
❤️ Happy Reading ❤️
Sesuai keinginan bumil dan juga sudah mengantongi ijin dari dokter yang menyatakan bahwa Sira juga kandungannya sangatlah baik dan sehat, maka saat ini calon kedua orangtua itu sedang berada di privat jet menuju ke Jogja.
Karena sudah terlanjur pergi juga, jadi mama Dinar memberikan saran untuk mereka beberapa hari di sana. Untuk sekedar baby moon lah katanya, yang di setujui oleh Davin, sebab tak mungkin juga untuk Sira yang beri datang ke Jogja, terus berburu kuliner dan langsung pulang, paling tidak butuh waktu untuk ibu hamil itu rehat.
Untuk menuruti apa yang di inginkan oleh istri tercintanya, Davin sampai rela mereskejul ulang semua pertemuan penting yang memang tak tak bisa di wakilkan oleh siapapun.
Tak hanya Davin, Damar pun rela menghabiskan waktunya untuk mengurus perusahaan Davin selama adik dan adik iparnya pergi, padahal pekerjaannya sendiri pun tak kalah sibuk.
Sedangkan Riko, asisten setia Davin itu tentu saja ikut serta pergi ke Jogja dan mau tak mau harus meninggalkan kekasihnya untuk beberapa saat padahal hubungannya sedang hangat-hangatnya karena baru beberapa hari jadinya.
"Sudah dong Ko, jangan cemberut gitu." kata Davin. "Sudah kayak anak perawan gak jadi kawin saja." sambungnya yang di iringi ledekan untuk sahabat yang merangkap sebagai asistennya itu.
"Ya habisnya." sahut Riko dengan nada yang sedikit kesal. " Lagian ngapain juga sih aku mesti ikut." sambungnya lagi.
"Ya tentu saja dong, kamu lupa jabatan kamu itu apa, hah? Asisten aku." kata Davin mengingatkan. "Atau kalau mau pulang aja?'' tanay Davin yang seperti memberikan angin segar untuk Riko.
"Ah boleh banget tuh." sahut Riko dengan semangat.
"Ya udah begitu sampai kamu langsung pulang aja, tapi ... " kata Davin menjeda perkataannya untuk beberapa saat sehingga membuat Riko menjadi sangat penasaran di buatnya.
''Tapi apa Dav?" tanya Riko dengan antusias.
"Siap-siap saja gajih bulan ini dan tiga bulan kedepan di potong tujuh puluh persen.'' kata Davin dengan sangat entengnya hingga membuat Riko sampai menganga.
"Ck." decak Riko dengan sangat sebal. Di lambungkan tinggi tapi kemudian di hempaskan kembali dengan begitu kasarnya.
"Terserah kamu mau pilih yang mana." kata Davin yang setengah mati menahan tawa ketika melihat bagaimana reaksi yang di tunjukan oleh Riko.
"Mendingan kamu gak kasih pilihan tadi." sahut Riko.
"Ini cuma satu Minggu Ko, lagian ku juga masih bisa vc sama Tyas selama kita ada di sana." kata Davin. "Aku ke Sira dulu." kata Davin.
Riko hanya bisa terduduk lemas di kursinya sambil membayangkan selama beberapa hari ini tanpa kehadiran Tyas di sisinya. Walaupun masih bisa berkomunikasi lewat ponsel, tapikan rasanya tetap saja berbeda.
__ADS_1
Beberapa waktu yang lalu melihat Tyas yang di dekati oleh salah satu asisten dari rekan kerja Davin, sukses membuat hati Riko meradang.
Flashback ...
Tuan Agam, yang merupakan rekan dari perusahan Davin datang bertandang ke DV grup guna membahas proyek yang akan mereka jalani.
Tak hanya sendiri, tapi Tuan Agam datang bersama asisten sekaligus sekretarisnya yang bernama Bayu. Karena sering kali bertemu membuat Tyas dan Bayu akrab, apalagi segala urusan pekerjaan akan Tyas sampai pada Bayu ataupun sebaliknya.
"Yas, nanti malam ada acara gak?" tanay Bayu yang berhenti sebentar di depan meja Tyas sebelum benar-benar mengikuti sang atasan keluar dari perusahan DV.
"Kenapa?" bukannya menjawab, tapi Tyas malah balik bertanya.
"Aku ... em ... aku ingin mengajak kamu untuk makan malam.'' kata Bayu.
"Boleh." jawab Tyas.
"Oke, nanti aku jemput." kata Bayu dengan begitu girang.
"Gak usah, kamu serlog aja ... nanti kita ketemu di sana." sahut Tyas.
Riko yang tak jauh berada dari sana pun melihat itu semua. Tak hanya sekali ini dia melihat kedekatan Tyas dengan Bayu maupun laki-laki lain, tapi kejadian kali ini begitu sukses membuat dirinya meradang.
Sehingga membuat dirinya memutuskan untuk mengikuti Tyas saat makan malam secara sembunyi-sembunyi dan kemudian menunggu wanita itu hingga sampai di apartemen miliknya.
Tak ada hal istimewa saat dirinya makan malam dengan Bayu. Mereka hanya makan sambil berbincang-bincang ringan seputar pekerjaan maupun kehidupan pribadi.
"Lelahnya." keluh Tyas dengan tangan yang memegang tengkuk serta menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan.
Tyas tak pergi kemana-mana lagi seusai bertemu dengan Bayu, jadi dirinya sampai di apartemen sekitar pukul sepuluh malam.
Bip
Sret
Dug
__ADS_1
Setelah Tyas membuka pintu dengan kata sandinya, dirinya langsung di tarik seseorang masuk dan di pentokkan ke tembok dengan pintu yang tertutup serta lampu yang masih belum menyala.
"Si ... emmmm ... " saat Tyas ingin bertanya siapa gerangan orang yang telah mengungkungnya, tiba-tiba mulutnya langsung di bungkam dengan sebuah ciuman hingga dirinya terengah batu di lepaskan.
"Aku gak suka kamu jalan sama pria lain." kata Riko dengan nada yang dingin.
"Ri ... Riko." lirih Tyas.
"Ini pelajaran untuk kamu karena sudah berani makan malam dengan pria lain." kata Riko lagi seusai kembali mencium bibir Tyas.
"Maksud kamu apa, hah! Kamu gak berhak untuk lakuin ini samua sama aku." kata Tyas dengan perasan kesal bercampur marah.
"Aku berhak!" bentak Riko. "Karena aku sayang sama kamu ... Cinta sama kamu." sambungnya dengan tanpa sadar sudah mengucapkan apa yang dirinya rasakan dan dirinya pendam dari lama.
"Se ... Sejak kapan?" tanya Tyas dengan perasan terkejut.
"Sejak dulu, saat kita masih menimba ilmu di tempat yang sama." jawab Riko.
"Heh, bodohnya." kata Tyas dengan tersenyum sinis. "Kenapa gak bilang dari dulu?" tanyanya.
"Aku ... Aku terlalu pengecut untuk mengungkapkan semua, aku tak ingin hubungan persahabatan kita hancur karena hal ini dan jujur aku terlalu takut jika nantinya hatiku patah karena mendapatkan penolakan darimu." kata Riko mengakui semuanya dengan gamblang.
"Kamu tau kenapa selama ini aku tak memiliki kekasih?" tanya Tyas.
"Karena kamu masih ingin fokus dengan karier kamu." jawab Riko karena menang selalu jawaban itu yang Tyas ucapkan jika mereka menyinggung tentang jodoh.
"Itu bukan yang utama.'' sahut Tyas. "Tapi karena aku cinta sama kamu." sambungnya lagi yang kali ini malah membuat Riko sangking terkejutnya mendengar pengakuan dari Tyas. Bodohnya dia ternyata selama ini cintanya tak bertepuk sebelah tangan.
"Ko." panggil Tyas untuk menyadarkan pria yang ada di depannya.
"Eh." kaget Riko. "Jadi kamu juga cinta sama aku?" tanya Riko yang di angguki oleh Tyas. "Kita jadian sekarang." sambungannya lagi.
"Iya." jawab Tyas.
Flash on ...
__ADS_1