Tiba-tiba Jadi Calon Istri Orang

Tiba-tiba Jadi Calon Istri Orang
Bab 51


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


Bugh


Damar yang datang ke rumah sakit langsung saja memberikan satu bogem mentah pada sang adik.


Davin yang tak siap akan apa yang di lakukan kakaknya, membuatnya sedikit terhuyung bahkan sampai sudut bibirnya mengeluarkan darah sangking kuatnya.


"Damar!" jerit mama Dinar saat melihat putra sulungnya memukul sang adik.


"Davin!" Sira pun ikut menjerit memanggil nama sang kekasih berbarengan dengan mama Dinar yang juga menjerit.


Tak cukup hanya sekali, Damar pun hendak melayangkan satu pukulan kembali pada Davin yang baru saja mengusap sudut bibirnya.


"Damar." cegah papa Diki yang sudah memegang tangan Damar, alhasil tangan Damar hanya melayang di udara.


"Papa belain dia?" tanya Damar dengan sarkas sambil menunjuk ke arah Davin. ''Papa tau gak apa yang sudah anak kurang ajar ini lakukan?" katanya lagi. "Dia sudah melaporkan Cika dengan alasan yang tak masuk akal." sambungnya.


"Huft...papa tau." sahut papa Diki.


"Heh, jadi papa dan mama tau? Dan mendukung anak ini?" katanya dengan begitu sinis. "Aku bener-bener gak menyangka kalau papa dan mama bakal pilih kasih." sambungnya lagi. "Apa bedanya aku dengan Davin? Kita berdua sama-sama anak kalian? terlebih lagi Sira itu bukan siapa-siapa di bandingkan dengan Cika yang sudah berstatus sebagai menantu kalian." imbuhnya dengan rasa kecewa yang teramat dalam.


"Kami hanya membela yang benar Dam." jawab papa Diki dengan tenang.


"Heh..." sinis Damar.


"Ayo duduk dulu...biar kamu tau apa yang sebenarnya terjadi.'' kata papa Diki dengan tangan yang kembali meraih tangan Damar untuk di ajaknya duduk di sofa.


Damar menghindar dari tangan papa Diki, namun dirinya tak menolak untuk di ajak duduk.


Kini mereka semua duduk berempat di sofa yang ada di sana.


Sira hanya bisa menatap dengan tatapan nanar, terbesit rasa bersalah dalam hatinya melihat pertikaian antar dua bersaudara itu, karena sedikit banyak ada andil dirinya dalam masalah ini.


Papa Diki pun memberi kode pada putra bungsunya untuk menunjukan bukti yang dia miliki.


Davin yang mengerti akan kode yang berikan untuknya pun, langsung mengeluarkan ponselnya dan menyodorkan pada sang kakak.


Damar pun langsung menyahutnya dengan kasar.


Damar yang mulai melihat ponsel Davin pun merasa tak percaya dengan apa yang ada di sana.

__ADS_1


"Heh, ini gak mungkin." kata Damar sambil menggelengkan kepalanya. "Ini pasti hanya rekayasa kamu saja." imbuhnya.


"Kakak bisa cek rekaman itu asli atau hanya rekayasa semata." sahut Davin. "Aku rasa kakak bukan orang yang bodoh." imbuhnya lagi. "Asal kakak tau, semenjak kakak tak percaya dengan aku...aku langsung memasang kamera di beberapa sudut, di kamar dan di luar kamar." katanya lagi.


"Cika gak mungkin seperti itu, aku tau sendiri bagaimana Cika begitu sangat mencintai aku." sanggah Damar.


"Tapi memang itu kenyataannya kak." sahut Davin.


Damar memijit pangkal hidungnya, dia begitu bingung dengan semua fakta yang kini di dapatkannya.


Setelah diam sejenak, Damar kemudian bangkit dari duduknya dan langsung pergi begitu saja tanpa kata, apalagi pamit.


"Dam." panggil mama Dinar yang ikut berdiri dan handak mengejar Damar namun tangannya langsung di cekal oleh papa Diki.


''Biarkan Damar pergi ma, dia butuh waktu sediri untuk mengenakan diri juga memikirkan semua ini." kata papa Diki.


''Tapi pa, Damar itu..." kata mama Dinar.


"Percaya sama putramu ma." potong papa Diki.


Mama Dinar pun, akhirnya menurut apa kata suaminya dan duduk kembali.


"Maaf." lirih Sira yang sedari tadi hanya diam saja.


Begitu Davin mendekat, Sira justru langsung terisak dan menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.


Grep


Davin langsung membawa Sira yang bergetar kedalam dekapannya.


"Maaf...maafkan aku." lirih Sira dengan terisak. "Gara-gara aku...keluargamu jadi seperti ini." sambungnya dengan suara bergetar.


Davin tak menyahut, dirinya hanya mengelus punggung Sira dengan maksud untuk menenangkan wanita itu.


Davin membiarkan wanita itu sampai Sira sedikit lebih tenang.


"Sayang...dengarkan aku." kata Davin dengan mengurai pelukannya, sehingga kini mereka saling berhadapan. "Lihat aku, stop menyalahkan diri kamu sendiri, karena semua ini bukan salah kamu...kamu itu hanya korban." kata Davin dengan mata yang saling bertatapan. "Kalau ingin menyalahkan...aku yang salah, karena akulah yang menyeret kamu ke dalam kehidupan aku...menjadikan kamu bagian dari diri aku." sambungnya lagi.


"Tak ada yang menginginkan semua ini terjadi." sahut papa Diki. "Ini sudah takdir...sudah alur dari sang pemberi hidup." sambungnya sambil berjalan menghampiri Sira juga Davin bersama mama Dinar.


Mama Dinar memeluk tubuh Sira, dia cukup mengerti akan apa yang di rasakan oleh calon menantunya itu.

__ADS_1


❤️


Sementara Damar, putra sulung keluarga Ardiansyah itu langsung masuk dan mengunci diri di kamar ketika sampai di rumah.


"Argghh!" erang Damar sambil menghamburkan semua yang ada di atas ranjang, mulai dari bantal, guling, bed cover hingga seprei. "Kenapa...kenapa Cika!" teriak Damar.


Ingin tak percaya dengan semua ini, tapi nyatanya dia sudah melihat bukti yang di tunjukan oleh adiknya.


Setelah puas berteriak sambil memorakporandakan isi kamarnya, tubuh Damar langsung luruh seketika...bahkan pria itu pun menangis tersedu-sedu saat ini.


Kamar yang memiliki fasilitas kedap suara, sehingga membuat tak ada seorangpun yang tau apa yang terjadi di dalam sana.


Sedangkan mama Dinar yang merasa perasannya begitu tak tenang pun mengajak papa Diki untuk pulang setelah Sira sudah terlihat tenang dan ibu Lena pun sudah kembali ke sana setelah beristirahat sejenak di rumah.


"Tuan Damar mana bik?" tanya mama Dinar begitu sampai rumah.


"Tuan muda ada di kamarnya nyonya." jawab sang art.


"Sudah dari tadi pulangnya?" tanya mama Dinar lagi.


"Sudah nyonya dan sedari tadi juga tak keluar." sahutnya.


Mama Dinar langsung berjalan tergesa menuju ke lantai dua, lebih tepatnya ke kamar putra sulungnya di ikuti oleh papa Diki di belakangnya.


Tok


Tok


Tok


"Damar...nak, buka pintunya!" seru mama Dinar yang berteriak sambil menggedor-gedor pintu kamar.


Merasa tak ada sahutan, papa Diki pun meminta salah satu artnya untuk mengambil kunci cadangan kamar Damar.


"Ini tuan." kata sang art menyerahkan kunci yang di minta.


Papa Diki pun langsung menerima dan membuka pintu kamar.


Cklek


"Damar..." seru mama Dinar yang langsung berlari menghampiri sang putra yang begitu terlihat menyedihkan.

__ADS_1


"Ma." lirih Damar yang langsung memeluk tubuh mama Dinar sambil menangis sesenggukan.


Mama Dinar pun ikut menangis, hatinya ikut sakit melihat putranya terluka seperti ini. Bahkan dalam hatinya...perempuan paruh baya itu merutuki apa yang telah di lakukan oleh menantu pertamanya yang sudah membuat kesalah pahaman antara kedua Kaka beradik itu, juga mencelakai calon menantunya serta membuat putra sulungnya terpukul.


__ADS_2