dirinya gak bisa makan siang bersama dengan Davin, karena akan makan siang dengan kedua sahabatnya sambil menjelaskan sesuatu.