Tiba-tiba Jadi Calon Istri Orang

Tiba-tiba Jadi Calon Istri Orang
Bab 45


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


"Kamu masih punya hutang penjelasan sama kami Ra." kata Ami yang seolah menutut semua cerita dari mulut Sira.


"Oke, akan aku ceritakan." sahut Sira, namun sebelum bercerita dirinya menghirup udara dalam-dalam untuk mengisi rongga yang ada di paru-parunya, baru setelah itu Sira mulai cerita yang tentunya di sana saat ini tak ada siapapun karena jam istirahat masih tersisa beberapa menit lagi.


Semua Sira ceritakan kecuali tentang pacar pura-pura mereka dan juga tentang kegilaan Cika si menantu pertama keluarga Ardiansyah. Kenapa? karena menurut Sira itu adalah sebuah aib yang harus ditutupi dan bukan untuk konsumsi publik.


"Kamu jahat banget sih nyembunyiin ini dari kita." protes Ami. "Jahat banget, udah gak nganggap kita sahabat apa...mentang-mentang jadi calon istri bos." cerocosnya.


"Ya ampun Mi, sama sekali gak kayak gitu." kata Sira. "Aku cuma gak mau kalau hubungan kamu terekspos ke permukaan, apalagi Davin juga baru pindah kesini." sambungnya berusaha menjelaskan agar tak terjadi sebuah kesalah pahaman antara mereka bertiga.


"Pantas aja kamu itu selama ini gak pernah dekat sama cowok, eh gak taunya sudah punya yang tampan juga mapan." celetuk Beni.


"Eh Ra, berarti kamu sudah tau juga dong kalau kekasih kamu itu atasan kita? Pakek Sik gak peduli lagi pas kedatangannya yang pertama kali." kata Ami.


"Sumpah aku gak tau Mi, aku aja kaget banget pas tau dia di sini...putra dari tuan Diki." sahut Sira.


"Ck, kalian ini beneran pacaran gak sih...masak gitu aja gak tau." gumam Ami sambil memberengut.


"Ya kita pacaran ya pacaran aja...aku gak pernah tanya-tanya tentang keluarga dia atau cari tau tentang keluarganya." sahut Sira.


"Awas kalau pas nikahan gak kasih tau kita lagi." kata Ami yang langsung kembali duduk di kursi kerjanya, karena jam istirahat sudah habis dan para karyawan yang lain satu persatu juga sudah mulai masuk sehingga mengharuskan pembicaraan mereka bertiga terhenti.


Jujur ada perasaan sedikit lagi di hati Sira, karena dirinya tak harus lagi berbohong atau menyimpan sebuah rahasia lebih lama lagi dari kedua sahabatnya.


❤️


Sore ini Sira memutuskan untuk pulang bareng kedua sahabatnya.


Kalau di pikir-pikir sudah agak lama mereka tak ada waktu bertiga, Sira lebih sering bersama dengan Davin.


Tak lupa pula gadis itu mengabari sang kekasih terlebih dahulu Agra si empunya nanti tak marah-marah.


"Beneran nih kamu mau jalan bereng kita?" tanya Ami yang sudah tau dari Sira kalau biasanya sahabatnya itu selalu pulang sama atasan mereka. "Gak marah tuh pak bos?" tanyanya lagi.


"Enggak dong, kan aku sudah bilang sama dia kalau aku mau jalan dulu sama kalian." sahut Sira.


"Ra, mau tanya gimana rasanya pacaran sama bos sendiri?" tanya Beni dan Ami pun juga ingin dengar jawaban Sira.


"Apalagi bos kita itu terkenal dingin." sambung Ami.

__ADS_1


"Em gimana ya...ya gak gimana-gimana sih, kayak kalian gitu, sama aja." jawab Sira. ''Sebenarnya dia itu gak dingin-dingin amat kok, biasa aja." sambungnya lagi.


"Itu sih kalau sama kamu...iya kali sama pacar sendiri dingin." celetuk Beni. "Mau kemana kita?" tanyanya dengan tangan yang masih sibuk memegang setir kemudi, karena mereka bertiga saat ini pergi dengan menggunakan mobil miliknya.


"Ke DM mall aja gimana?" usul Ami.


"Aku sih oke aja." sahut Sira.


"Kamu Ben?" tanya Ami.


"Aku ngikut apa kata kamu aja." sahut Beni sambil mengelus pipi Ami yang kebetulan duduk di kursi depan dekat kemudi.


"Khem, serasa jadi obat nyamuk nih aku.'' sindir Sira.


"Upss sorry Ra, gak maksud." kata Ami dengan terkekeh.


"Habisnya kalau sudah berdua di luar jam kantor kayak gini maunya nempel terus Ra." timpal Beni yang membuat Sira mendengus kesal.


"Tau gini ajak pacar aku." kata Sira


"Yah jangan dong Ra, jadi gak seru kalau tuan Davin ikut." kata Beni. "Kita jadi langsung mati kutu tau." imbuhnya yang kini malah membuat Sira yang jadi terkekeh.


Tiga puluh menit membelah jalanan ibu kota yang padat merayap, akhirnya mereka sampai juga di tempat tujuan yang harusnya bisa di tempuh dalam waktu dua puluh menit.


Kerena mereka berencana ingin menonton, jadi langsung aja menuju ke lantai tiga dimana letak gedung bioskop berada.


Mereka pun membagi tugas, Beni yang mengantri tiket sedangkan Sira dan Ami pergi untuk membeli minuman serta camilan untuk menemani mereka nonton nanti.


Kali ini yang mereka pilih adalah film bergenre romantis, maklumlah perempuan memang suka yang kayak gitu.


"Yuk masuk." ajak Beni saat Sira dan Ami sudah berada di dekatnya dengan membawa beberapa kantong makanan juga minuman.


Ami duduk di tengah-tengah antara Beni dan juga Sira. Kalau Beni di sebelah kanan Ami maka Sira di sebelah kiri Ami.


❤️


"Ah filmnya bikin baper ya Ra?" tanya Ami begitu mereka keluar. "Cowoknya romantis banget...perhatian lagi." imbuhnya.


"Memangnya aku kurang romantis apa? kurang perhatian?" tanya Beni dengan sinisnya.


"Eh enggak dong...kamu itu romantis kok, perhatian lagi." kata Ami yang langsung merangkul tangan Beni agar pria itu tak merajuk.

__ADS_1


"Makan yuk...aku laper nih." ajak Sira yang merasa perutnya sudah keroncongan minta di isi.


"Mah makan apa kita malam ini?" tanya Ami sambil mereka berjalan.


"Em makan ayam goreng ajalah yang praktis.'' jawab Sira.


Mereka pun menuju dimana stand makan yang di sukai sejuta umat bahkan lintas generasi, apalagi kalau bukan ayam goreng tepung yang bermoto jagonya ayam serta berlogo kakek tua berjenggot.


Dret


Dret


Dret


Di sela makan mereka ternyata ponsel milik Sira berdering yang menandakan kalau ada yang menghubungi nomornya.


Setelah melihat siapa yang meneleponnya, Sira langsung mengusap ikon hijau untuk menjawab panggilan.


"Halo."


"Kamu dimana?"


"Aku ada di DM mall, ini lagi makan."


"Sudah mau pulang belum? Biar aku jemput."


"Hem baiklah, ini juga habis makan kita pulang." jawab Sira yang yang sempat berpikir sejenak yang akhirnya menyetujui untuk di jemput, karena kasihan juga sama kedua sahabat kalau harus mengantarkan dirinya pulang terlebih dahulu, apalagi nanti di persimpangan arah mereka sudah tak searah lagi.


"Oke, aku langsung jalan kesana, tunggu aku."


"Hem...iya, hati-hati."


"Siapa Ra?" tanya Ami begitu Sira mengakhiri panggilannya.


"Jangan bilang kalau itu tadi pak bos?" timpal Beni.


"Iya memang dia." jawab Sira.


"Mau jemput?" tanya Ami lagi.


"He'em." sahut Sira sambil menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kok kelihatan sweet sih pak bos." kata Ami lagi dengan tangan yang sudah di satukan di ditempelkan di pipi kirinya.


__ADS_2