Tiba-tiba Jadi Calon Istri Orang

Tiba-tiba Jadi Calon Istri Orang
Bab 76


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


Ibu Lena sengaja pulang lebih pagi dari biasanya, bahkan beberapa kuenya pun masih tersisa.


"Tumben jam segini sudah pulang Bu?" tanya Sira yang sedikit kaget karena melihat ibunya sudah ada di apartemen padahal jam masih menunjukan pukul setengah sebelas, biasanya ibunya itu akan sampai di apartemen sekitar pukul dua siang. "Ibu gak apa-apa? Gak sakitkan?" tanya Sira lagi yang kali ini sudah menunjukan wajah khawatirnya.


"Enggak, Ibu gak apa-apa kok." jawab ibu Lena.


"Terus?" tanya Sira.


"Ibu sengaja pulang cepat, karena ibu ingin membuat kue." jawab ibu Lena. "Ibu ingin mengundang para tetangga nanti untuk datang ke rumah sebagai bentuk syukur selesainya rumah kita yang di renovasi." sambungnya.


"Sira pikir Ibu kenapa-napa." sahut Sira. "Ibu istirahat dulu, nanti Sira bantu untuk bikin kuenya." kata Sira lagi yang di angguki oleh sang Ibu.


Usia yang sudah tidak muda lagi memang sering berimbas dengan tubuh yang mudah lelah.


Keduanya kemudian masuk ke kamar masing-masing, Ibu Lena lebih memilih untuk membersihkan diri dan mengistirahatkan tubuhnya sebentar, sedangkan Sira berniat untuk menghubungi sang suami.


Beberapa kali Sira coba untuk menghubungi Davin, nomor memang aktif namun tak kunjung juga di angkat oleh yang punya handphone sehingga membuat Sira akhirnya menyerah namun dengan berbagai gerutuan yang keluar dari mulutnya.


"Kemana sih tu orang, di hubungi tapi gak di angkat." gumam Sira. "Buat apa coba punya ponsel kalau gak ada gunanya kayak gini." imbuhnya lagi sambil melempar ponselnya di ranjang.


Untung gak mental ke lantai, jadi ponselnya masih aman.


Sira kemudian berlaku ke kamar mandi dan setelahnya memilih untuk merebahkan tubuhnya di ranjang, dia ingin tidur siang sebentar barang setengah sampai satu jam.


Semenjak tak menikah dengan Davin, Sira sekarang jadi rutuk untuk tidur siang, padahal dulu jarang sekali. Mungkin ini semua adalah efek dari kegiatan rutin mereka berbagi peluh setiap malam yang menyebabkan tubuh Sira lelah juga jam tidur malamnya menjadi terpangkas.


Davi. hampir tak pernah absen meminta jatahnya setiap malam dan Sira sama sekali tak bisa menolaknya. Sentuhan sensual dari Davin begitu sangat membuatnya mudah terbuai.


❤️


Di tempat lain, ada Davin yang baru saja selesai meeting dengan para petinggi perusahaannya.


Davin yang baru keluar dari ruang meeting dengan di dampingi Riko di kejutkan dengan kehadiran sang kakak yang tiba-tiba datang.

__ADS_1


"Loh Kak." kata Davin saat sang kakak berjalan menghampiri. "Dari mana? kok gak telpon dulu mau ke sini?" tanyanya lagi.


"Kebetulan aku lagi ada pertemuan deket sini, jadi semakin mampir." jawab Damar.


"Selamat siang Tuan muda." sapa Riko.


"Selamat siang Ko." sahut Damar.


"Keruangan aku aja Kak, kita ngobrol di sana." ajak Davin, karena gak mungkin jugakan mereka berbincang di lorong seperti ini.


Mereka berdua berjalan bersama dengan sedikit berbincang dengan Riko yang berjalan di belakang mereka berdua.


Tak jarang para karyawan wanita yang bertemu dengan mereka berdua sedikit mencuri perhatian dari dua kakak adik tersebut.


"Tuan Damar dan Tuan Davin benar-benar sangat tampan ya."


"Hem ... matang, tampan dan mapan."


"Ngidam apa ya dulu Nyonya Ardiansyah sampai punya anak-anak dengan paras bak dewa Yunani seperti itu.


"Bukan masalah ngidamnya, tapi Nyonya dan Tuan besar Ardiansyah itu cantik dan tampan, jadi wajar kalau putra-putranya good looking, apalagi di tambah finansial mereka yang tak main-main."


"Khem."


"Pa-Pak Riko." cicit mereka semua yang memang sedang asik ngerumpi sehingga tak menyadari ada tangan kanan bos yang sudah berdiri di dekat mereka.


Mereka taunya Riko sudah ikut pergi dengan Davin juga Damar, tapi siapa sangka sang asisten bos malah sudah ada di sana.


"Kalau sudah bosan kerja, kirim surat pengunduran diri ke pihak HRD." kata Riko dengan wajah datarnya serta tatapan mata yang tajam.


"Eng-enggak Pak Riko." lirih mereka.


Riko memilih pergi dari hadapan mereka dan hak itu sedikit membuat para karyawan wanita tadi sedikit bernapas lega.


"Hah untung saja." kata salah satunya dan langsung pergi ke tempat kerja masing-masing sebelum kena teguran kembali yang membuat pekerjaan mereka melayang begitu saja.

__ADS_1


❤️


"Ada apa Kak? Kok kelihatan suntuk gitu." tanya Davin ketika sudah berada di ruangannya.


"Gak apa-apa Dav, cuma lagi banyak kerjaan aja." sahut Damar.


"Banyak kerjaan atau lagi banyak pikiran?" tanya Davin lagi dengan penuh selidik. "Sibuk mikirin masa lalu ... mikirin Cika." tebaknya.


"Kamu tau aku ada dia sudah berhubungan cukup lama Dav, jadi wajar jika aku masih kepikiran dengan dirinya." sahut Damar berkata yang sejujurnya.


Tak ada gunanya untuk dia tutup-tutupi, toh saat ini dirinya memang sedang membutuhkan teman untuk berbicara.


"Aku tau Kak, tapi come on ... jangan terus terjebak dengan masa lalu." sahut Davin. "Masa depan masih terbentang panjang di hadapan kakak ... move on, masih banyak wanita di luaran sana yang lebih baik dari Cika, Kakak hanya perlu meninggalkan masa lalu dan membuka hati kembali." kata Davin memberikan saran dengan panjang lebar.


"Tak semudah itu Dav." kata Damar.


"Iya memang tak semudah itu, namun juga harus berusaha." sanggah Davin.


"Gimana kabar istri dan mertua kamu Dav?" tanya Damar yang mengalihkan pembicaraan. Dia tak ingin terus di cecar sang adik meskipun tak bisa dia pungkiri jika apa yang di katakan oleh Davin memang benar adanya.


"Mereka baik Kak." jawab Davin. "Kabar Mama sama Papa gimana?" tanya Davin yang memang beberapa hari ini tak bertukar kabar dengan kedua orangtuanya ataupun berkunjung ke sana.


"Mama sama Papa juga baik." jawab Damar.


Tak berselang lama, Tyas masuk ke ruangan big bos dengan membawa beberapa kantong plastik berisikan makanan. Dirinya memang tadi sempat di minta untuk memesan makanan untuk makan Davin dan Damar.


"Tuan muda, tadi saya kirim email ke ponsel Anda terkait kerja sama kita dengan perusahaan Adi Jaya." kata Tyas sebelum meninggalkan ruangan Davin.


Davin pun langsung mengambil ponselnya untuk melihat apa yang sudah di katakan oleh Tyas tadi.


"Astaga." gumam Davin.


"Ada apa Dav? Apa ada masalah?" tanya Damar yang mendengar gumaman sang adik.


"Oh enggak Kak, ini cuma tadi Sira sempet hubungi aku beberapa kali." jawab Davin.

__ADS_1


Ada perasaan tak enak karena dia seperti mengabaikan istrinya saat ini, ya meskipun dia sama sekali tak bermaksud dan juga tak di sengaja.


"Cepat telpon balik, siapa tau ada hal yang penting." kata Damar yang di angguki Davin, karena memang tak biasa-biasanya Sira menghubunginya dengan banyak panggilan seperti ini, di layar ponsel Davin tertera ada panggilan tak terjawab sebanyak sepuluh kali dan itu dari sang istri semua.


__ADS_2