
❤️ Happy Reading ❤️
Lain Davin lain pula Damar. Putra pertama keluarga Ardiansyah itu sekarang lebih banyak menyibukkan dirinya dengan pekerjaan guna mengalihkan segala kesedihan dan kekecewaannya di masa lalu.
Berangkat pagi dan pulang tengah malam sehingga tak pernah lagi makan malam serta berbincang dengan kedua orangtuanya, hal ini terjadi setelah Davin menikah dengan Sira.
Mama Dinar semakin gusar melihat perubahan sang putra, beliau takut jika hal ini terus berlanjut akan membuat kesehatan putra sulungnya terganggu.
"Ma." panggil papa Diki dengan tangan yang menyentuh pundaknya.
"Eh Pa." sahut mama Dinar yang tersentak kaget padahal sang suami memanggilnya dengan lirih, semakin membuat papa Diki beranggapan bahwa istrinya itu sedang tidak baik-baik saja saat ini.
"Mama kenapa? Apa ada yang sedang mengganggu pikiran Mama?" tanya papa Diki yang memilih untuk duduk di samping sang istri.
"Cuma sedikit kepikiran Damar Pa." jawab mama Dinar yang sejujurnya membuat papa Diki mengerutkan dahinya.
Kenapa? Ada apa dengan putranya sehingga membuat istrinya jadi seperti ini? Itulah kira-kira yang kini menyelimuti pikiran pria yang sudah memiliki dua putra dewasa itu.
"Apa papa gak lihat, gak perhatiin kalau putra kita itu sekarang kerap berangkat pulang larut?" tanya mama Dinar. "Mama khawatir Pa, takut kalau dia sampai melakukan hal yang tidak-tidak untuk melampiaskan rasa sakit hatinya."kata mama Dinar.
Ingat kata pepatah kalau kasih ibu itu sepanjang masa. Jadi mau seberapa besarnya seorang anak, mau sedewasanya mereka seorang ibu tetap menganggap anak-anaknya masih kecil, rasa sayang, kekhawatiran akan selalu sama dari masa ke masa.
"Nanti papa coba ngobrol sama Damar." kata papa Diki yang seolah tau apa yang di rasakan sang istri. "Sekarang sudah malam, jadi lebih baik kita tidur." ajaknya sambil merangkul bahu mama Dinar.
"Tapi mama mau nunggu Damar pa." kata mama Dinar. "Bagaimana mama bisa tidur, bisa tenang kalau putra mama saja sampai sekarang belum pulang." imbuhnya.
"Iya papa ngerti, tapi mama harus tetap perhatikan kesehatan mama." kata papa Diki. "Katanya mau tetap sehat, biar bisa main dan gendong cucu." bujuknya.
Kata-kata yang sepele namun ampuh untuk membujuk wanitanya. Setelah Davin menikah, setiap mengayakan apapun akan selalu menyerempet ke kata cucu.
__ADS_1
Misalnya "Makan yang sehat pa, biar nanti masih bisa ngajak main cucu." atau "Jangan banyak-banyak minum kopi pa, ingat umur ... memangnya gak mau lihat cucu kita nanti." dan masih banyak lagi.
Wanita paruh baya itu sangat menaruh harapan yang besar untuk mendapatkan cucu dari Davin dan Sira, bahkan tak seperti pada Damar dan Cika dulu.
Bukannya apa-apa, mereka hanya tak ingin kecewa nantinya jika terlalu berharap pada pernikahan sang putra sulung yang kemarin, sebab secara langsung mantan menantunya mengatakan kalau tak ingin memiliki momongan dalam waktu yang dekat sehingga sudah memutuskan harapan yang baru akan tumbuh dari kedua orangtua Damar.
"Iya papa benar, kita harus selalu jaga kesehatan biar nanti bisa gendong dan main sama cucu-cucu kita kelak." sahut mama Dinar.
Papa Diki lalu menggiring tubuh sang istri untuk masuk ke dalam kamar mereka. Begitu memastikan sang istri sudah benar-benar terlelap, pria paruh baya yang masih terlihat tampan nan gagah itu memutuskan untuk keluar dan menunggu sang putra pulang.
Ada sesuatu yang memang harus dia bicarakan dengan putranya itu, dia tak ingin istri tercintanya terus kepikiran sehingga bisa menyebabkan kesehatannya terganggu, apalagi istrinya memiliki riwayat tekanan darah tinggi atau hipertensi.
❤️
Klek
"Papa." lirih Damar yang merasa terkejut ketika lampu yang tadinya temaram berubah terang benderang dengan papanya yang ada di sana.
"Baru pulang Dam? Sudah jam berapa ini?" tanya papa Diki dengan nada yang biasa saja.
"Jam setengah dua pa." cicit Damar. "Papa belum tidur?" tanyanya berbasa basi.
"Kalau sudah tidur, papa gak mungkin berdiri di sini saat ini." sahut papa Diki. "Duduk, papa ingin bicara sama kamu." kata Papa Diki seperti sebuah perintah yang tak terbantahkan.
Damar pun langsung mengambil duduk dengan perasaan yang menduga-duga, karena tak mungkin jika papanya menunggu dirinya pulang sampai jam segini kalau tak ada yang penting.
"Apa kamu tau kenapa papa sampai menunggumu pulang?" tanya papa Diki yang di jawab dengan gelengan kepala oleh Damar. "Kenapa kamu akhir-akhir ini selalu pulang larut?" tanya papa lagi.
"Damar lagi banyak kerjaan pa." jawab Damar.
__ADS_1
"Itu bukan alasan Dam." sahut papa Diki dengan tatapan nyalang. " Papa juga seorang pengusaha, bahkan jauh sebelum kamu." sambungnya. "Bahkan papa merintis usaha kita dari nol, tapi papa tak seperti kamu." imbuhnya yang kini membuat kepala Damar langsung tertunduk.
Terjadi keheningan beberapa saat sebelum papa Diki berujar kembali.
"Apa kamu tau jika apa yang kamu lakukan ini membuat mama kamu jadi kepikiran?" tanyanya. "Apa kamu ingin mama kamu jatuh sakit, hipertensinya kambuh hanya gara-gara mikirin putranya yang kini jadi selalu pulang malam sehingga tak ada waktu untuk makan malam bersama dan mengobrol dengan kedua orangtuanya." sambungnya.
"Maaf." cicit Damar yang merasa bersalah setelah mendengar penuturan sang papa.
''Papa gak butuh kata maaf dari kamu, tapi papa harap kamu bisa lebih dewasa dan tak seperti ini lagi." ujar papa Diki. "Istirahatlah." sambungnya dan langsung beranjak pergi dari sana untuk pergi menyusul istri tercintanya ke alam mimpi.
❤️
"Ma, maaf." ucap Damar yang langsung memeluk wanita yang sangat berarti dalam hidupnya.
Ketika Damar turun ke ruang makan, di dapatinya sang mama yang sedang sibuk menata piring dan sendok di meja.
Damar langsung memeluk wanita paruh baya itu dengan begitu saja, ada rasa kecewa untuk dirinya sendiri serta penyesalan di dalam hatinya kala mendengar apa yang di katakan sang papa tadi malam.
Dirinya begitu tertampar dengan kalimat-kalimat yang terlontar dari mulut sang papa. Betapa egoisnya dia yang hanya memikirkan dirinya sendiri, tanpa memikirkan akibat yang akan berimbas pada kedua orangtuanya.
"Sayang, ada apa Nak?" tanya mama Dinar yang merasa bingung karena tiba-tiba putranya mengucapkan kata maaf sambil memeluk dirinya.
"Maaf karena Damar akhir-akhir ini begitu sibuk dan larut dalam pekerjaan sehingga selalu pulang larut dan tak pernah lagi ada waktu untuk mama dan papa." jawab Damar apa adanya.
"Iya mama ngerti, tapi sesibuk apapun, sebanyak apapun pekerjaan kamu ... jangan sampai lupa waktu sehingga kesehatan kamu menjadi terabaikan." nasehat mama Dinar.
"Iya ma." sahut Damar. "Damar sayang mama." ucapnya.
"Mama juga sayang sama kamu." kata mama Dinar. "Sudah sana duduk, mama mau panggil papa kamu dulu." katanya lagi.
__ADS_1