
❤️ Happy Reading ❤️
Sira masih sibuk bekerja hingga H-3 dari pernikahannya, barulah dia mengambil cuti...karena pada hari itulah undangan pernikahan mereka akan di sebar di perusahaan.
Davin sudah berkali-kali membujuk calon istrinya itu, namun sama sekali tidak mempan. Sira selalu mengatakan jika dirinya takut para karyawan merasa curiga jika dirinya cuti terlalu lama.
Karena Sira yang begitu keras kepala, akhirnya Davin hanya bisa pasrah dan mengikuti apa mau dari Sira ... takut nanti malah membuat calon istrinya marah jika dirinya terlalu banyak mengatur.
Hingga saat ini di mana tepat Sira dan Davin cuti dari kerjanya, terjadi begitu kehebohan di perusahaan setelah mereka menerima undangan dari yang punya perusahaan.
Bukan karena mewahnya undangan yang mereka terima, tapi lebih karena nama yang tercantum di sana sebagai mempelai wanita.
"Ini Sira ... Sira karyawan sini." kata salah satu star bernama Ari yang masih satu divisi dengan Sira.
"Ya gak mungkinlah Ri, jangan ngaco deh." sahut Mona.
"Eh iya loh aku rasa, nih namanya aja sama kok." kata Deri, rekan mereka yang lain.
"Cewek rendahan kayak gitu jadi istrinya bos...gak mungkin banget." kata Lisa dengan nada yang tak percaya bahkan seperti setengah mengejek.
"Elo baca aja kalau gak percaya." kata Wisnu.
Lisa dan Mona memang belum membaca undangan tersebut, mereka hanya melihat sekilas inisial nama yang ada di sampulnya, yaitu D & S.
__ADS_1
Lisa dan Mona yang penasaran pun akhirnya langsung membuka undangan yang ada di tangan mereka.
"Hah ... ini gak mungkin." kata Lisa sambil menggelengkan kepalanya begitu melihat nama yang tertera di sana begitu familiar untuknya. "Pasti aku salah baca nih ... Iyakan Mon?" kata Lisa pada Mona yang sama tercengangnya.
"He'eh." sahut Mona yang sampai begitu sulit untuk berkata-kata.
"Gak salah, itu memang Sira kok." kata Ami yang baru saja datang bersama Beni. "Calon istri tuan Davin Brian Ardiansyah adalah Asira Davira Ciara." kata Ami lagi.
"Teman satu divisi kita yang sering kalian sebut sebagai jomblo abadi." timpal Beni dengan senyum sinis sambil melirik ke arah Lisa juga Mona.
"Gak nyangka ya ternyata Sira itu calon istri tuan Davin." kata Deri.
"Sira tak mau mengumbar kisah asmaranya, dia juga bukan tipe cewek sombong yang selalu membanggakan kekasihnya yang notabene belum tentu jadi suaminya." sahut Ami menyindir Lisa dan Mona yang selalu membanggakan gebetan mereka yang belum seberapa.
"Eh Mi, sejak kapan Sira pacaran sama pak bos?" tanya Wisnu. "Jadi kepo nih aku." sambungnya lagi.
"Heh kamu salah." kata Ami dengan cepat. "Justru mereka sudah berhubungan jauh sebelum tuan Davin mengambil alih perusahaan ini." sambungnya.
"Iya, meraka hubungan jarak jauh." sambung Beni.
"Ck, dasar matre." cibir Lisa.
"Apa kabar sama kalian berdua." kata Ami dengan sinis. "Sira justru baru tau jika tuan Davin adalah pemilik perusahaan ini." imbuhnya lagi.
__ADS_1
"Kerja ... Kerja ..." kata ibu Indri yang baru saja datang dan sedikit banyak mendengar perbincangan mereka yang membicarakan atasan perusahaan ini.
Mendengar kata-kata sang pimpinan divisi, membuat mereka semua langsung membubarkan diri dan duduk di kursi mereka masing-masing.
❤️
Sedangkan di tempat lain, lebih tepatnya di kediaman utama keluarga Ardiansyah, Davin begitu terlihat sangat uring-uringan saat ini.
"Dav." panggil mama Dinar saat melihat sang putra yang hendak menuju ke arah dapur.
"Iya ma." sahut Davin dengan tak bersemangat.
"Kamu kenapa? Sakit?" tanya mama Dinar yang merasa Davin terlihat sangat begitu kusut.
"Enggak ma." jawab Davin dengan singkat.
"Terus kenapa kayak gitu?" tanya mama Dinar lagi.
"Huh ... Ma, bisa gak kalau Davin telpon Sira?" tanay Davin setelah sempat mengembuskan napasnya. "Kenapa sih ma masih aja acara pingit-pingitan segala ... Ini kan jaman modern ma?" tanya Davin dengan kalimat yang setengah protes.
"Jadi masalah itu." sahut sang mama. "Buak. masalah modern atau biak Dav, tapi ini memang adatnya." sambungnya lagi
"Telpon ya ma? Gak ketemu gak apa-apa ... tapi telpon ya ma?" tanya Davin dengan penuh harap sambil menatap sang mama.
__ADS_1
"Enggak." sahut mama dinar sambil menggelengkan kepalanya tanda penolakan. "Gak bisa Dav, ayolah anak mama ... Lagian ini juga cuma tiga hari saja Dav, dulu bahkan harus atau minggu loh." kata mama Dinar.
"Ck, ya udah." Davin langsung berlalu begitu saja menuju ke dapur untuk mengambil minum, setelahnya dirinya pun langsung pergi ke taman belakang agar pikirannya tidak sumpek dan tak hanya memikirkan rasa rindunya pada Sira saja.