
❤️ Happy Reading ❤️
Pagi ini Davin keluar dari kamarnya dengan wajah bersinar juga lebih fresh, senyuman pun tak pernah surut dari bibirnya semenjak bangun tidur tadi.
"Ah beginikah rasanya punya kekasih hati." gumamnya yang lagi-lagi tersenyum. "Baru mau tunangan aja senengnya kayak gini, kalau udah nikah kayak apa ya senengnya." sambungnya lagi dengan memegang dagunya menggunakan ibu jari serta jari telunjuknya.
Melihat jam yang ada di atas nakas, membuatnya turun dengan tergesa. Pasalnya pagi ini dirinya akan ada janji penting dengan salah satu kolega bisnisnya. Belum lagi dirinya ke rumah Sira untuk menjemput sang pujaan hati kerena akan berangkat kerja bersama.
"Selamat pagi Ma, Pa, Kak." sapa Davin sambil menarik kursi untuk dirinya duduk.
"Wah anak mama, bahagia banget nih." kata mama Dinar yang melihat kecerahan dari wajah sang putra.
"Iya dong Ma." kata Davin.
Seluruh anggota keluarga itu pun akhirnya memulai sarapan pagi mereka, mereka yang memiliki kesibukan di luar kecuali mama Dinar dan Cika, takut terkena macet di jalan yang berimbas telat menuju ke tempat kerja masing-masing.
"Berangkat dulu ya Ma, Pa." pamit Davin.
"Hati-hati sayang dan salam untuk Sira." sahut mama Dinar.
"Iya Ma." kata Davin.
Tak sampai setengah jam Davin sudah sampai di pelataran rumah Sira.
Pemuda itu lantas segera bergegas untuk turun dan mengetuk pintu di depannya yang saat ini masih tertutup rapat.
Tiga kali ketukan Davin layangkan, sehingga ada seseorang dari dalam yang membukanya.
Cklek
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Selamat pagi calon istri." sapa Davin yang entah kenapa beberapa hari belakangan ini pandai sekali bermulut manis, tapi justru hal itu kadang membuat Sira sangat lucu ... karena tidak sesuai dengan karakter yang selama ini Davin tampilkan, namun juga ada perasaan bahagian di hati Sira mendapatkan perlukan yang spesial dari pemuda yang memang banyak di gandrungi kaum hawa itu.
__ADS_1
"Masuk Dav." kata Sira yang sedikit menggeser tubuhnya untuk mempersilahkan Davin masuk ke dalam.
"Eh Nak Davin." kata ibu Lena yang tengah menata kotak-kotak yang berisi barang dagangannya di meja ruang tamu.
"Selamat pagi Bu." sapa Davin yang tak lupa mengalami tangan tua itu dengan takzim sebagain rasa hormatnya.
"Selamat pagi." sahut ibu Lena. "Sudah sarapan belum? sarapan dulu ya, biar Sira siapin." kata ibu Lena yang jelas melukiskan sebuah perhatian.
"Terimakasih Bu, tidak usah tadi sudah sarapan sebelum kesini." tolak Davin dengan begitu sopan.
"Aku ke dalam ambil tas dulu ya Dav." kata Sira yang juga tak ingin kesiangan sampai kantor.
"He'em." sahut Davin.
"Ibu tinggal kebelakang sebentar ya." kata ibu Lena yang ikut pergi dari sana.
"Iya Bu, silahkan." kata Davin.
Tak berselang lama, kedua wanita beda generasi namun sama-sama cantik itu kembali ke ruang tamu dimana Davin berada.
"Saya juga pamit Bu." kata Davin yang ikut menyalami ibu Lena.
"Kalian hati-hati dan ini kalian bawa." kata ibu Lena sambil menyerahkan dua kotak yang berisi kue ke tangan Sira. "Satu untuk kamu dan satu lagi nak Davin." kata ibu Lena lagi.
"Malah jadi ngerepotin kalau kayak gini Bu." kata Davin.
"Ngerepotin apa ... " ujarnya. "Sudah sana kalian berangkat biar gak kejebak macet." kata ibu Lena yang mengusir dengan halus.
"Apa Ibu gak mau sekalian kami antar?" tanya Davin.
"Gak usah, Ibu sudah persen ojek online, palingan sebentar lagi juga datang." sahut ibu Lena. "Gak enak juga kalau harus di batalin.'' imbuhnya.
"Kita berangkat dulu ya Bu." pamit Sira lagi dan di angguki sang ibu.
❤️
__ADS_1
"Oiya Dav, kenapa pas kalian kerumah Kak Damar sama istrinya yang pengemar berat kamu itu gak ikut?" tanya Sira saat mereka di mobil membelah jalanan kota. " Sebenernya aku sudah ingin tanya ini pas kalian ke rumah." sambungnya.
"Walaupun mendengar kalau kita akan bertunangan, hubungan aku dan kakakku belum juga membaik Ra, masih sama saja dan dia gak mau ikut." jawab Davin. "Ya udah ... masa harus aku paksa, aku seret-seret gitu biar ikut atau aku gendong kayak anak kecil ... kan gak lucu Ra ... Sira sayang." sambung Davin yang di selingi candaan.
"Ish kamu masih sempet-sempetnya bercanda kayak gitu." kata Sira. "Pengaruh istrinya kuat juga ya Dav, salut ... patut di kasih dua jempol sama tepuk tangan." kata Sira lagi.
"Sebenarnya sebelum aku berangkat ... Cika sempat masuk ke kamar aku." kata Davin yang membuat Sira kaget.
"Kok bisa?" tanya Sira.
"Aku sih yang salah, sudah teledor gak kunci pintu ... masuk langsung aja mandi karena sudah gak sabar untuk ketemu kamu sama ibu buat nyampein kabar baik tentang hubungan kita, jadi ya gitu deh." kata Davin sedikit mengangkat kedua bahunya.
"Ceroboh banget sih." kata Sira. "Atau kamu jangan-jangan sengaja ya, biar Cika masuk ke kamar kamu dan goda-goda kamu, seneng digituin." ketus Sira yang entah kenapa jadi merasa kesal membayangkan Cika masuk ke kamar Davin.
"Loh ... loh ... loh kok jadi marah sih, malah nuduh aku yang macam-macam." kata Davin. "Kamu cemburu ya ... Hayo ngaku." godanya dengan tangan yang sempat-sempatnya sedikit mencolek dagu Sira menggunakan jari telunjuknya.
"Enggak ... siapa yang cemburu." kilah Sira dan langsung memalingkan wajahnya menghadap keluar.
"Cemburu juga gak apa-apa ... aku malah seneng, itu artinya kamu beneran cinta sama aku." ujar Davin. "Asal cemburunya jangan terlalu berlebihan ya." ucapnya lagi yang kini malah mengacak-acak puncak kepala Sira.
"Ih Davin, kamu bikin rambut aku berantakan tau." protes Sira dengan kesal.
"Tapi gak ngilangin kecantikan kamu kok sayang." kata Davin yang membuat wajah Sira tersipu.
"Ini mulut ya ... sejak kapan pinter banget ngomong manis." kata Sira lagi.
"Sejak jatuh cinta sama kamu.'' sambar Davin. "Nih ... " kata Davin memberikan ponselnya yang sedari tadi tergeletak di dashboard mobil.
"Apa?" tanya Sira.
"Buka dan lihat rekaman video tentang Cika yang masuk ke kamar aku." jawab Davin.
"Gak usahlah Dav." tolak Sira.
"Gak, kamu harus lihat biar gak salah paham dan terprovokasi nanti saat Cika ngomong macem-macem sama kamu." kata Davin pelan namun sedikit penekanan seolah tak ingin terbantahkan. "Passwordnya tanggal lahir kamu." kata Davin yang membuat Sira langsung menatap ke arahnya. "Sudah buka dan gak usah banyak tanya." kata Davin seolah tau jika Sira hendak mengatakan sesuatu.
__ADS_1
Sira pun lebih memilih menurut dan membukanya, dia juga penasaran apa yang di lakukan Cika di kamar calon tunangannya itu.