
❤️ Happy Reading ❤️
Hari ini adalah hari kedua mereka berdua ada di Bali, tapi justru sehari ini mereka habiskan hanya di dalam kamar saja.
Semua itu karena Sira yang masih begitu sangat merasakan sakit dan nyeri di bagian intinya di bawah sana yang di akibatkan karena pergulatan yang mereka berdua lakukan tadi malam berulang kali.
Seolah tak ada rasa lelah juga tak pernah merasa puas, Davin tak hentinya menghajar Sira padahal wanita itu sudah merengek untuk berhati beberapa kali. Tapi yang namanya juga baru merasakan nikmatnya surga dunia jadi ya tak ada puasnya.
"Apa masih sakit sayang?" tanya Davin yang berjalan menghampiri Sira dengan membawa satu gelas berisi air mineral yang langsung di sodorkan pada sang istri.
"Terimakasih." ucap Sira yang menerima gelas tersebut dan kemudian langsung meneguk isinya hingga separoh. "Sudah tak terlalu sakit kok." kata Sira menjawab pertanyaan Davin tadi.
Suaminya itu benar-benar bertanggung jawab dengan membantunya bergerak, bahkan Davin juga tadi sempat pergi ke apotek untuk membelikannya salep untuk mengobati luka di intinya.
Davin mengambil posisi untuk duduk di samping Sira dan juga membawa tubuh itu kedalam pelukannya.
__ADS_1
Saat ini mereka berdua sedang menonton serial drama yang sebenarnya sangat membosankan untuk Davin, tapi apa mau di kata ... namanya juga cinta jadi apapun akan di turuti demi belah jiwanya itu.
"Em sayang mulai sekarang bisa gak kamu merubah nama panggilannya untukku." kata Davin dengan hati-hati karena takut jika istrinya itu merasa tersinggung. "Gak lugu dong kalau di dengar sama orang.
"Maksudnya?" tanya Sira yang langsung menoleh dengan dengan dahi yang mengerut.
"Iya kitakan ini sudah suami istri jadi tolong kamu kasih aku panggil nama yang pas." jawab Davin. "Bukan hanya Davin saja." katanya lagi. "Rasanya panggilan itu terdengar kurang sopan kalau mengingat status kita saat ini." lanjut Davin yang hanya bisa di ucapkan dalam hati.
Dia tak ingin mengatakannya dengan langsung atau gamblang, karena takut berakibat apa yang baru dia rasakan lenyap begitu saja akibat Sira yang tersinggung dan marah.
Memang tak secara langsung karena masih berlapis baju, tapi taukan Sira kalau gak itu membangkitkan hasratnya kembali.
"Terserah kamu, senyamannya aja." sahut Davin dengan mati-matian berusaha untuk mehanahan hasratnya.
"Bagaimana kalau aku panggil hubby saja." usul Sira. Panggilan itu entah kenapa langsung terlintas begitu saja di otaknya.
__ADS_1
"Hubby ya ... em ... " kata Davin yang seolah sedang berpikir. "Boleh." sambungnya. "Kalau aku akan memanggil kamu dengan ... em my cherry, bagaimana?" tanyanya pada Sira.
"Hem, aku suka." sahut Sira.
Jari-jari lentik Sira yang bermain seenaknya di dada Davin membuat pria itu benar-benar sudah tak tahan untuk menerkam wanitanya.
Tangan Sira langsung di tangkap dengan tangannya.
"My cherry, apa kamu sedang berniat untuk menggodaku, hem?" tanya Davin dengan suaranya yang sudah sedikit berat serta tatapan matanya yang sayu.
"Eh aku gak-- " kata Sira dengan cepat.
"Sudah terlambat my cherry, karena kamu sudah membuat dia bangun dan meronta ingin segera keluar menuju sarangnya." papar Davin yang langsung membuat posisi mereka berubah. Davin yang sudah berada di atas tubuh sang istri dengan mengungkungnya agar tak bisa lari dari jeratannya.
Akhirnya penyatuan itupun kembali terulang dan tak bisa terelakkan lagi dengan Davin yang masih begitu mendominasi permainan mereka. Walaupun sama-sama masih baru, tapi insting pria itu berjalan jauh lebih cepat.
__ADS_1