Tiba-tiba Jadi Calon Istri Orang

Tiba-tiba Jadi Calon Istri Orang
Bab 52


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


Damar yang begitu terpukul akhirnya bisa juga tenang, bahkan saat ini telah tertidur di ranjangnya.


Mama Dinar dan papa Diki langsung keluar dari kamar Damar, mereka juga butuh waktu untuk istirahat walau cuma sebentar. Kenyataan yang mereka dapatkan di rumah sakit, terus harus buru-buru pulang ke rumah untuk menenangkan Damar membuat tubuh mereka butuh rehat apalagi jika mengingat usia mereka yang kini sudah tak muda lagi.


"Hah...hari ini terlalu melelahkan." ujar mama Dinar yang menghempaskan tubuhnya di ranjang. "Mama benar-benar gak menyangka kalau kejadian seperti ini bakal menimpa keluarga kita pa, terlintas dalam pikiran mama saja tidak pernah pa." kata mama Dinar. "Mama sedari dulu selalu membayangkan, tak punya nak perempuan...paling tidak nanti ada kedua menantu mama yang bisa hidup dengan rukun, jadi mama bisa mempunyai teman untuk menghabiskan waktu bersama." imbuhnya dengan mendesah kasar melepaskan segala hal yang mengganjal dalam hatinya.


"Seperti yang papa bilang ke anak-anak ma, ini semua sudah takdir...kita tak akan bisa menebak apa yang akan terjadi dalam kehidupan kita ini." sahut papa Diki yang ikut mendudukkan dirinya di samping sang istri.


"Apa gak bisa pa, kita mencabut tuntutan pada Cika? Em atau paling tidak sedikit memberi keringanan?'' tanya mama Dinar sambil menatap sang suami. "Walau bagaimanapun Cika itu menantu keluarga kita pa, istri dari Damar...jadi tolong pikirkan Damar juga pa." kata mama Dinar lagi yang kali ini sudah memegang tangan papa Diki.


Bukan berarti membela yang salah, bukan pula bermaksud untuk pilih kasih...tapi sebagai seorang ibu melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana sang putra...membuatnya begitu tak tega, kasihan, hatinya pun ikut sakit seperti terkena sembilu.


"Papa ngerti maksud mama, papa juga paham dengan apa yang mama rasakan karena papa pun juga merasakannya ma." kata papa Diki yang membalas memegang tangan mama Dinar. "Tapi semua itu bukan kuasa kita ma." sambungnya lagi. "Coba mama bayangkan jika mama ada di posisi Sira...atau mama ada di posisi ibunya Sira." ujar papa Diki. "Gadis itu...dia yang tak tau apa-apa harus mengalami semua ini ma, bahkan kejadian di terkunci di toilet saja sampai membuat rasa traumanya kembali." imbuhnya lagi. "Semuanya harus di pertanggung jawabkan oleh Cika ma, biar dia juga bisa lebih introspeksi diri."


Mendengar perkataan panjang kali lebar dari sang suami membuat mama Dinar hanya mampu mengangguk-anggukkan kepalanya dengan lemah, sebab yang dikatakan papa Diki benar adanya.


"Sekarang lebih baik bersihkan tubuh mama dan langsung istirahat." kata papa Diki lagi yang di angguki oleh mama Dinar.


Perempuan paruh baya itu memang membutuhkan waktu untuk sekedar berendam agar tubuhnya lebih rileks.


❤️


"Bi, tolong panggilkan tuan muda Damar untuk turun sarapan." kata mama Dinar pada salah satu artnya.


"Baik nyonya besar."

__ADS_1


Tak lama setelah itu, Damar turun sesuai dengan perintah sang mama.


"Pa, ma...aku..." kata Damar.


"Duduk Dam, dan kita sarapan lebih dulu sebelum membicarakan hal yang lainnya." potong papa Diki. Betapa kacaunya hati serta perasan mereka, mereka tetap harus makan agar kuat menghadapi kenyataan.


Damar hanya mampu menganggukkan kepala dan menurut apa yang di katakan papanya.


Mereka bertiga makan dalam diam, yang terdengar hanya bunyi dentingan suara garpu dan sendok yang beradu dengan piring.


"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya papa Diki setelah semua selesai makan.


"Pa, ma...aku...aku ingin berpisah dengan Sira." jawab Damar dan apa yang di katakan dari mulutnya membuat mama Dinar maupun papa Diki begitu kaget.


"Apa kamu sungguh-sungguh nak? sudah kamu pikirkan baik-baik?" tanya mama Dinar. "Jangan mengambil keputusan dalam keadaan emosi ini nak, pikirkan baik-baik...mama dan papa hanya tak ingin kamu menyesal nantinya." kata mama Dinar.


"Apa pun keputusanmu dan jika memang itu yang terbaik untuk kalian, papa dan mama hanya bisa memberikan dukungan." kata papa Diki.


"Oiya Dam, orangtua Cika bagaimana? apa mertuamu ini sudah tau kalau putrinya di penjara?" tanya mama Dinar.


"Aku yakin sudah ma, Cika pasti sudah menghubunginya." jawab Damar. "Ma, pa, Damar mau ke kantor polisi dulu...mau melihat Cika sekaligus memberitahunya tentang akhir dari pernikahan kami." pamit Damar.


"Mama sama papa ikut sekalian Dam, kami juga berencana ingin menjenguk Cika." kata mama Dinar.


Dia dan papa Diki memang ingin melihat bagaimana keadaan Cika, bagaimanapun wanita itu masih berstatus sebagian menantu keluarga mereka, bahkan mama Dinar pun telah meminta kepada artnya untuk di buatkan bekal berisi makanan favorit Cika.


Untuk masalah perceraian Cika dan Damar, tadi pagi-pagi sekali Damar sudah menghubungi pengacaranya untuk mengurus semuanya.

__ADS_1


Hampir satu jam papa Diki juga mama Dinar dan Damar di perjalanan menuju ke kantor polisi.


Sesampainya di sana, tenyata sudah ada papi dan mami Cika.


''Pi, mi." sapa Damar yang ingin menyalami kedua mertuanya, tapi sayang sebelum itu terjadi Damar malah sudah mendapatkan satu tamparan di pipinya dari ayah Cika.


"Papi." seru ibunya Cika yang tak menyangka suaminya akan melakukan hal itu pada sang menantu.


"Mana tanggung jawabmu sebagai suami?" tanya papi Candra...ayah dari Cika. "Biasa-biasanya membiarkan istrimu di penjara tanpa dampingan seorang pengacara." sambungnya lagi. "Apa kamu sebagai suami tak bisa membela istrimu, hah! Sampai-sampai adik kamu bisa berbuat seenaknya." imbuhnya lagi dengan begitu emosi.


"Pi, tenang Pi...papi jangan marah-marah seperti ini." kata mami Lisa. "Ayo duduk Pi, kita bicarakan baik-baik." katanya lagi sambil mengajak sang suami untuk duduk.


Kini mereka berenam telah duduk dengan saling berhadapan dengan berbataskan meja panjang.


Satu kursi panjang di tempati olah Cika dan orangtuanya, satunya lagi di tempati oleh Damar berserta papa Diki dan mama Dinar.


"Bisa kamu jelaskan?" tanya papi Candra begitu bisa menguasai emosinya.


Damar pun menceritakan apa yang telah di ketahui dari sang adik, bahkan semua video sebagai bukti dari Davin pun telah dia minta untuk di kirim ke ponselnya sehingga Damar bisa menunjukkannya pada sang mertua.


"Ini gak bener pa, semua ini bohong...itu cuma rekayasa mereka saja." kata Cika dengan cepat.


"Nanti bisa di buktikan saat persidangan dan..." sahut Damar tapi menghentikan sejenak kata-kata untuk menghela nafas panjang. "Dan maaf Cika...hubungan kita harus berakhir sampai disini, aku gak bisa lagi melanjutkan pernikahan ini." kata Damar. "Mulai hari ini, jam ini dan detik ini juga kamu Cika Candra Winata bukan istriku lagi, aku ceraikan kamu." satu kata yang begitu berat di ucapkan, akhirnya meluncur begitu saja dari mulut Damar.


"Enggak, Dam...kamu gak bisa kayak gini sama aku." kata Cika dengan mengiba.


"Maaf Cika, itu sudah keputusan aku dan semuanya sudah di urus oleh pengacara aku." kata Damar. "Pi, mi...Damar minta maaf, permisi." ucap Damar yang langsung pergi begitu saja, jujur Damar tak sanggup jika harus berlama-lama melihat wanita yang satu tahun ini manjadi istrinya itu menangis.

__ADS_1


Papa Diki dan mama Dinar pun akhirnya pergi menyusul Damar setelah berbincang sebentar dengan besan mereka.


__ADS_2