
❤️ Happy Reading ❤️
Acara pertunangan putri ibu Lena pagi ini menjadi buah bibir di kalangan ibu-ibu yang belanja di tukang sayur maupun di warung.
Pasalnya mereka begitu ingin agar nanti putri mereka bisa mendapatkan pria yang menjadi tunangan putri tetangganya itu.
"Pantas saja selama ini banyak pria dari daerah sini yang di tolak dia, eh gak taunya yang di cari em...em...em..." kata salah satu ibu-ibu yang ada di sana yang bernama Wati.
"Orang kaya kata ya bu'?" tanya saah satu ibu-ibu yang memang kemarin tak bisa ikut membantu karena ada keperluan sendiri. "Saya dengar dari suami saya katanya apa-apanya serba mewah." ceritanya.
"Iya bener bu', cicitnya saja sepertinya berlian asli, belum lagi gelang keluarga turun temurunnya...kelihatan mewah." kata yang lain.
"Barang bawaannya juga gak kalah mewah dan juga banyak." sahut lainnya.
"Bener-bener dapat orang kaya tuh si Sira...sultan." kata ibu lain.
"Ibu Lena sama putrinya bener-bener beruntung."
"Tolak pria sana sini yang di cari tenyata pria kaya." kata ibu Ida yang satu frekuensi dengan ibu Wati. "Cih, dasar matre." cibirnya.
"Khem..." dehem Sira yang sudah berdiri di dekat para ibu-ibu yang sedang membicarakan dirinya sehingga membuat ibu-ibu itu sedikit gelagapan terutama yang telah membicarakan hal buruk tentangnya. "Maaf ya ibu-ibu yang terhormat, saya dan ibu saya tidak pernah mengusik atau membicarakan yang tentang tidak-tidak tentang kalian selama ini, jadi tolong jangan usik keluarga saya." kata Sira dengan begitu tenaganya. "Rezeki, jodoh dan maut, Kuta tidak ada yang bisa menebaknya, kalau saya mendapatkan orang yang kaya mungkin itu adalah nasib baik saya." sambungnya lagi. "Bu' Titin, ini saya di minta ibu untuk ngasih ibu ke ibu." kata Sira menyodorkan satu plastik pada si ibu penjual sayur keliling.
"Ini apa neng Sira?" tanyanya.
"Hanya sedikit makanan bu'." sahut Sira.
"Terimakasih ya neng, sampaikan juga sama ibunya." ucap bu' Titin.
"Saya permisi ya bu', mari." pamit Sira yang langsung berbalik melangkah pergi, namun baru tiga langkah Sira berjalan dirinya menghentikan langkahnya dan berbalik kembali. "Oiya maaf ya ibu-ibu saya bukan perempuan matrealistis tapi saya realistis, karena beli mahar itu mahal dan berbagai kebutuhan kita juga butuh uang, ya kali kita bisa kenyang jika hanya makan cinta" kata Sira pelan namun kena di hati kemudian pergi dari sana.
Perkataan Sira itu bisa membungkam mulut beberapa ibu-ibu yang ada di sana, namun ada juga yang masih saja mencibirnya.
__ADS_1
"Halah itu mah cuma pembelaan darinya saja." kata ibu Wati yang masih memprovokasi ibu-ibu yang ada di sana.
"Hus ibu Wati, itu yang di katakan sama neng Sira bener loh." kata bu' Titin di penjual sayur. "Kita ibu apa-apa butuh uang, apalagi saat ini kebutuhan bahan pokok harganya semakin meningkat...belum lagi biaya anak sekolah." sambungnya.
Ibu Wati yang mendengar perkataan ibu Titin itu pun langsung pergi dari sana bersama ibu Ida dengan perasan kesal.
Sedangkan di rumah, Sira yang baru saja masuk terus saja ngedumel hingga di tegur sama ibunya.
"Kamu ini kenapa nak? Baru dari depan kok mukanya sudah di tekuk kayak gitu." tanya ibu Lena.
"Itu bu', ibu-ibu di depan pada ngomongin Sira...katanya Sira itu matre." sahut Sira dengan sewot karena masih merasa kesal sehingga membuat ibu Lena tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat ekspresi sang putri yang begitu sangat menggemaskan.
"Sudah biarkan saja, gak usah di dengerin...nanti malah bikin tambah sakit hati." kata ibu Lena. "Mandi sana...biar kamu lebih rileks." katanya lagi.
Sira yang dasarnya memang belum mandi pun menuruti kata sang ibu dan langsung masuk kedalam kamarnya.
❤️
Tok
Tok
Tok
"Tuan muda!" seru salah satu art yang diminta oleh mama Dinar untuk memanggil Davin.
Merasa terusik, dengan terpaksa Davin langsung turun dari ranjangnya dan berjalan dengan gontai menuju ke arah pintu, karena mau teriak menyahut kata-kata sang art pun gak mungkin, yang di luar gak bakal denger karena kamarnya di lengkapi dengan fasilitas kedap suara.
Cklek
"Hem, ada apa?" tanya Davin dengan suara seraknya.
__ADS_1
"Itu tuan muda di minta sama nyonya untuk turun sarapan." jawab sang art.
"Bilangin ke mama kalau aku masih ngantuk dan pengen tidur." kata Davin. "Aku sarapan nanti dan satu lagi...jangan ada yang ganggu aku." sambungnya yang kemudian langsung menutup serta tak lupa mengunci pintu agar kehadiran tempo lalu tak terjadi lagi.
Davin langsung kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan tidur kembali.
Selain ingin bermalas-malasan karena hari ini adalah hari libur, Davin juga masih terlalu mengantuk sebab entah pukul berapa dirinya baru bisa terpejam.
Sejak pulang dari rumah Sira, matanya seakan enggan untuk di ajak telelap...karena selalu saja terbayang wajah pujaan hatinya yang berguru cantik malam tadi, apalagi dengan pakaian kebaya warna hijau Sage yang membuat dirinya terlihat sangat anggun.
Bahkan semalam dirinya juga sempat berguling-guling serta meloncat-loncat di atas ranjang bak seorang ABG yang sedang jatuh saja.
Di lantai bawah, mama Dinar yang mendengar perkataan sang art pun mendengus kesal.
"Mau kemana ma?" tanya papa Diki ketika mama Dinar baru berdiri dari duduknya.
"Mau manggil Davin pa, masa mau tidur terus...dia juga butuh makan." sahut mama Dinar.
"Sudah biarkan saja ma, beri dia waktu istirahat...apalagi ini weekend." cegah papa Diki. "Lagian putramu itu bukan lagi anak kecil, jadi kalau lapar pasti dia juga akan turun untuk mengisi perutnya." sambungnya lagi. "Duduk ma...kita mulai sarapannya, perut papa juga sudah merasa lapar ini." imbuhnya lagi yang akhirnya membuat mama Dinar duduk kembali di kursinya.
"Ma, Sira itu tak sederajat dengan kekuatan kita...kenapa mama sama papa biarin Davin mau menikah sama tuh perempuan." kata Cika ketika mama Dinar masih mengambilkan makan untuk suaminya.
Mendengar perkataan sang menantu langsung membuat pergerakan tangan mama Dinar terhenti.
"Cika..." tegur mama Dinar.
"Yang di katakan Cika itu benar ma, lagian bagaiman kalau perempuan itu hanya ingin numpang hidup saja sama Davin." timpal Damar.
"Keluarga kita bukan tipe keluarga yang membeda-bedakan seseorang hanya demi. hartanya saja." sahut mama Dinar. "Lagian gak masalah kalau Sira hanya ingin numpang hidup pada Davin, karena sudah kewajiban Davin sebagai seorang pria yang kelak akan manjadi suami untuk menghidupi istrinya." sambungnya lagi.
"Sudah-sudah...kita mau sarapan." kata papa Diki yang membuat Damar dan Cika langsung terdiam.
__ADS_1