
❤️ Happy Reading ❤️
Seperti kata Sira, hari ini adalah weekend jadi dirinya dan davin akan melakukan sesi prewedding untuk pernikahan mereka berdua.
Mau acara yang sederhana saja karena males ribet, tapi gak bisa ... sudah kalah omongan dulu sama keluarga Davin saat dulu waktu mereka mau tunangan. Mereka sudah memenuhi permintaan Sira untuk mengadakan acara pertunangan dengan sangat sederhana di rumahnya, kini gantian dirinyalah yang harus menuruti permintaan keluarga Davin untuk mengelar acar pernikahan sesuai keinginan mereka.
Bukan berniat menghambur-hamburkan uang, namun jika mengingat siapa keluarga mereka...tak mungkin akan mengelar acara yang sederhana, karena sudah dapat di pastikan kalau tamunya bakal berapa banyak dan pastinya dari kalangan menengah ke atas semua.
Jam tujuh pagi Davin sudah standby di rumah Sira, bahkan dirinya pun tadi tak sempat untuk sarapan di rumah, maka dari itu pagi ini Davin ikut sarapan di rumah calon mertuanya.
"Pagi amat datangnya?" tanya Sira saat menemui Davin yang sudah duduk manis di ruang tamu.
"Biar gak terlalu kena macet, tau sendirikan kalau ini weekend." jawab Davin. "Lagi pula mama sudah ribut banget, nyuruh aku cepat berangkat." imbuhnya.
"Sudah sarapan belum?" tanya Sira lagi yang di jawab dengan gelengan kepala peluh si empunya. "Ya udah kalau gitu sarapan dulu, aku juga belum sarapan soalnya." kata Sira yang kini langsung berdiri dari duduknya.
Mereka berdua pun langsung pergi ke ruang makan untuk sarapan bersama. Menu makanannya pun hanya sederhana mengingat keluarga Sira adalah keluarga yang biasa-biasa aja.
"Maaf ya, menu sarapannya hanya ini saja." ucap Sira yang menyendokkan nasi ke piring Davin.
"Kenapa minta maaf ... ini bahkan sudah lebih dari cukup." sahut Davin.
Menu sarapan pagi ini adalah nasi goreng, sama telur ceplok, tahu goreng juga kerupuk.
Begitu sarapan selesai mereka berdua langsung bergegas berangkat agar tak kesiangan, kasian juga sama tim photonya yang harus menunggu kalau mereka telat.
❤️
Perjalanan dari rumah Sira menuju ke lokasi membutuhkan waktu sekitar hampir satu setengah jam.
Sesampainya di sana tenyata tim sudah ofa datang dan tinggal menunggu mereka, semuanya pun sudah di setting sedemikian rupa.
"Selamat pagi tuan muda, nona." sapa ketua tim menyapa Davin dan Sira yang baru saja tiba.
"Selamat pagi." sahut Davin, sedangkan Sira hanya menampilkan senyum tipisnya saja.
"Maaf tuan, mau langsung mulai atau ..." kata ketua tim yang bernama Andi di name tagnya.
"Langsung saja." potong Davin.
Davin dan Sira langsung di arahkan ke ruang ganti untuk memakai pakaian yang akan mereka gunakan untuk sesi yang pertama ini.
Banyak sekali photo yang mereka ambil, dari indoor juga outdoor, dari pagi hingga sore hari.
__ADS_1
Setelah semua photo selesai, bahkan photo pun sudah di pilih, kini tiba saatnya mereka semua untuk kembali.
"Terimakasih." ucap Davin saat dirinya dan Sira hendak pulang.
"Terimakasih tim, kalian sungguh sangat luar biasa." puji Sira dalam mengucapkan rasa terimakasihnya.
"Sama-sama tuna muda, nona, ini sudah tanggungan jawab kami." sahut Andi si ketua tim.
"Ini untuk kalian." kata Davin begitu meminta uang yang tadi sempat dirinya titipkan pada Sira.
"Terimakasih tuan muda, nona." ucap mereka semua.
"Semoga acaranya lancar hingga hari H dan semoga pernikahan tuan dan nona langgeng untuk selamanya." sambung Andi.
"Amin." sahut semuanya termasuk Sira dan Davin.
Davin memang sempat mengambil beberapa yang uang cash saat mereka beristirahat tadi, dia sudah berniat untuk memberikan bonus pada mereka karena Davin begitu suka serta puas dengan apa yang mereka kerjakan.
"Kami duluan." kata Davin lagi.
"Hati-hati tuan, nona dan semoga selamat sampai tujuan." sahut Andi.
Begitulah Davin, pemuda yang cool bahkan terkesan dingin, tegas dan seolah tak tersentuh, namun dia tak akan segan-segan untuk memberikan bonus jika melihat hasil kerja yang begitu sangat memuaskan, karena menurutnya menghargai hasil kerja keras itu sangat penting.
❤️
"He'em, kamu juga pulangnya hati-hati, jangan ngebut-ngebut dan langsung istirahat." pesan Sira.
"Iya sayangku...cintaku." sahut Davin yang gemas sendiri sampai mengacak-acak rambut di puncak kepala Sira sehingga membuat si empunya merenggut.
"Ish kebiasaan." sahut Sira sambil merapikan rambutnya kembali.
"Habisnya gemes banget aku." kata Davin. "Sudah sana masuk dan sampaikan salamku pada ibu, bilangin juga maaf gak bisa mampir." katanya lagi.
"Iya, sampai rumah jangan lupa kabarin." sahut Sira yang di angguki oleh Davin.
Pemuda itupun langsung pergi meninggalkan rumah Sira begitu sang pujaan hati telah masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum ... Sira pulang Bu." seru Sira begitu masuk ke dalam rumah.
''Waalaikumsalam." sahut ibu Lena membalas salam dari putrinya. "Kok sampai jam segini Ra?" tanya ibu Lena yang tau kalau Sira dan Davin pergi dari pagi, karena putrinya itu tadi sempat memberitahukan padanya pas berangkat.
"Iya Bu, perjalanannya aja hampir satu jam setengah...belum lagi sesi photonya." sahut Sira.
__ADS_1
"Kamu sudah makan belum? Dan Davin mana, gak mampir?" berondong ibu Lena secara bertubi-tubi.
"Aku sama Davin tadi sempat beli makan pas perjalan pulang dan Davin tadi titip salam sama titip permintaan maaf gak bisa mampir ke ibu." jawab Sira.
"Gak apa-apa, gak perlu minta maaf ... Ibu bisa ngerti pasti kalian capek dan lagian ini juga sudah malam." sahut ibu Lena. "Kamu masuk gih, istirahat ... besok harus berangkat kerjakan." sambungnya lagi.
"Iya Bu, kalau begitu Sira langsung masuk ke kamar ya." sahut Sira. "Ibu juga harus istirahat." katanya lagi.
"Iya sayang." kata ini Lena.
Tak jauh berbeda dari Sira, setelah sampai rumah ... Davin langsung membersihkan tubuhnya dan mengirim pesan pada Sira lalu segera beristirahat.
Capek ... tapi gak bisa libur karena mengingat dirinya sebentar lagi bakal ambil cuti yang lumayan lama, jadi dirinya harus bisa menyelesaikan pekerjaannya agar tak menumpuk, dia juga tak mau jika nanti saat honeymoon bersama sang istri harus di recoki dengan urusan pekerjaan.
❤️
"Bagaimana kemarin Dav? Lancar" tanya mama Dinar saat mereka berkumpul untuk sarapan.
Memang waktu yang paling bisa mereka manfaatkan itu saat seperti ini, sarapan juga makan malam yang mana semua anggota keluarga berkumpul.
"Lancar ma, tinggal nunggu hasil cetaknya aja." jawab Davin.
"Pulang jam berapa kamu semalam?" tanya Damar.
Karena saat Davin pulang memang semua penghuni rumah utama sudah berada di kamar mereka masing-masing.
Penghuni rumah utama di sini yaitu mama Dinar, papa Diki, Damar juga Davin sama kepala art. Sedangkan para pekerja mereka tinggalnya di paviliun belakang.
"Hampir jam sepuluhan kayaknya." jawab Davin lagi. "Em Davin berangkat duluan ya ma, pa, kak ... biasa mau jemput Sira duluan soalnya." katanya lagi sambil berdiri dari duduknya.
"Hati-hati dan salam buat calon mantu mama." kata mama Dinar.
"Sip ma, nanti Davin sampek'in." sahut Davin sambil menyalami tangan sang mama.
"Kamu kapan Dam? Kamu gak ingin seperti Davin?" tanya mama Dinar begitu Davin sudah pergi menyisakan tiga orang di sana.
"Ingin ma, tapi belum dapet aja jodohnya." sahut Damar. "Lagian aku juga gak mau terlalu terburu-buru yang mengakibatkan aku jadi salah pilih lagi ma." imbuhnya lagi. "Damar juga pamit, mau berangkat." katanya yang kemudian langsung berdiri dan berjalan untuk bermalam dengan kedua orangtuanya.
"Hati-hati." pesan mama Dinar yang di angguki oleh Damar.
Rasanya jadi tak enak dan tak nyaman, mungkin seperti ini juga yang dulu di rasakan Davin saat dirinya sudah menikah dan selalu di desak untuk mencari pasangan.
"Ma, jangan terlalu mendesak Damar." kata papa Diki mengingatkan. "Damar pernah terluka ma, jadi biarkan dirinya menyembuhkan dulu lukanya sehingga bisa menata hatinya kembali." sambungannya lagi secara bijak.
__ADS_1
"Iya pa." sahut mama Dinar. "Mama cuma ingin Damar juga bahagia, mama tak ingin putra mama terlalu lama terpuruk dalam kesedihan pa." imbuhnya dengan wajah yang sudah begitu sendu.
"Iya papa ngerti, karena yang mama rasakan juga papa rasakan, tapi kita juga tak bisa terlalu memaksanya ma." kata papa Diki. "Papa gak mau kalau karena hal ini dia jadi lebih tertekan." ujarnya.