
❤️ Happy Reading ❤️
Entah kenapa perasan ibu Lena sore ini tiba-tiba merasa tak enak, seperti ada rasa khawatir bercampur dengan sedih namun tak tau apa penyebabnya.
Prang
Saat ibu Lena sedang ada di dapur hendak membuat minum, tiba-tiba terdengar seperti suara benda pecah dari arah ruang televisi.
"Apa itu?" gumam ibu Lena yang kaget.
Dengan terburu-buru dirinya langsung berjalan ke arah ruang televisi untuk mengecek apa yang sebenarnya terjadi.
"Astaghfirullah." gumam ibu Lena sambil membekap mulutnya menggunakan kedua telapak tangan.
Di lihatnya sebuah pigura besar yang berisi photo Sira sudah jatuh dan kacanya pun berserakan di lantai.
Melihat itu membuat perasaannya semakin tidak tenang.
"Sira." lirihnya dengan tiba-tiba. "Semoga kamu baik-baik saja nak " gumamnya lagi.
Namun sedetik kemudian ibu Lena berusaha untuk positif thinking.
"Mana mungkin Sira kenapa-napa, sekarangkan lagi sama Davin dan keluarganya." kata ibu Lena lagi menyakinkan dirinya sendiri.
Ibu Lena pun memilih kembali kebelakang untuk mengambil sapu dan serokan untuk membersihkan bekas kaca agar tak mengenai kaki.
Setelah selesai, ibu Lena memutuskan untuk kembali ke dapur dan melanjutkan minum. Dia ingin menikmati sejenak minum teh hangat sebelum memulai untuk membuat makan malam juga menyiapkan bahan untuk dagangannya esok.
Tak berapa lama setelah bu' Lena duduk, dia mendengar ada yang mengetuk pintu rumahnya, sehingga memaksa dirinya untuk berdiri kembali.
"Iya sebentar." sahut ibu Lena sambil berjalan menuju ke arah pintu.
Cklek
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." sahut ibu Lena. "Ini nak..." kata ibu Lena sambil mengingat-ingat sosok yang kini berdiri di depannya, seperti tidak asing begitu.
__ADS_1
"Riko bu', saya sahabat sekaligus asisten dari tuan Davin." sahut Riko yang seolah tau apa yang di pikirkan wanita paruh baya di depannya itu.
"Ah iya ibu baru ingat." kata ibu Lena. "Ada apa ya nak?" tanyanya.
"Begini bu', saya di minta oleh tuan Davin untuk menjemput ibu." jawab Riko.
"Menjemput? memangnya mau kemana nak?" tanya ibu Lena lagi.
"Em itu bu', yang penting ibu ikut saja dulu.'' jawab Riko yang bingung ingin mengatakan apa, dia belum siap untuk menghadapi bagaimana reaksi ibu Lena jika tau putrinya saat ini sedang terbaring di rumah sakit.
"Kalau gitu kamu masuk aja dulu, ibu mau bersih-bersih sebentar." kata ibu Lena yang di turuti oleh Riko.
Gak lama, cuma cukup kurang lebih dua puluh menit ibu Lena sudah siap dan berdiri di hadapan Riko dengan membawa tas jinjing miliknya.
Riko dan bu' Lena pun segera bergegas masuk kedalam mobil dan langsung melaju begitu saja.
Sama sekali tak ada pembicaraan di antara mereka berdua dan itu sangat membuat Riko bisa sedikit lebih tenang.
"Loh nak ini kok kita ke rumah sakit?" tanya ibu Lena saat mobil yang di kendarai oleh Riko mulai belok ke halaman rumah sakit. "Sebenarnya ada apa nak Riko? siapa yang sakit?'' kata ibu Lena yang memberondong Riko dengan pertanyaannya.
"Kita masuk dulu ya bu'." sahut Riko.
"Davin." lirih ibu Lena saat pandangan matanya menatap sosok pria yang akan menjadi calon menantunya sedang berjalan mondar-mandir di depan sebuah pintu dan apa itu...kenapa baju yang di pakai pria itu ada noda darahnya? terkena darah siapa? Pertanyaan-pertanyaan itu langsung muncul saat melihat sosok Davin di depan sana yang terlihat sangat kacau.
Mendengar namanya di panggil langsung membuat Davin menoleh. Davin pun langsung berlari dan berlutut di hadapan ibu Lena.
Bugh
"Bu', maafkan aku." ucap Davin dengan berlutut dan kepala yang tertunduk.
"Davin, ada apa nak? Di mana Sira?" tanya ibu Lena dengan menunduk melihat Davin. "Ayo berdiri nak, jangan seperti ini." kata ibu Lena lagi yang kali ini sudah memegang kedua bahu Davin agar pria itu segera berdiri.
"Maafkan aku bu', maaf yang tak bisa menjaga Sira." lirih Davin dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
Bahkan mama Dinar pun sampai di rangkul bahunya oleh sang suami karena kembali terisak.
"Maksudnya apa?" tanya ibu Lena lagi.
__ADS_1
"Sira...Sira ada di dalam bu', sedang di tangani oleh dokter." jawab Davin masih dengan suara yang lirih.
"Hah...a...apa?" kata ibu Lena yang terlihat syok sampai terhuyung ke belakang.
Tubuhnya langsung lemas seketika dan untung saja langsung di tangkap oleh Riko yang masih berdiri tak jauh darinya, kali tidak mungkin ibu Lena sudah terjatuh ke lantai.
Tubuh ibu Lena kemudian di papah Riko dan di dudukkannya di salah satu kursi tunggu yang ada di sana.
"Ba..bagaimana keadaannya?" tanya ibu Lena dengan suara yang bergetar kerena tangisan.
"Dokter masih menanganinya bu'." jawab Davin.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan putri ibu Dav?" tanya ibu Lena dengan menatap ke arah Davin.
"Aku juga gak tau apa yang terjadi bu'." jawab Davin. "Sira di temukan sudah tak sadarkan diri di bawah tangga dengan kepala yang terluka." sambung Davin lagi.
"Iya jeng, saat kejadian kamu semua sedang berada di kamar karena habis tidur siang...jadi kami tak tau kejadian pastinya seperti apa." sambung mam Dinar.
"Maafkan aku bu'...maaf karena sudah lalai menjaga Sira, maaf karena sudah membuat Sira seperti ini." ucap Davin yang masih saja mengalahkan dirinya sendiri. "Andai saja Sira tadi pagi gak aku jemput...pasti kejadian seperti ini gak akan terjadi." lanjutnya.
"Ini bukan salah kamu Dav, ini semua adalah takdir untuk Sira." kata ibu Lena dengan bijak. "Semua tak akan terjadi bila tanpa kehendaknya, jadi jangan salahkan dirimu sendiri." sambungnya. "Kita do'akan saja supaya Sira tidak kenapa-napa." imbuhnya lagi.
Terpukul...jelas ibu Lena sangat terpukul, tapi dirinya tak bisa menyalahkan siapa pun saat ini.
Cklek
Seorang dokter kekuatan dari ruangan yang membuat semua orang yang ada di sana langsung menghampirinya.
"Dok, bagaimana keadaan calon istri saya?" tanya Davin dengan tak sabaran.
"Luka di kening pasien tak perlu di jahit namun pasien kehilangan banyak darah jadi kami sudah memberikan transfusi." jawab dokter. "Tapi nanti jika pasien sudah sadar, kami akan melakukan ronsen serta CT scan untuk memastikan semuanya baik-baik saja." sambungannya lagi.
"Dok, apa kamu sudah bisa menemuinya?" tanya Davin lagi.
"Pasien akan segera di pindahkan ke ruang m rawat, nanti keluarga bisa menemuinya di sana, jadi silahakan untuk mengurus administrasinya." jawab dokter. "Ada yang ingin di tanyakan lagi tuan?" tanyanya.
"Tidak dok, terimakasih." ucap Davin.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi." pamitnya.
Setidaknya perkataan sang dokter sudah membuat semua yang ada di sana cukup lega.