Tiba-tiba Jadi Calon Istri Orang

Tiba-tiba Jadi Calon Istri Orang
Bab 53


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


Mama Dinar dan papa Diki seharian ini di rumah, mereka menemani putra mereka yang sedang dalam keadaan terpuruk.


Davin pun tak masalah jika kedua orangtuanya tak bisa datang ke rumah sakit, dia begitu memaklumi keadaan kakaknya yang saat sangat membutuhkan dukungan keluarga.


"Makan dulu sayang." kata mama Dinar yang baru saja masuk ke kamar Damar dengan membawa satu nampan berisi makanan.


Pasalnya putra sulungnya itu sejak pulang dari kantor polisi sama sekali tak keluar dari kamarnya.


Mama Dinar meletakkan nampan yang di bawanya ke atas meja, lalu berjalan menghampiri sang putra yang tidur meringkuk di atas ranjang dengan bergelung selimut, karena Damar sama sekali tak beranjak dari tidurnya.


"Sayang." panggil mama Dinar kembali.


"Eugh..." lenguh Damar saat ada yang memegang pundaknya.


"Bangun dulu sayang." kata mama Dinar. "Ya ampun, badan kamu panas Dam, kamu demam." pekik mama Dinar saat tak sengaja tangannya menyenggol wajah Damar. "Ayo kamu cepat bangun terus makan." katanya lagi yang seolah tak mau terbantahkan.


Mama Dinar mengambil makanan yang di bawa tadi, sementara Damar mencoba untuk duduk meskipun kepalanya terasa begitu sangat pening.


Mama Dinar segera duduk dan menyuapi Damar dengan telaten.


"Sudah ma." kata Damar, padahal baru beberapa suap saja yang masuk ke dalam mulutnya.


"Mama keluar sebentar ambil obat." kata mama Dinar keluar membawa kembali nampannya.


"Damar mana ma?" tanya papa Diki saat mama dinar baru sampai di anak tangga terakhir.


"Di kamar pa." jawab mama Dinar. "Bik, tolong ini bawa kebelakang dan cariin obat penurun panas ya." pinta mama Dinar.

__ADS_1


Begitulah keluarga Ardiansyah, mereka selalu bersikap sopan pada siapapun termasuk pada asisten rumah tangga mereka, setiap meminta atau menyuruh sesuatu maka aka. Mengucapkan kata tolong dan setelahnya mengucapkan kata terimakasih. Maka tak salah jika banyak para pekerjanya yang sangat betah bekerja lama dengan mereka.


"Buat siapa ma?" tanya papa Diki kemudian.


"Damar pa, dia demam." sahut mama Dinar.


Mendengar jawaban sang istri lantas membuat papa Diki langsung naik ke lantai atas meninggalkan mama Dinar begitu saja.


Nak tetaplah anak, berapapun umur mereka, sedewasa apapun mereka , tetaplah membuat orangtua khawatir...karena di mata orangtua...anak-anaknya tetaplah anak kecil mereka.


"Kata mama kamu sakit?" tanya papa Diki yang langsung masuk kedalam kemar karena pintu dalam keadaan terbuka.


"Cuma sedikit demam aja pa." kata Damar dengan suara pelan.


"Heh...sedih boleh, sakit juga boleh...tapi jangan berlarut-larut Dam." kata papa Diki yang memposisikan dirinya duduk di tepi ranjang berhadapan dengan Damar yang bersandar pada handboard.


"Iya pa." sahut Damar.


Damar langsung menerima dan meminumnya.


"Sekarang kamu istirahat saja, papa sama mama keluar dulu." kata papa Diki.


❤️


Di rumah sakit, saat ini Sira sedang bersama dengan Davin dan ibunya.


"Ibu, Sira mau pulang." kata Sira yang sudah merasa begitu bosan.


"Nanti ibu tanya sama dokter yang memeriksa kamu ya." kata ibu Lena dengan tangan yang menyelip anak rambut di belakang telinga Sira.

__ADS_1


Ibu Lena sangat paham bagaimana karakter putrinya itu, Sira yang notabene seorang pekerja keras pasti akan merasa bosan jika hanya berdiam diri seperti ini dalam waktu beberapa hari.


"Dav, sudah beberapa hari kamu di sini nemenin aku, memangnya gak apa-apa kalau kamu gak berangkat ke kantor?" tanya Sira yang tak ingin hanya gara-gara dia, pekerjaan Davin jadi berantakan.


Mendengar apa yang di katakan Sira padanya, langsung membuat Davin mengentikan segala aktivitas yang saat ini dia lakukan. Pasalnya saat ini pemuda itu sendang duduk dengan mata yang begitu fokus pada laptop dan jari-jari tangan yang menari-nari dengan lincah di atas keyboard.


"Gak masalah, akukan bosnya." kata Davin dengan sombongnya.


''Ck, sombong." cibir Sira.


"Bukan sombong tapi memang itu kenyataannya." sahut Davin membela diri sehingga membuat Sira langsung memutar bola matanya.


"Ya...ya...ya...kamu bosnya." sahut Sira dengan malas.


"Nah tuh pinter." kata Davin yang membuat bibir Sira langsung mencebik.


"Maksud aku itu gimana sama pekerjaan kamu Dav?" tanya Sira lagi.


Sira bukan orang bodoh yang tak tau bagaimana sibuknya serta sebanyak apa kerjaan seorang pemilik perusahaan, tangung jawabnya pun juga sangat besar...karena banyak orang yang begitu bergantung padanya, dari perusahaan miliknya.


"Kamu gak usah mikirin itu, kamu cukup pikirin tentang kesehatan kamu aja." sahut Davin. "Lagi pula aku juga masih bisa menghandle pekerjaanku dari sini seperti yang kamu lihat sekarang dan di perusahaan juga sudah ada Riko serta Tyas yang cukup bisa di andalkan." sambungnya.


Davin beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Sira yang duduk di atas ranjang pasien.


Begitu sampai di dekat Sira, Davin langsung meraih salah satu tangan Sira untuk di genggamnya.


"Bagi aku, kesembuhan kamu jauh lebih penting dari semuanya." kata Davin .


Ibu Lena yang melihat interaksi antara anak dan calon menantunya begitu bahagian, melihat tatapan mata Davin pada Sira saja sudah bisa membuat ibu Lena tau jika pemuda itu begitu sangat mencintai putrinya.

__ADS_1


Ibu Lena hanya bisa berharap serta selalu berdoa agar putrinya selaku mendapatkan kebahagian serta tak mengalami nasib yang buruk pada rumah tangganya nanti, tak seperti dirinya dahulu. Biarlah dirinya saja yang tak mendapatkan nasib baik dalam pernikahan, asalkan putrinya jangan. Sebab selama ini Sira sudah ikut menanggung beban akibat kandasnya pernikahan dirinya, jadi inilah waktunya untuk putrinya itu merasakan sebuah kebahagian dalam keluarga.


__ADS_2