
❤️ Happy Reading ❤️
Sira dan Davin malam ini hingga besok memutuskan untuk menginap di kediaman Ardiansyah sebelum mereka pindah ke ruang Ibu Lena.
Mereka berdua juga sengaja tak memberi tahu pada Ibu Lena kalau sudah pulang dari berbulan madu. Mereka ingin memberikan kejutan pada wanita paruh baya itu.
Setelah pembicaraan di ruang keluarga, kini seluruh anggota keluarga pergi ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat mengingat hari sudah cukup larut.
"Pa, kenapa mereka harus pergi dari sini sih." keluh mama Dinar saat menghampiri sang suami yang duduk bersandar pada handboard.
Jujur masih terbesit rasa tak rela di hati mama Dinar untuk melepas anak dan menantunya pergi dari sana, karena jujur saja mama Dinar menginginkan Sira untuk tinggal bersama mereka di kediaman Ardiansyah.
"Mama apa gak kasihan pada besan kita yang hanya hidup sendiri? Kalau ada apa-apa bagaimana?" tanya papa Diki.
"Mama bisa minta orang buat tinggal dan menjaga besan kita itu pa." sahut mama Dinar.
"Ma, kita itu gak boleh terlalu egois seperti ini." sahut papa Diki. "Kita juga tak bisa memaksakan kehendak kita ke anak-anak." sambungnya. "Ingat kata Davin, di rumah ini masih ada Damar yang nantinya akan membawa membatu ke rumah ini." imbuhnya lagi.
"Ck, entah kapan." decak mama Dinar.
"Dari pada mama marah-marah, mendingan sekarang kita tidur." ajak papa Diki yang langsung menarik tubuh mama Dinar ke dalam dekapannya.
Sedangkan di kamar lain, Davin yang di bantu oleh Sira sedang mengepak pakaian Davin kedalam koper yang lebih besar.
__ADS_1
Satu persatu pakaiannya mulai di masukkan, meskipun tak semua tapi ya lumayanlah, karena terdiri dari pakaian santai, pakaian kerja serta dalamnya.
Tak lupa juga dirinya juga mengepak berkas-berkas penting dan laptop miliknya.
"Kamu kenapa? dari tadi kok diem aja?" tanya Davin saat menyadari perubahan pada istrinya semenjak mereka masuk ke dalam kamar.
"A-- "
"Jangan bilang kalau kamu gak apa-apa." potong Davin begitu saja.
Sira menghela nafasnya sebanyak sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari Davin dengan jujur. Karena sepertinya suaminya itu tak akan mudah percaya jika dirinya berkata bohong.
"Aku cuma merasa gak enak saja sama kedua orangtuamu, terutama mama." kata Sira. "Mama masih terlihat sangat tak rela jika kata tak tinggal di sini." sambungnya lagi. "Kenapa kamu tak bilang dulu sama aku kalau sudah memutuskan untuk tinggal di rumah Ibu?" tanyanya.
Seperti kebanyakan orang, jadi Sira mengira kalau mereka akan tinggal di kediaman sang suami, tapi ini apa ...
"Dengar, aku sudah memutuskan ini jauh haru sebelum kita menikah." ucap Davin yang memegang kedua tangan Sira. "Aku sudah memikirkannya masak-masak dan maaf kalau aku tak pernah membicarakan hal ini padamu sehingga aku terkesan mengambil keputusan secara sepihak." katanya lagi. "Aku tau yang ibu punya itu hanya kamu, jadi mana aku tega membiarkan ibu tinggal sendirian." sambungnya. Davin kemudian mengangkat sebelah tangannya untuk menyelipkan anak rambut Sira di balik telinga. "Lagian aku juga kasihan sama istri aku ini jika setiap hari, setiap saat terus kepikiran dengan ibunya." imbuhnya lagi yang membuat Sira tersenyum dalam haru.
"Terimakasih, terimakasih karena kamu sudah mau memikirkan aku juga ibu " ucap Sira yang tak terasa malah air matanya menetes seketika.
Kedua tangan Davin beralih mengusap air mata Sira menggunakan ibu jarinya. "Shuttt, kok malah jadi nangis." kata Davin.
Sira langsung saja memeluk tubuh Davin, dirinya begitu sangat di cintai dan begitu di terima oleh laki-laki itu.
__ADS_1
"O iya besok sore kita ajak ibu untuk tinggal di apartemen aku dulu ya." kata Davin sambil mengelus punggung wanitanya.
Sira langsung mengurai pelukan mereka begitu saja.
"Kok ke apartemen?" tanya Sira.
"Karena aku sudah meminta orang buat merenovasi rumah." jawab Davin yang membuat Sira mengerutkan alisnya sampai akan menyatu. "Maaf kalau aku tak meminta pendapatmu juga ibu dulu, tapi aku melakukan itu untuk kita semua tanpa ada maksud apa-apa." ucap Davin. "Karena aku merasa memang ada beberapa bagian rumah yang sudah minta di perbaiki." imbuhnya lagi.
Sira membenarkan perkataan Davin dalam hatinya, karena memang sudah butuh perbaikan, di beberapa tempat juga sudah ada yang bocor jika hujan datang, tapi mereka juga tak bisa berbuat seenaknya, kerena bagaimanapun rumah itu adalah rumah ibunya, jadi tentu saja persetujuan darinya.
"Besok kita bicarakan ini sama ibu dulu." kata Sira yang di angguki oleh Davin.
Begitu semuanya selesai, mereka berdua pun memutuskan istirahat tanpa melakukan kegiatan yang begitu menguras keringat namun terasa begitu nikmat. Davin merasa tak tega ketika melihat wajah lelah dari wanita yang akan melahirkan para penerusnya kelak.
❤️
Pagi yang cerah seharunya di sambut dengan wajah yang ceria, tapi itu semua tak berlaku untuk seorang wanita yang kini sedang duduk di ruang makan sendirian.
Ibu Lena duduk sambil terus melihat kursi dimana sang putri biasanya duduk untuk makan. Rasanya begitu sepi saat Sira tak ada di sana. Rindu pun begitu sangat menguasai hatinya meskipun sang putri baru menikah dan tak tinggal di sana selama beberapa hari.
Mengingat dirinya yang harus pergi ke pasar, ibu Lena pun memaksa untuk memasukan sesuap demi sesuap makanan ke dalam mulutnya meskipun rasanya begitu sangat sulit untuk di telan.
"Ibu kangen Nak." lirih ibu Lena dengan bulir air mata yang meleleh di pipinya. "Semoga hidupmu bahagia, rumah tangga kalian juga bahagian dan langgeng." katanya memanjatkan doa. "Biar ibu saja yang merasakan perihnya kehidupan berumah tangga, kamu jangan." sambungnya lagi dengan mengusap air matanya.
__ADS_1
Mengingat hari sudah semakin siang, ibu Lena pun segera menyelesaikan sarapan paginya dan langsung bergegas berangkat ke pasar untuk menjemput rezeki.