Tiba-tiba Jadi Calon Istri Orang

Tiba-tiba Jadi Calon Istri Orang
Bab 47


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


Bugh


Cika yang melihat usahanya untuk mendorong Sira berhasil pun langsung pergi dari sana dan langsung masuk kembali ke kamarnya sebelum ada orang yang melihat dirinya.


"Heh, di bilangin baik-baik gak bisa, rasakan itu." gumam Cika saat baru masuk kamar. "Sira...Sira...selamat bertemu dengan malaikat mautmu." gumamnya lagi disertai seringai di bibirnya.


Cika kembali merebahkan tubuhnya di samping Damar yang tidur dan berpura-pura memejamkan matanya seolah-olah sedang tidur.


Sedangkan di lantai bawah sang art yang melihat Sira tergeletak di bawah tangga dengan bersimbah darah pun langsung menjerit histeris.


"Astaga...nona Sira!" teriaknya. "Nyonya...tuan...tolong...tolong!" teriaknya lagi sambil duduk bersimpuh di samping Sira.


Mama Dinar dan papa Diki yang memiliki kamar dilantai bawah pun sedikit terusik dengan teriakan itu.


"Ada apa pa? Kok bibi tumben teriak-teriak gitu." tanya mama Dinar yang baru keluar dari dalam kamar mandi.


"Gak tau ma...ayo kita keluar." kata papa Diki.


Mama Dinar dan papa Diki pun keluar kamar bersama untuk memastikan ada apa gerangan.


"Ada apa ini?" tanya mama Dinar saat melihat para pekerjanya berkumpul di bawah tangga.


"Nyo...nya, no...na Sira." sahut salah satu art dengan tergagap karena merasa syok.


"Sira kenapa?" tanya mama Dinar dengan perasaan yang sudah tak enak.


Para pekerja pun sedikit menyingkir sehingga mama Dinar dan papa Diki bisa melihat Sira yang tak sadarkan diri dengan kepalanya yang terluka.


"Sira!" seru mama Dinar yang langsung menghambur ke arah Sira. "Bi, ini Sira kenapa bi? kenapa bisa seperti ini?" tanya mama Dinar dengan berderai air mata.


"Davin, mana tuan muda Davin?'' tanya papa Diki.


"Tuan muda sepertinya masih di atas tuan." jawab salah satu dari mereka.


"Panggil tuan Davin, dan pak Tejo...siapkan mobil, kita akan langsung berangkat kerumah sakit." perintah papa Diki yang harus segera mengambil tindakan.


Salah satu art langsung bergegas naik kelantai atas, bahkan bisa di bilang sampai sedikit berlari Agra segera sampai di kamar tuan mudanya.


Bukan lagi ketukan, tetapi gedoran yang dia layangkan di pintu tak berdosa kamar Davin karena ini sedang dalam keadaan darurat.


"Ck, siapa sih gedor pintu kencang bener." gumam Davin yang kebetulan sedang duduk di sofa untuk memeriksa email yang masuk pada ponselnya dari Riko.


Mendengar gedoran yang tak berhenti dan malah semakin kencang, Davin pun langsung membuka pintunya.


"Ada apa bi?" tanya Davin saat melihat si penggedor seperti sedang dalam keadaan panik.

__ADS_1


"Itu...no...nona Sira tuan." kata sang art sambil menunjuk ke arah bawah.


"Sira kenapa bi?" tanya Davin yang ikutan panik.


"No...nona Sira jatuh dari tangga." jawabnya.


Davin yang mendengar hal itu pun sontak langsung berlari.


Kakinya terasa begitu lemas saat melihat keadaan Sira di bawah sana.


"Sira..." lirih Davin yang jadi berjalan perlahan karena sangking lemasnya, kakinya bahkan terasa begitu berat untuk menopang bobot tubuhnya sendiri.


Air mata pun tak lagi bisa terbendung sehingga lolos begitu saja.


"Dav, ayo Dav bawa Sira ke rumah sakit!" seru papa Diki yang seolah menyadarkan Davin dari segala kesedihannya.


Davin langsung membopong tubuh Sira ala bridal style menuju ke mobil yang sebelumnya sudah di siapkan oleh pak Tejo yang merupakan salah satu supir keluarga Ardiansyah.


Papa Diki duduk di kursi depan samping supir, sedangkan Davin dan mama Dinar duduk di kursi belakang dengan Sira.


"Lebih cepat lagi pak." pinta Davin yang merasa mobil mereka melaju dengan sangat lambat padahal sebenarnya tidak begitu.


Melihat kemacetan di depan sana membuat Davin keluar dari dalam mobil.


"Ma, titip Sira." kata Davin saat hendak membuka pintu mobil.


"Aku harus lihat di depan sana ada apa ma, biar kita tak kejebak macet." sahut Davin yang langsung keluar betutu saja tanpa mendengarkan panggilan dari sang mama.


Yang ada di pikiran Davin saat ini hanya bagaimana caranya supaya dirinya bisa membawa Sira dengan cepat ke rumah sakit sehingga bisa segera mendapatkan pertolongan.


"Maaf, di depan sana ada apa ya?" tanya Davin pada salah seorang pengendara motor yang kebetulan mereka berboncengan.


"Oh itu pak, ada mobil yang mogok katanya dan sedang di dorong ke pinggir." jawab salah satu dari mereka. "Ada apa pak?" tanyanya kerena melihat noda darah di kaos yang ini di kenakan Davin.


Noda darah yang bersumber dari kepala Sira saat dirinya mengendong untuk masuk mobil tadi.


"Itu calon istri saya sedang terluka dan tak sadarkan diri jadi kami mau membawanya ke rumah sakit." jawab Davin. "Saya kembali ke mobil dulu, terimakasih tadi informasinya." ucap Davin yang langsung berlari ke arah mobilnya kembali.


Karena penasaran, salah satu dari pengedaran motor itu pun mengikuti Davin dari belakang.


"Dav." panggil mama Dinar saat Davin masuk ke dalam mobil kembali.


"Ada kendaraan mogok di depan sana ma." jawab Davin dengan lesu.


Davin menatap ke arah Sira, mengelus dengan perlahan pipi calon istrinya itu.


"Kamu harus bertahan Ra, demi aku, demi ibu...demi hubungan kita." ucap Davin dengan lirih setelah itu mengecup dengan lembut kening Sira tepat di sebelah luka yang ada pada wanita itu.

__ADS_1


Mama Dinar yang melihat betapa rapuhnya sang putra pun kembali lagi menangis dengan tersedu.


Tok


Tok


Tok


Merasa pintu mobilnya di ketuk, membuat Davin langsung menurunkan kaca mobilnya.


"Kamu..." kata Davin.


"Saya cuma mau lihat keadaan calon istri bapak.'' katanya.


Setelah melihat bagaimana keadaan Sira, pemuda itu pun langsung mengatakan sesuatu pada Davin.


"Saya dan teman saya tadi akan membantu bapak agar dapat akses jalan, jadi tolong tetap di belakang motor kami." katanya dan langsung pergi begitu saja.


Dan benar saja...mereka berdua meminta beberapa pengendara agar membantu mendorong kendaran yang mogok tadi Agra segera minggir. Kemudian meminta agar mereka sedikit memberikan jalan untuk mobil milik Davin yang tentu saja mereka memberitahu ada keadaan darurat yang mengharuskan segera sampai ke rumah sakit.


Tak hanya itu sesampainya di rumah sakit, dua orang itu dengan cekatan langsung memanggil perawat sehingga begitu mobil Davin sampai Sira langsung bisa di bawa ke ruang tindakan.


"Terimakasih atas bantuan kalian." ucap Davin dan papa Diki.


"Itu sudah kewajiban kami sebagai sesama manusia pak." ucap salah satunya.


"Kalau boleh tau kalian berdua tadi hendak kemana?" tanya papa Diki lagi.


"Kami mau berangkat ke kampus pak."


"Oh jadi kalau ini masih mahasiswa, di universitas mana? sama jurusan apa?" tanya papa Diki lagi.


"Di universitas xx, jurusan perhotelan pak." jawabnya.


"Begitu ya..." kata papa Diki.


"Kami permisi dulu pak, semoga mbaknya tadi segera sembuh."


"Terimakasih ya..." ucap Davin yang langsung menyahut.


"Ini, untuk kalian sekedar membeli bensin...mohon di terima ya." kata papa Diki memberikan beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan.


"Ah gak usah pak, kami beneran ikhlas menolong." tolak mereka.


"Kalau begitu, ini." kata Davin memberika kartu namanya masing-masing satu. "Kalau kalian butuh kerjaan, kalian datang saja ke perusahan saya." sambungnya lagi.


"Terimakasih pak." ucap mereka.

__ADS_1


"Saya tunggu kehadiran kalian."


__ADS_2