
❤️ Happy Reading ❤️
Semakin hari sikap over protektif serta posesif Davin semakin bertambah hingga kadang membuat Sira begitu jengah.
Bagaimana tidak mau melakukan apa-apa selalu di larang oleh suaminya, bahkan dirinya cenderung di perlakukan layaknya seorang pesakitan.
Meskipun Davin berangkat bekerja, Sira pun tak lantas bebas melakukan semuanya, karena suaminya itu selalu memantau segala aktivitas kegiatannya di rumah melalui kamera cctv yang terpasang hampir di seluruh sudut rumah.
"Kalau kayak gini ceritanya aku itu seperti seorang tawanan tau." keluh Sira saat dirinya meminta ijin untuk keluar sebentar karena begitu jenuh berada di rumah.
"Sayang ... My cherry, aku lakukan semua ini juga untuk kebaikan kamu, aku tak ingin jika sampai terjadi sesuatu pada kamu dan baby." kata Davin.
"Tapi By, aku itu ... " kata Sira.
"My cherry, tolong ... ini semua hanya hingga kamu melahirkan nanti." potong Davin yang seolah tak ingin mendapatkan bantahan dari sang istri. "Aku berangkat kerja dulu, kamu dan baby baik-baik di rumah." kata Davin yang bangkit dari duduknya. "Ingat kalau ada apa-apa, atau kamu dan baby menginginkan sesuatu ... langsung hubungi aku." pesannya.
Walaupun sibuk dengan pekerjaannya, Namun Davin selalu berusaha untuk menjadi suami yang siaga. Apapun keinginan sang istri selalu membuatnya turun tangan sendiri untuk memenuhinya.
❤️
Setelah sang suami pergi, Sira yang sedang duduk di teras belakang tiba-tiba mendapatkan pesan dari sang ibu mertua yang menanyakan tentang kabarnya.
Pasalnya calon Oma itu selalu menghubunginya setiap hari, bahkan tiga hari sekali dirinya akan bertandang untuk menjenguk serta membawakan berbagai makanan untuk sang menantu.
Mulai dari asinan, salat buah, buah-buahan segar, makanan, snacks dan lain-lain.
"Bagaimana kabar kamu dan calon cucu mama pagi ini?" tanya mama Dinar di pesan onlinenya.
"Baik Ma."
"Cuma rada sebal aja sama Davin."
"Loh kenapa sayang? Apa dia tak mau menuruti keinginan kamu dan baby?" tanya mama Dinar yang selalu jadi tim pendukung untuk menantunya itu.
"Sira mau keluar ma, jenuh ... bosen di rumah terus setiap hari dengan di awasi setiap saat." keluh Sira pada mertuanya.
"Anak itu, masih saja." kata mama Dinar.
"Nanti biar Mama yang bicara sama Davin, kebetulan ini mama sedang berada tak jauh dari perusahaannya."
__ADS_1
"Loh memangnya mama dari mana?" tanya Sira.
"Mama dari nganterin berkas papa yang ketinggalan di rumah."
"Sudah dulu ya sayang, mama mau masuk dulu ke perusahan Davin."
Sira merasa jauh lebih lega karena bisa mengadu atau cerita apapun pada ibu mertuanya.
Sedangkan mama Dinar sendiri saat ini sudah menuju ke ruangan Davin.
"Tyas." panggil mama Dinar pada sekretaris sang putra.
"Nyonya besar, selamat pagi." sapa Tyas begitu melihat siapa orang yang memanggilnya.
"Pagi, apa Davin ada?" tanya mama Dinar.
"Iya ada Nyonya, mari saya antar." tawar Tyas.
"Eh gak usah, saya sendiri saya." tolak mama Dinar karena beliau tau betul jika wanita yang ada di depannya itu sedang sibuk dengan segala berkas yang ada di mejanya.
Setelah mengatakan hal tersebut, mama Dinar langsung melenggang pergi menuju di mana pintu menuju ke tempat putranya berada.
"Bisa gak kalau ... Mama." kata Davin yang tak jadi marah karena melihat siapa gerangan yang telah masuk ke dalam ruangannya tanpa ijin. "Tumben pagi-pagi kesini? Mama dari mana?" tanya Davin yang berjalan untuk menghampiri wanita yang sampai kapan pun akan selalu menduduki tahta tertinggi di hatinya. "Ada apa Ma?" tanya Davin lagi.
"Gak ada apa-apa, mama tadi dari perusahan Papa dan ingin mampir saja begitu lewat depan perusahan kamu." jawab mama Dinar yang di tuntun Davin untuk duduk di sofa.
"Mau minum apa Ma?" tanya Davin.
"Gak usah, mama gak lama." jawab mama Dinar. "Gimana kabar Sira?" tanyanya berbasa-basi sebelum mengatakan tentang apa yang membuatnya sampai datang ke sana.
"Sira baik Ma." jawab Davin.
"Apa kamu masih melarangnya untuk keluar Dav? Masih membatasi ruang geraknya?" tanya mama Dinar.
"Maksudnya Ma?" tanah Davin dengan memincingkan matanya.
"Dav, jangan terlalu mengekang Sira." kata mama Dinar.
"Davin melakukan semua itu untuk kebaikan Sira dan calon bayi kami ma, Davin tak ingin kalau mereka berdua sampai kenapa-napa." sahut Davin.
__ADS_1
"Iya mama tau maksud kamu, tapi apa yang kamu lakukan itu salah." kata mama Dinar. "Secara tidak langsung kamu malah jadi menyebabkan Sira stres yang tentunya akan sangat berpengaruh untuk calon anak kalian." sambungnya lagi. "Ingat Dav, sesuatu yang berlebihan itu tidaklah baik." imbuhnya lagi.
"Pasti Sira ya yang ngadu ke mama?" tebak Davin.
"Enggak, Sira gak pernah bilang apa-apa sama mama." sahut mama Dinar. "Kalau kamu gak percaya, kamu bisa cek rekaman cctv saat mama bertandang ke rumah kalian, kamu bisa tau tentang apa saja yang kami bicarakan." imbuhnya lagi. "Mama itu sudah dua kali mengandung Dav, jadi sedikit banyak mama tau apa yang Sira rasakan." sambungnya. "Pikirkan baik-baik apa yang mama katakan, jangan sampai kamu menyesal nantinya." kata mama Dinar lagi. "Heh, mama pulang dulu ya ... " kata mama Dinar sambil berdiri dari duduknya.
"Ah biar Davin antar ke bawah Ma." kata Davin.
"Eh gak usah, mama bisa sendiri ... Kamu lanjut kerja saja." tolak mama Dinar.
"Hati-hati Ma." kata Davin yang di angguki sang mama.
❤️
Satu Minggu setelah mama Dinar bertandang ke perusahan Davin, tenyata tak ada yang berubah hingga sekarang. Davin masih saja bersikap sama pada Sira sehingga membuat mamanya menjadi geram sendiri. Hingga mama Dinar memberikan sebuah ide pada sang menantu.
"By." panggil Sira pada suaminya yang sedang duduk fokus dengan laptopnya.
"Iya my cherry." kata Davin yang langsung beranjak dari duduknya untuk menghampiri Sira. "Ada apa, hem?" tanya Davin saat sudah berada di sisi Sira.
"Em, By aku pengen makan gudeg." kata Sira dengan sedikit ragu.
"Baiklah, akan aku belikan." kata Davin yang kemudian melangkah pergi namun harus tertahan karena cekakan tangan dari Sira. "Ada apa my cherry?" tanya Davin.
"Aku pengennya langsung makan di tempat, gak di bawa pulang." kata Sira.
"Oke aku ambilkan jaket dulu buat kamu." sahut Davin.
"Aky maunya gudeg Jogja." kata Sira lagi.
"Iya, gudegkan memang dari Jogja." sahut Davin. "Jangan bilang kalau kamu mau ke Jogja langsung." terka Davin yang dengan polosnya langsung di angguki oleh Sira.
"Oh ya ampun my cherry." kata Davin sambil memegang kepalanya, dia gak habis pikir dengan permintaan istrinya kali ini. "Bisa tidak ngidamnya yang lain saja?" tanyanya.
"Mana ada orang ngidam di tawar." kata Sira dengan bibir yang cemberut, bahkan matanya kini sudah berkaca-kaca dan hal ini membaut Davin semakin frustasi.
"Kita ke dokter dulu untuk menanyakan apa kondisi kamu boleh untuk melakukan perjalan ke sana." kata Davin pada akhirnya, dirinya tak ada pilihan lain.
Dan ini lah ide yang di berikan oleh mama Dinar, agar menantunya itu bisa keluar dari rumah.
__ADS_1