
❤️ Happy Reading ❤️
Ke esokan harinya Sira melakukan serangkaian tes untuk lebih mengetahui secara pasti kondisinya saat ini, bahkan diam-diam dengan di bantu sang pengacara, Davin meminta bukti hasil visum Sira sebagai tambahan bukti.
"Sayang, kenalin ini Ardi...pengacara aku." kata Davin memperkenalkan seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
Dahi Sira sedikit mengernyit saat Davin mengatakan kata pengacara.
"Selamat siang nona Sira."
"Selamat siang pak."
"Apa boleh kita berbicara tidak terlalu formal?" tanya Ardi yang di layangkan pada Sira tapi justru tatapan matanya melihat ke arah Davin.
"Ah tentu saja." sahut Sira.
"Kalau begitu panggil aku Ardi saja jangan dengan menggunakan embel-embel pak dan aku akan memanggilmu Sira." ujar Ardi yang di angguki oleh Sira. "Aku itu salah satu sahabat dari calon suami kamu ini." sambungnya lagi dengan tangan yang sudah merangkul bahu Davin.
"Sayang, aku mau tanya...sebenarnya apa yang terjadi denganmu kemarin? kenapa kamu bisa sampai seperti ini?" tanya Davin yang kini sudah beralih duduk di samping Sira.
"Ah itu...aku...aku hanya kurang hati-hati saja sehingga aku terpeleset dan jatuh dari tangga." jawab Sira yang sengaja berbohong.
Ardi dan Davin sontak saja saling tatap begitu mendengar apa yang Sira katakan.
"Apa kamu lupa kalau kita memasang kamera di dekat sana?" tanya Davin yang membuat Sira terdiam seketika, ini yang Sira lupakan...jadi sudah jelas niatnya yang tak ingin membuat keruh suasana akan sia-sia. "Kenapa kamu bohong, hem?" tanya Davin dengan sebelah tangan yang mengelus puncak kepala Sira.
"Aku cuma gak mau bikin keadaan tambah kacau." lirih Sira.
"Ini sudah kriminal sayang, apalagi ini bukanlah hal yang pertama kali." kata Davin menggenggam tangan Sira. "Gak ada yang bisa menjamin dia gak bakal ngelakuin ini lagi dan aku gak mau kamu celaka." sambungnya.
"Tapi Dav..." kata Sira.
"Ini bukan faktor kecelakaan...tapi Cika memang dengan sengaja mendorong kamu dan aku sudah melihat rekamannya." potong Davin.
"Apa? Cika...jadi Cika yang lakuin ini?" tanya mama Dinar yang kebetulan baru saja datang bersama dengan papa Diki dan sempat mendengar apa yang Davin katakan.
Kalau papa Diki sudah tak begitu terkejut, paling tidak dirinya sudah sedikit banyak tau tentang apa yang pernah menantu pertamanya itu lakukan pada Davin juga Sira. Tapi jelas berbeda dengan ibu dua anak itu, mama Dinar tentu saja sangat kaget mendengarnya.
__ADS_1
"Dav, Ra...apa benar semua ini?" tanya mama Dinar yang langsung menghampiri anak dan calon menantunya.
"Iya ma dan ini bukan yang pertama kali." jawab Davin. '' Mama ingat waktu Sira terkunci di toilet?" tanya Davin yang di angguki oleh mama Dinar. " Itu dia yang melakukan." sambungnya lagi yang membuat mama Dinar syok sampai menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangannya.
Mama Dinar langsung di tuntun oleh papa Diki untuk duduk di sofa.
Tubuhnya seakan lemas seketika mendengar kenyataan yang baru saja di dengarnya ini. Dia sama sekali tak menyangka jika ternyata menantunya berani melakukan tindakan kriminal seperti ini.
"Kenapa? kenapa Cika sampai melakukan semua ini? Apa masalahnya?" tanya mama Dinar.
"Semua kerena obsesi ma." jawab papa Diki yang langsung membuat mama Dinar menoleh ke arahnya
"Masud papa apa? Obsesi apa?" tanya mama Dinar.
"Terobsesi pada Davin." jawab papa Dinar. "Cika mencintai Davin." sambungnya yang membuat mata mama Dinar langsung terbelalak.
"Cika mencintai Davin? Tapi dia sudah punya Damar pa." kata mama Dinar. "Tunggu dulu...papa kok sepertinya sudah tau tentang semua ini?" tanya mama Dinar yang baru sadar jika suaminya itu banyak tau.
Papa Diki menghela nafasnya sebentar barulah menceritakan semuanya dari awal dirinya mulai curiga saat Davin yang tiba-tiba pergi dengan beralasan keluar kota.
"Jadi waktu itu kamu bohong?" tanya mama Dinar yang mengalihkan pandangannya ke sang putra.
"Jadi bukti apa yang kamu kantongi?" tanya papa Diki.
Davin mulai memutar video yang ada di ponselnya yang langsung terhubung dengan kamera yang dia pasang.
Davin menunjukan rekaman saat Cika mengurung Sira di toilet, kemudian Cika yang masuk ke dalam kamarnya, lalu yang terakhir bukti Cika yang dengan sengaja mendorong Sira dari atas tangga.
Mama Dinar tak menyangka Cika bisa seperti ini.
"Bagaimana pa?" tanya Davin.
"Lakukan apa yang menurut kamu benar, papa tak akan menghalangi apa yang kamu putuskan." jawab papa Diki setelah mengembuskan napasnya.
"Ar, tolong urus kasih ini." kata Davin pada Ardi, keputusannya sudah benar-benar bulat untuk mengkhasuskan Cika ke jalur hukum.
Jika kakaknya membela Cika, Davin juga tak masalah...karena Cika istrinya. Bahkan dia sudah begitu siap untuk berhadapan sang kakak karena merasa memiliki bukti yang kongkret.
__ADS_1
❤️
"Mama sama papa kemana lagi bik?" tanya Damar yang hendak sarapan, tapi tak melihat siapa pun di ruang makan.
"Nyonya dan tuan pergi ke rumah sakit tuan muda." jawab sang art.
"Ck, memang parah? Kok sampai segitunya...semalam pulang sangat larut dan ini pagi-pagi sudah pergi lagi." sahut Cika.
Mereka berdua memang sudah di beri tau oleh salah satu art jika Sira di larikan ke ruang sakit karena jatuh dari tangga.
"Kita mau jenguk gak?" tanya Damar sambil mengambil makanan.
"Maleslah, ngapain." sahut Cika.
Mereka berdua pun langsung menyantap sarapannya karena Damar harus berangkat untuk bekerja.
Setelah Damar berangkat bekerja...siang harinya ada pihak berwajib yang menyambangi kediaman Ardiansyah.
"Ada apa?" tanya Cika yang sudah menemui aparat kepolisian yang mencarinya.
"Kami ke sini untuk membawa ibu ke kantor." jawab sang polisi. "Ini surat penangkapan ibu atas apa yang ibu Sira alami." sambungnya lagi.
"Apa-apaan ini...ini gak mungkin, jangan sembarangan ya kalian!" bentak Cika.
"Kami hanya menjalankan perintah, jadi mohon kerja samanya." sahut salah satu dari mereka. "Ibu bisa menghubungi pengacara untuk mendampingi." sambungnya.
Karena Cika terus menolak untuk pergi, akhirnya wanita itu di bawa paksa dengan tangan yang sudah di pegang oleh dua polisi wanita di kanan dan kirinya.
Begitu sampai di kantor polisi, Cika langsung meminta agar bisa menghubungi suaminya.
Damar yang ada di perusahaan pun begitu kaget mendengarnya dan langsung bergegas menuju kesana.
"Sayang..." panggil Damar yang baru saja sampai dan melihat Cika sedang di interogasi oleh pihak berwenang.
Cika pun langsung berdiri dan memeluk tubuh Damar.
"Dam, aku gak salah." kata Cika dengan tangisannya.
__ADS_1
"Kenapa istrinya saya di tahan pak?" tanay Damar dengan masih memeluk tubuh Cika. "Dan siapa yang melaporkan?" tanya Damar yang merasa jika istrinya itu tak memiliki musuh.
"Istri anda di tahan atas dugaan telah mencelakai ibu Sira." jawabnya. "Kasus ini di laporkan oleh ibu Sira dan bapak Davin Ardiansyah." jawabnya lagi yang membuat Cika dan Damar kaget, namun sedetik kemudian Damar mengepalkan tangannya karena begitu marah dengan sang adik.