
❤️ Happy Reading ❤️
Davin yang tak bisa makan siang bersama Sira akhirnya memutuskan untuk pergi makan siang keluar bersama sekretaris dan asistennya.
"Tumben ajak kita berdua makan siang di luar?" tanya Tyas saat mereka bertiga sudah berada di dalam lift untuk turun ke lantai bawah.
"Sira makan siang sama temennya, ya dari pada aku makan sendiri...mending ajak kalian." sahut Davin.
"Hah sudah aku duga." kata Tyas.
"Tapi gak apa-apa juga sih Yas, kan lumayan kita jadi hemat bajet." kata Riko.
"Yup bener banget Ko." sahut Tyas. "Ngomong-ngomong mau makan siang dimana kita?" tanya Tyas.
"Makan ke restoran yang di sebrang gimana? restoran Nusantara." kata usul Riko.
"Wih boleh banget tuh." sahut Tyas. "Kita makan di sana ya Vin?" tanyanya pada si atasan.
"Hem, terserah kalian aja." jawab Davin.
❤️
Davin dan rombongan begitu sampai langsung masuk ke dalam restoran.
"Eh Dav, itu bukannya Sira?" tanya Riko sambil menyenggol tangan Davin.
Davin yang mendengar perkataan Riko pun langsung mengalihkan pandangannya yang semula sibuk melihat layar ponsel jadi ke arah yang Riko maksud.
"Janjian ya sama Sira?" tuduh Tyas.
"Aku dia kesini saja gak tau." sanggah Davin.
"Gabung sama mereka aja yuk Dav, biar lebih seru kalau rame-rame." ajak Tyas yang langsung nyelonong begitu saja tanpa bisa di cegah.
"Ck, anak itu." decak Davin.
"Sudahlah Dav, ayo ke sana." ajak Riko. "Sekalian buat publikasi hubungan kalian..." bisiknya.
Kerena kedua sahabatnya sudah berjalan duluan di depannya, mau tak mau Davin pun mengikuti dari belakang.
__ADS_1
"Khem...hai boleh gak kalau kita gabung sama kalian?" sapa Tyas yang langsung tanpa basa-basi.
"Eh bu' Tyas, tentu saja bu'...silahkan." kata Ami. "Silahkan pak Riko...tuan Davin." sambungnya lagi mempersilahkan Davin serta Riko.
Tanya mengeluarkan sepatah katapun Davin. langsung saja mengambil posisi duduk tepat di sebelah Sira.
"Kalian sudah pesan?" tanya Tyas.
"Kebetulan sudah bu', tinggal nunggu di antar saja." jawab Ami.
Sedangkan Sira hanya memilih diam, dia cukup bingung ingin bereaksi seperti apa...satu sisi ada tunangannya dan di sisi lain ada kedua sahabatnya yang belum tau apa-apa.
"Mbak." panggil Tyas pada salah satu pelayan yang melintas.
"Selamat siang bu', ada yang bisa saya bantu?"
"Minta buku menunya ya...kami mau pesan." jawab Tyas.
Pelayan itu pun langsung memberikan buku menu pada Tyas.
"Mau pesan apa Ko, Dav?" tanya Tyas yang membuat Ami serta Beni langsung menatap ke arah Tyas, karena pasalnya wanita yang bekerja sebagai sekretaris CEO itu memanggil atasnya hanya dengan nama tanpa embel-embel tuan muda atau apalah.
Riko dan Tyas pun mulai mengatakan menu apa yang mereka inginkan, setelah itu baru Davin yang terakhir.
"Ck." decak Sira tiba-tiba yang membuat semua orang sontak langsung menatap ke arahnya.
"Ra." tegur Ami dengan pelan.
"Apa? Orang aku cuma berdecak aja kok." sahut Sira dengan biasa aja.
"Permisi." kata salah seorang pelayan yang mengantarkan pesanan mereka.
"Jangan makan sambel banyak-banyak." kata Davin sambil memegang tangan Sira yang hendak menyendokkan kembali ke piringnya untuk yang kedua kali. "Nanti kalau perut kamu sakit gimana?"
Menu yang Sira pesan adalah ayam bakar lengkap dengan sayur asam juga sambalnya.
Tak ingin berdebat, Sira pun lebih menurut apa yang di katakan oleh Davin.
Di sela-sela makan mereka, tiba-tiba Davin menyodorkan satu sendok yang berisi makanan miliknya tepat di depan mulut Sira yang mau tak mau Sira pun melahapnya meskipun matanya langsung melihat ke arah Davin juga yang lainnya terutama kedua sahabatnya, Sira ingin tau gimana ekspresi mereka saat ini.
__ADS_1
Ami tampak menyenggol tangan Beni sambil menatap ke arah Sira juga Davin secara bergantian.
"Enak?" tanya Davin.
"Hem, lumayan." sahut Sira setelah menelan makannya.
Davin lebih memilih memesan ikan gurame bakar dengan cah kangkung sebagai pelengkapnya.
"Kenapa gak bilang kalau makan disini, hem?" tanya Davin sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Sira. "Kalau taukan jadi bisa bareng." sambungnya.
Sira yang di perlakukan seperti itu pun menjadi salah tingkah, apalagi di sana ada sahabatnya yang sama sekali belum tau hubungan mereka.
"Tadi itu gak di rencana kalau mau makan di sini." jawab Sira.
Ami yang tak sengaja melihat ke arah jari manis Davin juga Sira yang ada di atas meja pun langsung berbisik pada kekasihnya.
"Coba kamu lihat cincin yang di pakai Sira sama tuan muda Davin." bisik Ami. "Hampir sama gak sih..." sambungnya yang masih tetap berbisik.
Beni pun langsung melakukan apa yang di katakan sang pacar, sedetik kemudian Beni pun menganggukkan kepalanya, karena benar apa yang di katakan Ami...hanya beda versi, yang satu versi cowok dan yang satunya lagi versi cewek.
Uhuk...Uhuk...
Sira yang sedang menikmati sayur asam miliknya tak sengaja tersedak dengan kuah sayur, sontak saja Davin langsung dengan sigap menyodorkan satu gelas air minumnya pada Sira.
"Hati-hati sayang." ucap Davin keceplosan memanggil Sira dengan sebutan sayang sangking khawatirnya.
"Sayang." beo Ami dan Beni berbarengan.
"Eh gini Mi, Ben...kami itu...sebenarnya kami..." kata Sira yang terpotong oleh Davin, bahkan pemuda itu pun langsung menggenggam tangan Sira yang ada di sebelahnya.
"Jadi gini...Sira itu kekasih sekaligus tunangan saya." potong Davin yang membuat Ami juga Beni langsung kaget bahkan mulut Ami pun sampai mangap di buatnya, mereka seakan masih belum percaya kalau ternyata sahabat mereka yang tak pernah keluar, tak pernah dekat dengan laki-laki bisa manjadi tunangan dari atasan mereka perusahaan.
"Aku minta maaf gak bilang ini ke kalian." ucap Sira saat dirinya di tatap dengan tajam oleh kedua sahabatnya. "Nanti...nanti aku ceritain ke kalian." sambung Sira.
"Bagus dan akan kami tagih hutang penjelasan dari kamu." sahut Ami.
"Iya, tapi please jangan bilang hal ini ke yang lain...karena aku gak mau ada yang tau tentang hubungan kami." kata Sira dengan wajah memohon.
"He'em." sahut Ami sambil mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengiyakan.
__ADS_1
"Makan siang kali ini biar saya yang teraktir." kata Davin.
"Terimakasih tuan muda."