Tiba-tiba Jadi Calon Istri Orang

Tiba-tiba Jadi Calon Istri Orang
Bab 40


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


"Aku langsung pulang ya." kata Davin saat sudah sampai di rumah Sira.


"Beneran gak mampir dulu?" tanya Sira sambil membuka sabuk pengaman yang di kenakan.


"Huft pengennya, tapi masih ada pekerjaan yang belum aku selesaikan ... jadi mau lebur di rumah." jawab Davin sambil mendesah. "Lagian nanti Riko juga ke rumah." sambungnya lagi.


"Kerja boleh, lembur juga boleh, yang jelas jangan lupa istirahat dan ingat waktu." kata Sira menghadap ke arah Davin.


"Iya sayang." sahut Davin.


"Sama jangan lupa makan." kata Sira lagi.


"Iya ... uh senengnya punya pacar yang perhatian kayak gini." kata Davin.


"Auch sakit Davin." keluh Sira karena Davin mencubit kedua pipinya.


"Habisnya aku gemes banget sama kamu." sahut Davin.


"Aku keluar ya, kamu hati-hati dijalan ... jangan ngebut-ngebut." pesan Sira.


"Iya sayangku ... cintaku." sahut Davin.


"Ck, mulutnya manis banget." kata Sira yang kemudian langsung keluar dari mobil.


❤️


"Maaf Tuan muda diluar ada Tuan Riko." kata salah satu art yang menghampiri Davin serta yang lainnya saat sedang makan malam.


"Riko? tumben malam-malam kesini?" tanya mama Dinar menatap ke arah putra bungsunya.


"Ada kerjaan yang harus kami bahas Ma." jawab Davin yang sudah menyelesaikan makannya. "Davin kedepan dulu." kata Davin lagi.

__ADS_1


Davin berjalan meninggalkan ruang makan menuju ke ruang tamu di mana asisten sekaligus sahabatnya berada.


"Sudah makan Ko?" tanya Davin begitu melihat Riko yang duduk di salah satu sofa.


"Sudah Tuan muda." jawab Riko yang membuat Davin mendengus.


"Ck, sudah di bilang kalau diluar kantor jangan terlalu formal." decak Davin yang membuat Riko sontak saja langsung mengangguk tengkuknya yang bahkan tak gatal sama sekali. "Langsung ke ruang kerja aku aja Ko." ajak Davin.


Mereka berdua langsung berjalan ke arah ruangan kerjanya.


"Bik, tolong bawakan minuman ke ruang kerja ya." pinta Davin pada salah satu artnya.


"Baik Tuan muda." sahutnya.


Begitu masuk, Riko langsung meletakkan beberapa berkas yang dia bawa di atas meja yang langsung membuat Davin menghela nafasnya dengan kasar.


Mereka berdua pun langsung mengerjakan satu persatu tumpukan map itu.


"Ini mau sampai kapan selesainya." gumam Davin setelah lebih dari dua jam berkutat dengan tumpukan kertas-kertas itu.


"Hoam ... " Davin menguap beberapa kali dan mengerakkan tubuhnya untuk meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena duduk dalam posisi yang sama dengan durasi waktu yang lama . "Sudah sampai di sini saja Ko." kata Davin. "Kamu gak usah pulang ... nginep di sini saja." kata Davin lagi dan langsung melenggang keluar.


Riko atau asisten yang lainnya pun sering juga menginap di sana saat ada pekerjaan yang harus di kerjaan seperti ini, jadi baik itu asisten Davin, asisten papa Diki ataupun asisten Damar sudah memiliki kamar sendiri-sendiri di rumah itu.


Rasanya tubuh Davin sudah sangat begitu lelah dan pikirannya juga sudah teramat pusing memikirkan pekerjaan yang seolah tak ada habisnya, dia butuh waktu untuk mengistirahatkan tubuh serta pikirannya saat ini.


❤️


Begitu selesai membersihkan diri Davin baru teringat akan ponsel yang sedari tadi di abaikannya dan juga di buat dalam mode senyap.


"Sira." gumam Davin saat ada panggilan serta beberapa pesan yang masuk atas nama Sira beberapa waktu yang lalu.


Davin mulai menggeser layar ponselnya dan mulai melakukan panggilan kepada si pencuri hatinya.

__ADS_1


Satu kali ... dua kali masih tak terjawab, namun saat panggilan ketiga terdengar suara serak khas bangun tidur dari sebrang sana.


"Halo."


"Halo Ra, kamu sudah tidur ya? Maaf ya kalau aku jadi ganggu kamu." kata Davin sambil merebahkan tubuhnya di ranjang untuk meluruskan punggungnya yang pegal.


"Hem, jam berapa ini?"


"Ini jam ... " jawab Davin yang langsung menoleh ke arah nakas. "Jam satu malam."


"Jam satu." gumam Sira. "Kenapa kamu tadi gak balas pesan aku? Di telpon juga gak di angkat?"


"Maaf tadi ponselnya aku silent jadi gak tau kalau kamu menghubungi aku tadi."


"Apa kamu baru selesai?"


"He'em." sahut Davin.


"Oh astaga Davin, kalian baru saja selesai bekerja." seru Sira yang sepertinya sudah begitu sangat sadar. "Akukan sudah bilang buat ingat waktu kalau kerja ... kamu sama Pak Riko itu bukan robot yang bisa bekerja dua puluh empat jam." kata Sira lagi dengan begitu marah karena apa yang di katakannya pada Davin tadi sore seolah tak di dengarkan oleh pemuda itu. "Kalau kamu sakit gimana.'' katanya lagi.


"Iya aku minta maaf ... aku akui kalau aku salah." kata Davin yang mengakui kesalahannya, jadi wajar jika Sira sampai marah.


"Sekarang tutup telponnya dan tidur!" tegas Sira.


"Baiklah, selamat malam sayang ... mimpin indah ya." ucap Davin.


"Hem, selamat malam ... kamu juga." kata Sira yang sejujurnya masih begitu jengkel.


Davin adalah sosok pemuda yang begitu gila kerja, dia seakan selalu lupa waktu jika sudah berhadapan dengan berkas-berkasnya.


Tapi karena hal itu jugalah yang menjadikan Davin sebagai sosok pengusaha muda yang begitu diperhitungkan di dunia bisnis, bahkan pamor Davin serta pengaruhnya melebihi sang kakak.


Bukan hanya usaha yang di wariskan oleh keluarganya ini yang sukses di tangannya, bahkan usaha yang dia bangun sendiri dari nol pun juga tak kalah sukses.

__ADS_1


Perusahaan DV yang Davin pegang merupakan perusahaan yang bergerak di bidang hotel namun sejak di ambil alih oleh Davin, perusahan itu mulai merambah ke bidang properti, sedangkan perusahan milik Davin sendiri bergerak di bidang otomotif. Kalau perusahaan DM yang di pegang oleh Damar menaungi beberapa mall yang tersebar di berbagai kota, semuanya sudah ada porsinya ... bagiannya masing-masing dengan bidang usaha yang berbeda supaya tak ada persaingan pasar yang bisa memicu hubungan keluarga kedua saudara tersebut.


__ADS_2