Tiba-tiba Jadi Calon Istri Orang

Tiba-tiba Jadi Calon Istri Orang
Bab 84


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


Satu Minggu sudah cukup untuk Sira sekedar berlibur di Jogja, ya meskipun masih dengan segala keposesifan Davin tapi paling tidak itu lebih baik dari pada dirinya hanya terkurung di rumah.


"Apa kamu senang?" tanya Davin ketika kaki kembali menginjak tanah kota asal mereka.


"Seneng banget, terimakasih ya By." ucap Sira dengan tulus sambil merangkul lebih erat lengan Davin.


"Tak perlu berterimakasih, apapun akan aku lakukan untukmu juga baby." ujar pria yang sebentar lagi akan berganti status menjadi seorang ayah.


"Makin cinta sama kamu By." ucap Sira dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.


"Aku pun sama my cherry, aku juga sangat mencintaimu." kata Davin. "Kalau bisa diukur, mungkin kadar cintaku akan semakin bertambah berat setiap harinya untukmu." imbuhnya lagi.


Bukan rayuan atau gombalan semata, karena Davin selalu membuktikannya dengan perbuatan bukan hanya sebuah kata-kata bualan belaka.


Kalau Davin dan Sira selama seminggu kemarin benar-benar menikmati waktu mereka yang di isi dengan kebahagiaan, berbeda lagi dengan Riko.

__ADS_1


Pemuda yang menjadi asisten Davin itu selama berada di Jogja sama sekali tak menampakan wajah bahagia, bahkan cenderung bermuram durja karena harus berpisah dengan sang kekasih meskipun hanya beberapa saat.


Tapi pagi ini, wajahnya kembali cerah bak sinar mentari pagi kala mengetahui jika mereka bertiga kembali lagi ke Ibu kota.


Rasanya Riko sudah tak bisa membendung rasa rindunya jika harus tertahan di Jogja selama beberapa hari lagi.


Seperti yang anak-anak muda katakan bahwa rindu itu berat, nah itulah yang di alami pria dewasa yang baru berpacaran untuk pertama kalinya ini. Riko terlalu menutup rapat mata dan hatinya sejak dulu, bahkan pemuda itu meyakinkan dirinya jika tak bisa memiliki Tyas paling tidak dirinya harus melihat Tyas bahagia dahulu dengan pasangannya meskipun itu bukan dia. Benar-benar definisi cinta sejati.


❤️


"Sayang, bagaimana kabar kamu dan baby? kalian berdua baik-baik sajakan?" cecar ibu Lena begitu melepaskan pelukannya dari tubuh sang putri.


"Iya, baby gak rewelkan selama kalian di sana? bagaimana kamu seneng gak sayang?" kali ini mama Dinar yang gantian mencecar si bumil.


Davin yang seperti tak di anggap keberadaannya pun akhirnya mengeluarkan suaranya sehingga membuat kedua wanita paruh baya itu langsung menatap ke arahnya.


"Bisa tidak biarkan kami duduk dulu.' kata Davin. "Lagian mama apa gak lihat disini juga ada aku, tapi kenapa sama sekali tak menyapa atau mengucapkan selamat datang, malah seperti tak terlihat." sambungnya lagi dengan sedikit kesal.

__ADS_1


Ibu Lena dan mama Dinar pun spontan langsung saling pandang dan sedetik kemudian beralih menatap ke arah Davin.


"Eh maaf ya sayangnya mama, karena terlalu fokus pada Sira sampai mama seperti terkesan mengabaikan mu." kata mama Dinar dengan perasan yang tak enak.


"Sekarang kita duduk ya, Sira capek berdiri terus." kata Sira menyela.


"Ah iya, ayo sayang." sahut Davin yang langsung mengambil posisi untuk memapah sang istri.


Mama Dinar dan yang lainnya pun ikut duduk di kursi yang tak jauh dari Sira dan Davin berada.


Banyak yang mereka obrolkan, selain tentang liburan Davin dan Sira, mereka juga menanyakan tentang perkembangan calon jabang bayi yang ada di perut Sira.


Belum lahir saja, mama Dinar dan ibu Lena sudah begitu banyak membuat rencana untuk cucunya nanti juga sudah lahir ke dunia.


Mungkin karena cucu pertama untuk kedua belah keluarga jadi rasa antusias mereka jauh lebih terasa.


Obrolan terus berlanjut hingga makan siang bersama, baru setelah itu mama Dinar dan papa Diki berpamitan untuk pulang guna memberikan waktu untuk ibu Lena dan anak serta menantunya beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2