
❤️ Happy Reading ❤️
"Makan siang bareng ya Ra? sudah lama loh kamu gak makan siang bareng kita." kata Ami yang mulai mengeluarkan unek-unek yang ada di hatinya.
Jika orang bilang Sira hanya jadi obat nyamuk yang terus mengikuti Ami dan Beni, maka akan langsung Ami patahkan perkataan itu.
Karena bagi Ami dan Beni, Sira adalah sahabat terbaik mereka berdua dan Sira sama sekali tak seperti itu di mata mereka.
Mereka justru merasa kehilangan sosok Sira, saat Sira tak lagi sering pergi bareng dengan mereka.
Ami dan Beni memang sepasang kekasih, mereka punya waktu sendiri di mana saatnya mereka memadu kasih, tapi jika bersama Sira ya seperti layaknya seorang sahabat biasa.
"Aduh maaf ya Mi, bukannya aku gak mau, tapi aku bener-bener gak bisa." jawab Sira.
"Kamu sekarang jauh Ra ... kamu seperti menghindari kami." kata Ami mengatakan apa yang ada di pikirannya saat ini. "Apa semua ini karena kamu takut menggangu kami berdua? Jangan dengerin kata orang Ra, karena semua itu gak bener, aku sama Beni sama sekali tak terganggu, justru merasa ada yang beda kalau kamu gak ada." papar Ami.
"Bener apa yang di katakan Ami Ra, terlepas dari hubungan spesial antara aku dan Ami ... kita bertiga ini adalah sahabat." timpal Beni yang juga sudah berdiri dari kursinya dan menghampiri kedua wanita itu.
"Enggak ... bukan itu kok Mi, Ben." kata Sira. "Aku beneran gak bisa karena aku sudah ada janji sama orang buat makan siang." sambung Sira. "Next time kita makan siang lagi sama-sama, bukankah masih ada banyak waktu untuk kita menghabiskan waktu luang bersama." ujar Sira.
"Aku kok jadi curiga ya sama kamu." kata Ami dengan memincingkan matanya. "Aku merasa ada sesuatu yang kamu sembunyiin dari kita berdua." katanya lagi.
"Apaan sih Mi, gak ada." kata Sira namun Ami masih saja menatap Sira dengan tatapan penuh selidik sehingga membuat Sira sedikit salah tingkah.
"Woi kerja ... kerja ... ngobrol teros!" seru Mona dari balik kubikel miliknya.
"Iya tau tuh ... mau makan gajih buta!'' sambung Lina yang tak kalah keras membuat Ami dan Beni mendengus kesal lalu kembali ke meja masing-masing.
❤️
Tok
__ADS_1
Tok
Tok
Klik
"Mau kemana?" tanya Sira setelah masuk kedalam mobil milik Davin.
"Makan diluar." jawab Davin dengan singkat.
Pemuda itu pun mulai menginjak pedal gas mobilnya.
"Tumben." kata Sira.
"Sekali-sekali gak apa-apalah ... selain cari susana di luar, biar kamu gak bosen makan siang di ruangan aku terus." sahut Davin yang membuat Sira tersenyum.
"Mau makan di mana saja, bagi aku itu gak masalah Dav." sahut Sira.
"Selamat siang ... selamat datang di restoran kami." sambut salah satu pelayan saat Davin dan Sira baru masuk.
Davin sama sekali tak menanggapinya, pria itu tetap saja menampilkan wajah datarnya, berbeda dengan Sira yang membalasnya dengan senyum di bibirnya.
"Selamat siang Tuan muda Ardiansyah." sapa seorang paruh baya dengan tampilan pakaian formal yang rapi datang tergopoh menghampiri Davin dan Sira yang masih berdiri di dekat pintu masuk. "Mari silahkan Tuan, saya akan tunjukan ruangan yang sudah di reservasi atas nama anda." katanya lagi dengan begitu sopan.
Davin dan Sira jalan mengekor pada pria paruh baya yang tadi menyapa mereka sampai di depan sebuah pintu sebuah ruangan VVIP.
Cklek
"Silahkan Tuan ... Nona."
Tak berselang lama ada pelayan yang datang dan memberikan buku menu pada Davin juga Sira.
__ADS_1
Sementara pria yang tadi mengantar mereka sudah undur diri terlebih dahulu.
"Dav." panggil Sira saat Davin tengah fokus dengan ponselnya sambil menunggu pesanan mereka yang belum datang.
"Hem." sahut Davin yang langsung meletakkan ponselnya. "Ada apa?" tanyanya menatap ke arah Sira.
"Boleh gak kalau besok aku gak makan siang sama kamu?" tanya Sira.
"Kenapa? Kamu mulai bosen makan siang terus sama aku?" tanyanya.
"Enggak bukan begitu Dav, tapi aku gak enak sama Ami juga Beni ... berkali-kali aku sudah menolak ajakan makan siang mereka." jawab Sira. "Bahkan Ami pun sampai mencecar karena curiga sama aku." imbuhnya. "Aku sampai bingung mau ngomong apa untuk membatu alasan." keluhnya.
"Salah sendiri yang mau hubungan kucing-kucingan kayak gini, jadi bingung dan capek sendirikan." sahut Davin.
"Ya aku cuma belum siap aja untuk menghadapi pro dan kontra." kata Sira membela diri. "Jadi gimana? Boleh ya?" tanyanya lagi.
"Hem oke, tapi hanya besok saja." kata Davin.
"Iya.'' sahut Sira. "Manja banget, biasanya juga makan sendiri." cibir Sira.
"Ya itukan dulu Ra, sebelum ada kamu." sahut Davin. "Sekarang aku sudah terbiasa dengan adanya keberadaan kamu di sisi aku." sambungnya sambil memegang tangan Sira yang ada di atas meja.
Pembicaraan keduanya pun terhenti kala ada pelayan yang datang untuk mengantarkan makan pesanan mereka berdua.
"Oiya tadi mama kirim pesan, katanya besok sore kita di minta untuk mampir ke butik langganannya buat pilih baju untuk tunangan nanti." kata Davin di sela makan mereka. "Sama bilang ke ibu kalau besok siang mau di ajak juga buat pas baju bareng sama mama, nanti mama jemput di rumah." sambungnya lagi.
"Iya nanti aku bilang sama ibu." sahut Sira.
Mau acara pertunangan biasa saja seribet ini, gimana kalau pesta besar-besaran seperti yang diinginkan keluarga Davin pada mulanya ... entah akan sesibuk apa jadinya.
Dan Sira bukan tipe orang yang mau ribet, dia lebih suka yang simpel-simpel aja.
__ADS_1