Tiba-tiba Jadi Calon Istri Orang

Tiba-tiba Jadi Calon Istri Orang
Bab 55


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


Sidang perceraian telah di putuskan, kini Cika dan Damar sudah resmi secara hukum dan agama bukan lagi pasangan suami istri. Cika yang tetap kekeh ingin mempertahankan rumah tangganya, nyatanya harus menelan kekecewaan karena semua bukti yang telah di lontarkan oleh Damar melalui pengacaranya.


Karena selama proses persidangan, Damar sekali pun tak pernah hadir, sehingga mempercepat proses perceraian.


Saat putusan perceraian di bacakan pun yang datang hanya pengacaranya serata kedua orangtuanya.


"Maafkan kami terutama Damar tuan Candra." kata papa Diki mewakili keluarganya.


"Tuan Diki dan keluarga tak sepatutnya meminta maaf, harusnya kamilah yang meminta maaf pada Damar dan keluarga." sahut pak Candra dengan sangat legowo.


"Entah kenapa anak itu bisa bertindak begitu bodoh, sehingga menyia-nyiakan suami yang begitu sangat menyayanginya." sambung Lisa yang tak habis pikir dengan jalan pikiran putrinya.


Sudah dapat suami tampan, mapan, baik dengan latar belakang pendidikan juga keluarga yang baik serta terpandang, eh malah seperti ini. Dan yang lebih parahnya yang di sukai adalah adik dari suaminya sendiri yang notabene sudah memiliki tunangan.


"Mungkin memang takdir jodoh mereka hanya cukup sampai di sini jeng." sahut mama Dinar.


Setelah mengobrol beberapa saat, akhirnya mama Dinar beserta kedua orang Cika berpisah. Orangtua Damar kembali ke rumah sedangkan orangtua Cika akan menemui putri mereka sejenak.


❤️


Selang tiga hari, Cika kembali di hadirkan ke persidangan namun dalam konteks yang berbeda.


Kali ini bukan Damar yang di hadapinya melainkan Davin serta Sira dalam kasus kriminal yang menjeratnya.


Dalam kasus ini Cika di kenakan pasal berlapis atas tuduhan perbuatan tidak menyenangkan serta percobaan pembunuhan.


"Maafkan putri om Dav." ucap tuan Candra begitu sidang telah usah dan Cika sudah di jatuhi hukuman selama beberapa tahun.

__ADS_1


"Saya sudah memaafkannya om, tapi maaf kasus hukum harus tetap berjalan." sahut Davin.


''Iya om tau dan agar semua ini menjadi pelajaran untuk Cika, supaya anak itu bisa lebih introspeksi diri." kata tuan Candra.


Tuan Candra bisa saja minta pada keluarga besannya itu untuk mencabut tuntutan, atau dirinya juga bisa menggunakan yang serta kekuasaannya untuk memperingan masa hukuman Cika. Tapi tuan Candra tak mau itu, bukannya tega namun agar semua pelajaran ini bisa membuat Cika lebih baik lagi. Malu...tentu saja, namun tuan Candra tak ingin terlalu membela Cika, agar anaknya itu tak semaunya lagi...harus ada konsekuensi yang kita terima jika kita melakukan sesuatu, ada akibat pasti ada sebab dan jangan di lupakan jika di dunia ini kita tabur tuai, yaitu apa yang kita lakukan pasti akan mendapat balasannya.


"Maafkan putri tante ya nak." kata nyonya Lisa pada Sira.


"Saya sudah memaafkannya Tante." ucap Sira.


"Terimakasih ya nak, kalian berdua sudah mau memaafkan Cika." kata nyonya Lisa.


"Tuhan saja bisa memaafkan kesalahan umatnya yang notabene adalah mahluk ciptaannya, sedangkan kami apa tante...kami ini hanyalah orang biasa yang tentunya juga pernah melakukan sebuah kesalahan." sahut Sira.


"Semoga hubungan kalian langgeng dan kami tunggu undangannya." kata nyonya Lisa lagi.


"Ya sudah Dav, kalau begitu om sama tante pamit dulu...mau lihat Cika." pamit tuan Candra.


Sebagai orangtua, mereka ingin memastikan keadaan putrinya dalam keadaan baik-baik saja...ya walaupun mereka tau pastinya Cika tak akan baik-baik saja.


"Iya om, hati-hati." sahut Davin.


"Huh...akhirnya." gumam Sira saat kedua orangtua Cika Mukai berjalan menjauh.


"Kenapa?" tanya Davin saat mendengar kekasihnya itu menghela nafas yang terdengar tak biasa.


"Akhirnya selesai juga...jadi lega rasanya." kata Sira. "Plong gitu rasanya." sambungnya lagi yang membuat Davin tersenyum.


"Yuk pulang." ajak Davin.

__ADS_1


"Hem." sahut Sira. "Eh Dav, aku besok kerja ya?" tanya Sira dengan penuh harap.


Davin seketika langsung menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Sira.


"Aku sudah hampir setengah bulan loh gak kerja, gak enak sama karyawan yang lain kalau cuti lama-lama." kata Sira. "Lagian aku juga sudah cukup sehat dan bosen tau di rumah terus." katanya lagi yang langsung menyampaikan apa yang dia rasakan.


"Huft...baiklah." kata Davin yang langsung membuat senyum Sira terlihat sangat lebar. "Tapi..." kata Davin lagi.


"Tapi apa?" sela Sira yang sudah penasaran sehingga memotong kata-kata Davin.


"Berangkat sama pulangnya bereng sama aku." jawab Davin.


"Yah Dav, akukan.." kata Sira langsung melayangkan protesnya.


Okelah bareng, tapikan gak setiap hari juga. Dia juga ingin pergi berangkat serta pulang sendiri atau bereng sama sahabatnya.


"Iya atau tidak usah kerja." tegas Davin. "Besok aku akan minta Riko untuk buat surat pemutusan kerja untuk kamu." ancamnya.


"Eh jangan dong Dav, akukan masih mau kerja." kata Sira dengan tatapan memohon, bahkan saat ini tangannya sudah memegang salah satu tangan Davin dan menggoyang-goyangkannya.


"Terserah, pilihan ada pada kamu." kata Davin.


"Iya...iya...aku bareng sama kamu setiap hari, berangkat sama pulang." kata Sira dengan sewot. "Puas." ketusnya lagi.


"Nah gitu dong." shaht Davin. "Puas banget " imbuhnya dengan penuh kemenangan.


Sira yang kesal langsung berjalan begitu saja meninggalkan Davin, sehingga pemuda itu harus berjalan menyusulnya.


Tanpa permisi, begitu posisi langkah mereka sejajar...Davin langsung menautkan jari-jari tangan mereka berdua sehingga kini mereka berjalan menuju ke arah parkir dengan saling bergandengan tangan.

__ADS_1


__ADS_2