Tiba-tiba Jadi Calon Istri Orang

Tiba-tiba Jadi Calon Istri Orang
Bab 59


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


Hari ini adalah hari yang paling di tunggu-tunggu, dimana hari ini akan menjadi hari bersejarah untuk Sira juga Davin.


Hari yang begitu sakral dan akan selalu di kenang sepanjang sejarah kehidupan kedua mempelai.


Proses seserahan pun telah di lakukan beberapa hari yang lalu, yang di antarkan oleh papa Diki dan rombongan langsung kekediaman Sira.


Sira dan ibunya juga sudah di jemput dan dibawa ke hotel milik keluarga Ardiansyah dari kemarin sore yang langsung di jemput oleh supir keluarga Ardiansyah atas perintah langsung dari papa Diki.


Pagi ini ibu Lena yang telah selesai makeup di kamarnya, langsung keluar menuju ke kamar sang putri.


Beliau ingin berbincang sebentar dengan putrinya sebelum seluruh tanggungan jawabnya di ambil alih oleh suami putrinya nanti.


Cklek


"Putri ibu cantik sekali." puji ibu Lena yang melihat pantulan wajah Sira dari cermin.


Memang saat ini riasan Sira belum selesai sepenuhnya, masih ada sedikit-sedikit yang perlu di poles.


Mendengar suara sang ibu membuat Sira tersenyum simpul.


"Ibu juga terlihat sangat cantik." puji Sira yang di sambut senyuman oleh ibunya.


Ibu Lena lebih memilih mendudukkan dirinya di tepi ranjang sambil mengamati Sira di rias.


"Semuanya sudah selesai nona, nona terlihat begitu sangat cantik." kata sang mua memberikan pujiannya.


"Terimakasih, ini semua berkat kalian." sahut Sira.


"Memang nina dasarnya sudah cantik, jadi hanya perlu di poles sedikit saja sudah begitu luar biasa." kata mua lagi. "Karena tugas kami sudah selesai ... Kami permisi nona." pamitnya dengan begitu sopan.


"Iya, terimakasih." ucap Sira.


Para mua itupun pergi meninggalkan kamar Sira, tapi sebelum benar-benar keluar mereka pun tak lupa berpamitan pada ibu Lena juga.


❤️

__ADS_1


Sira membalikan tubuhnya, kini wanita yang sebentar lagi menanggalkan gelarnya sebagai seorang gadis itu duduk menghadap sang ibu.


Tapi ternyata tanpa Sira duga, mata ibunya sudah terlihat berkaca-kaca saat ini.


"Ibu." lirih Sira yang kemudian berdiri dari duduknya dan memilih berpindah duduk di samping sang ibu.


Wanita tangguh yang begitu sangat berarti untuknya, wanita yang selama ini menjalankan dua peran sekaligus untuk untuk Sira ... Sebagai ibu juga sebagai ayah, wanita yang jasanya tak mungkin dapat di balas oleh Sira sampai kapanpun dan dengan apapun.


Melihat sang putri yang sudah ada di dekatnya membuat ibu Lena langsung menarik tubuh Sira kedalam pelukan hangatnya.


"Putri ibu sangat cantik, putri ibu juga sudah sangat besar." lirih ibu Lena yang masih memeluk tubuh Sira.


Untung saja semua make up yang di pakai adalah waterproof, jika tidak ... Maka sudah dapat di pastikan wajah mereka yang tadinya terlihat sangat cantik akan berubah menjadi menyeramkan karena lelehan riasan.


"Jadilah istri yang bisa melayani suami ya nak, turuti semua kata-kata suamimu selama berada di jalan yang tak menyimpang, jadilah rumah untuk suami pulang, jadilah sandaran ternyaman untuknya." nasehat ibu Lena begitu melerai pelukannya.


"Iya Bu." sahut Sira. "Maaf jika selama ini Sira sudah banyak bikin salah sama ibu, maaf kalau Sira sudah banyak membuat ibu kecewa dan maaf belum bisa membahagiakan ibu." ucap Sira dengan air mata yang meleleh di pipinya.


"Kami ini ngomong apa, bagi ibu kamu adalah putri yang sempurna." sahut ibu Lena. "Sudah nangisnya, nanti mata kmu jadi bengkak ... Maaf di hari bahagiamu ibu malah membuat kamu sedih." kata ibu Lena dengan mengusap pelan jejak air mata Sira.


Pembicaraan kedua wanita beda generasi itu terhenti, jala mendengar pintu kamar yang telah di ketuk dari luar.


"Biar ibu yang buka pintunya." kata ibu Lena dengan suara yang masih serak.


Cklek


"Assalamualaikum Bu." sapa orang yang berada di luar begitu pintu di buka.


"Waalaikumsalam, ayo masuk ... Kalian berdua pasti mau ketemu sama Sira kan." kata ibu Lena.


"Hehehe ... iya Bu." sahut Ami.


Ya dia orang yang baru saja datang adalah Ami dan juga Beni. Sebagai seorang sahabat, Sira memang meminta kedua orang itu untuk datang dari pagi, bahkan Sira pun memberikan mereka seragam untuk keluarga besar, mengingat Sira dan dan ibunya sama sekali tak memiliki keluarga yang lain.


"Sira ... zayeng!" seru Ami begitu masuk dan melihat Sira yang masih duduk di tepi ranjang.


Ami langsung saja memeluk tubuh Sira ketika jarak mereka berdua sudah dekat.

__ADS_1


"Ra, jangan lupain kami ya nanti kalau kamu sudah jadi istrinya bos." celetuk Ami yang membuat dirinya langsung mendapatkan pukulan di lengannya dari Sira.


"Mana ada seperti itu, kamu ini ..." kata Sira.


"Gimana Ra rasanya mau married? apalagi sama seorang tuan muda." tanya Ami. "Ini aku serius loh nanyanya." sambungannya lagi.


"Em gimana ya Mi, bingung mau jelasinnya." jawab Sira.


"Lah kok gitu." protes Ami.


"Ya habisnya tuh rasanya nano-nano." sahut wanita dengan balutan kebaya putih nan mewah itu.


"Selamat ya Ra, akhirnya sebentar lagi bakal jadi istri orang." ucap Beni sambil mengulurkan tangannya.


"Terimakasih ya Ben, terus kalian kapan?" kata Sira begitu menyambut uluran tangan Beni.


"Lagi proses Ra." kata Ami.


"Sudah on the way nyusul Ra, doakan saja ya." kata Beni.


"Tentu saja, aku selalu berdoa untuk kebahagiaan kalian berdua." kata Sira dengan tulus.


"Kami pun akan selalu mendoakan kebahagiaanmu dan rumah tangga kalian Ra." balas Ami.


Begitulah eratnya persahabatan mereka bertiga yang bahkan sudah seperti layaknya sebuah keluarga.


"Maaf nona muda, nona muda sudah di tunggu di tempat acara." kata salah seorang wanita yang baru saja datang ke kamar Sira.


''Acaranya sudah mulai ya?" tanya Sira.


"Iya nona muda." jawabnya.


Sira pun menghembuskan nafasnya berkali-kali guna menenangkan degup jantungnya berdetak kencang, tiba-tiba dirinya menjadi gugup seketika.


Davin dan rombongan memang sudah datang sejak tadi, bajak mereka pun sudah melakukan beberapa rangkaian acara.


Sira di panggil ke tempat acara, karena acara puncak akan segera di lakukan, yaitu acara ijab kabul yang mana hal ini akan manjadi titik awal betapa beratnya pengorbanan suami terhadap istrinya, karena pada saat kalimat ijab terucap maka saat itulah di mulai perjanjian seorang manusia dihadapan Allah SWT yang di saksikan tak hanya manusia, tapi juga para malaikat sehingga sampai membuat Arsy Allah bergetar.

__ADS_1


__ADS_2