Tiba-tiba Jadi Calon Istri Orang

Tiba-tiba Jadi Calon Istri Orang
Bab 62


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


Perhelatan besar telah di lakukan oleh keluarga salah satu pebisnis paling di segani di negri ini. Acara yang di gelar pun tak main-main ... semuanya di adakan secara megah.


Karena yang datang kebanyakan adalah para pebisnis, pejabat serta artis, maka banyak para pewarta berita yang sudah menunggu di depan lobi hotel untuk merekam siapa saja yang datang untuk di jadikan bahan berita mereka esok hari.


Kenapa menunggu di depan? karena keluarga Ardiansyah sama sekali tak mengijinkan mereka untuk masuk, mereka sebenarnya merasa acara ini tak perlu di publikasikan mengingat mereka bukanlah publik figur, lagian acara ini juga ada yang bersifat privasi sebenarnya.


Tapi mau melarang pun juga tak enak, karena para pencari berita itu juga sedang mencari nafkah untuk keluarganya, alhasil beginilah ... hanya boleh di luar saja.


Sira dan Davin serta keluarga sudah bersiap dari selepas magrib tadi, mengingat acara akan dimulai pada pukul tujuh seperempat.


Kalau untuk para pria sih enak, cuma cukup pakai pakaian, nyisir-nyisir dikit, pakai parfum ... udah, lah untuk para wanita ini yang ribet.


Melihat waktu yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam, membuat mama Dinar dan ibu Lena menghampiri kamar anak mereka.


"Loh jeng." kata mama Dinar yang baru saja keluar dari kamarnya, eh malah berjumpa dengan besannya yang baru juga keluar dari kamar. Kebetulan kamar mama Dinar, ibu Lena juga Damar saling bersebelahan.


"Eh jeng Dinar." sahut ibu Lena. "Mau kemana jeng?" tanya ibu Lena.


"Mau ke kamar Davin sama Sira." sahut mama Dinar yang sudah berjalan menghampiri sang besan.


"Wah sama, saya juga mau kesana." kata ibu Lena.


"Kalau begitu ayo jeng, kita bereng kesananya." ajak mama Dinar.


Kedua orang itu pun langsung berjalan bersama menuju pintu yang paling ujung. Kamar yang paling besar di hotel tersebut dan hanya ada satu ... yaitu kamar yang di peruntukkan khusus untuk pemilik hotel jika beristirahat di sana, kamar pribadi milik Davin yang sekarang juga milik Sira.


Kedua wanita yang bergelar sebagai seorang ibu itu langsung mengetuk pintu kamar begitu sampai.


"Dav, Sira." panggil mama Dinar dari balik pintu.


Mendengar ada yang memanggil namanya, Davin yang tadinya tengah sibuk dengan ponsel yang ada di tangannya pun langsung beranjak berdiri untuk membukakan pintu.


Begitu terbuka terlihatlah dua sosok wanita cantik yang sangat berarti dalam hidup dirinya dan sang istri.

__ADS_1


"Ibu, mama." sapa Davin.


Mama Dinar pun menelisik penampilan sang putra yang begitu sangat tampan dengan menggunakan tuxedonya. Meskipun Davin dalam kesehariannya menggunakan pakaian formal, namun bagi mama Dinar kali ini putranya itu jauh terlihat tampan dan begitu karismatik.


"Putra mama tampan sekali." puji mama Dinar dengan tangan yang terukur untuk mengelus salah satu sisi pipi Davin.


"Mama dan ibu juga terlihat sangat cantik." puji balik dari Davin.


"Sira bagaimana? sudah selesai di makeup belum nak?" tanya ibu Lena pada menantunya, menantu satu-satunya yang dia miliki.


"Sudah mau selesai kok Bu." jawab Davin. "Silahkan masuk Bu, ma." kata Davin yang menggeser tubuhnya untuk mempersilakan mama Dinar dan ibu Lena masuk.


"Ya ampun menantu mama, cantik sekali." ujar mama Dinar setelah melihat tampilan Sira dari pantulan cermin.


Mendengar pujian dari mertuanya membuat pipi Sira memerah karena tersipu.


"Sudah mau selesai belum?" tanya mam Dinar pada tim mua yang menangani Sira.


"Tinggal sedikit lagi nyonya besar." sahutnya.


Kedua sahabat Sira itu memang di minta juga untuk istirahat di sana dengan Beni dengan kamar sendiri, sedangkan Ami satu kamar sama ibu Lena.


Tak sampai lima belas menit, tim mua pun akhirnya memberi tahu jika tugas mereka telah usai dan pamit undur diri.


"Sekarang kita langsung ke ballroom, tamu undangan sudah banyak yang hadir." kata mama Dinar.


Semuanya pun mengangguk, karena memang ini sudah lebih beberapa menit dari jam yang di tentukan untuk acara.


Mama Dinar dan papa Diki berjalan di depan, kemudian di susul dengan Sira dan Davin dengan di dampingi oleh ibu Lena juga Damar, barulah di belakang mereka ada Ami dan juga Beni.


Tepuk tangan serta kata-kata dari sang pembawa acara langsung mengiringi langkah mereka sejak pertama kali masuk tempat acara.


"Tenang sayang, ada aku disini." bisik Davin saat betul masuk namun merasa tangan sang istri sudah semakin bertambah dingin dari sebelumnya.


"Tapi aku ... "

__ADS_1


"Shuttt ... kamu ratunya malam ini, ini adalah cara kita jadi jangan terlalu gugup, oke." potong Davin.


Mendengar penuturan sang suami, membaut Sira hanya mampu menghela napasnya dengan dalam.


Rombongan keluarga pun langsung di arahkan oleh pihak wo untuk ke pelaminan yang telah di tentukan di depan sana.


Satu persatu anggota keluarga mulai duduk di tempatnya masing-masing, begitu pula para tamu undangan yang semula berdiri untuk menyambut yang punya acara.


Sudah tegang serta tak nyaman karena berada di depan dan di tatap oleh semua orang yang berjumlah tak sedikit, tiba-tiba pembawa acara malah memanggil dirinya dan Davin untuk dansa berdua.


Davin langsung berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya di depan Sira dengan ala-ala kerajaan ... ala-ala seorang pangeran yang mengajak sang putri untuk berdansa.


Sira yang menjadi pusat perhatian pun langsung menyambut uluran tangan Davin.


Davin membawa Sira ke tempat dansa yang telah di tentukan untuk mereka berdua. Pemuda itu pun langsung menuntun kedua tangan Sira untuk melingkar di lehernya, setelah itu kedua tangannya gantian melingkar di pinggang ramping Sira.


"Dav, aku gak bisa dansa." bisik Sira.


"Kamu tinggal ikutin langkah aku, arahan dari aku sayang." sahut Davin.


"Gak bisa Dav." ujar Sira lagi.


"Bisa, aku yakin kamu bisa." kata Davin memberi dukungan.


Musik pun mulai beralun, pelan namun pasti Davin mulai mengerakkan kakinya yang di ikuti okeh Sira dengan pergerakan yang terasa sangat kaku.


"Ach." rintih Davin dengan pelan ketika kakaknya tak sengaja terinjak oleh Sira.


"Dav, maaf-maaf ... a_aku benar-benar tak sengaja." ucap Sira dengan perasaan bersalah.


"It's oke sayang, tak masalah." kata Davin.


Tak hanya sampai di situ, Sira beberapa kali telah menginjak kaki Davin kembali, untung saja beberapa tamu undangan ikut pula berdansa, jadi insiden yang terjadi berulang kali itu tak terlihat oleh mereka.


"Dav, sudah ya ... aku gak mau bikin kaki kamu tambah sakit." kata Sira dengan sedih.

__ADS_1


"Sebentar ya sayang, ini juga lagunya sudah mau habis." sahut Davin.


__ADS_2