
❤️ Happy Reading ❤️
Hampir satu bulan Davin beserta istri dan mertuanya tinggal di apartemen. Bahkan mama Dinar dan papa Diki serta Damar pun sudah beberapa kali berkunjung kesana ataupun sebaliknya Davin serta Sira dan ibu Lena yang bertandang ke kediaman Ardiansyah.
"My cherry, rumahkan sudah hampir selesai ... em bisa dibilang sudah 95%, jadi aku mau kamu memilih furniture yang akan kita gunakan." kata Davin sambil memeluk tubuh Sira yang bersandar pada dada bidangnya seusai mereka bertarung malam ini.
"Benarkah?" tanya Sira memastikan apa yang di dengarnya, bahkan wanita itu sampai mengangkat wajahnya agar bisa melihat Davin.
Cup
Di tatap Sira seperti itu membuat Davin tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, di kecupnya bibir manis yang kini sudah begitu membuatnya candu.
"Makanya aku ingin kamu memilih furniture, jadi lusa kita bisa langsung pindah." kata Davin.
Pria itupun langsung meraih ponsel miliknya yang tergeletak di atas nakas.
Di carinya situs penjualan perabot dan keperluan rumah tangga secara online dengan toko yang sudah tak diragukan lagi sepak terjangnya.
"Pilih, mau yang mana dan apa aja." kata Davin menyodorkan ponselnya pada Sira.
"Ini memang gak apa-apa aku pegang dan pakai handphone kamu by?" tanya Sira dengan tangan yang masih belum menerima ponsel yang si sodorkan untuknya.
"Tentu saja dong Cherry, apa yang jadi milikku tentu saja menjadi milikmu dan begitu pula sebaliknya." sahut Davin. "Tak ada rahasia apapun yang aku sembunyikan dari kamu, karena aku ingin rumah tangga kita di landasi dengan saling terbukanya dan saling percaya." sambungnya lagi.
"Aku pun juga by." kata Sira yang kemudian mengecup bibir Davin secara sekilas.
__ADS_1
Mendapatkan perlakuan seperti itu dari sang istri yang sangat jarang sekali membuat dirinya merasa bahagia.
Sira pun kemudian mulai berselancar di dunia maya, jarinya dengan begitu lincah mulai mencari-cari sesuatu.
Pertama yang Sira pilih adalah kursi ruang tamu, kursi ruang makan, bahkan sampai ke kebutuhan kamar, hingga dapur pun tak luput dari pencariannya.
"Yah, kok habisnya banyak banget." gumam Sira saat melihat jumlah nominal di kayar dan perkataannya itu masih terdengar di telinga Davin. "Aku cari yang lain saja kali ya, siapa tau dapat harga yang lebih murah." gumamnya lagi.
"Sudah tak apa, yang penting kamu suka ... jangan pikirkan berapa harga serta berapa habisnya." kata Davin dengan tiba-tiba saja saat jari tangan Sira hendak menggeser layar ponsel untuk mencari yang lebih murah.
"Tapi ini jatuhnya mahal banget by, sayang uangnya." kata Sira.
Davin pun langsung merampas ponsel milik Sira untuk memesan semuanya.
Uang Davin yang seakan tak berseri begitu tak berarti jika hanya menghabiskan beberapa ratus juta untuk membeli furniture dan perabotan.
"Memangnya besok kamu gak berangkat kerja by?" tanya Sira.
"Berangkat." jawab Davin. "Aku akan mengantar kamu terlebih dahulu ke rumah baru berangkat, nanti pulangnya aku jemput." sambungnya lagi.
"Tumben ngebolehin aku buat lihat rumah? Biasanyakan selalu kamu larang." kata Sira yang selama perbaikan rumah tak sekalipun di ijinkan oleh Davin untuk melihat ke sana.
"Kemarin aku melarangmu ke sana karena masih tahap renovasi jadi berbahaya buat kamu, kalau sekarangkan perapiannya sudah selesai di bagian dalam, tinggal di luarnya saja." kata Davin mengungkapkan alasan kenapa melarang sang istri ke rumah kemarin-kemarin. "Inikan sudah lain cerita my cherry atau kamu besok gak usah ke sana ... biar semuanya di tata oleh orang suruhan aku saja." imbuhnya.
"Eh enggak, enak saja." sahut Sira dengan cepat. "Aku juga ingin ikut andil, ya meskipun hanya memilih furniture serta menata tata letaknya saja." imbuhnya lagi dengan bibir yang sudah mengerucut.
__ADS_1
"Mau aku cium lagi." kata Davin yang membuat Sira mengernyit. "Tuh bibir di monyong-monyongin gitu." sambungnya.
"Ish, dasar nyebelin." kata Sira.
"Nyebelin kayak gini tapi ngangenin kan." kata Davin dengan percaya diri membuat Sira mencebikan bibirnya.
Dengan gerakan secepat kilat Davin pun langsung merampas bibir Sira dengan begitu rakusnya hingga mereka mengulang lagi kenikmatan yang baru beberapa menit lalu mereka lakukan sehingga membuat Sira sedikit kewalahan dalam menghadapinya.
Sira yang tak banyak bergerak saja sudah lemas di buatnya, tapi Davin yang bergerak liar sama sekali tak berpengaruh. Seolah pria itu sama sekali tak ada lelahnya dan memiliki tenaga yang ekstra.
❤️
Entah pukul berapa pergulatan panas mereka berdua berakhir, tapi yang jelas selepas sholat subuh Sira lebih memilih untuk merebahkan tubuhnya kembali karena terasa begitu pegal, tulang-tulangnya seakan remuk, bahkan matanya pun begitu sangat enggan untuk terbuka.
Dan Davin begitu sangat kasihan serta sedikit merasa bersalah melihat bagaimana sang istri. Entah kenapa dirinya begitu sulit untuk menahan serta mengendalikan gejolak yang ada di tubuhnya saat berdua dengan Sira.
"Maafkan aku my cherry dan selamat beristirahat." bisik Davin tepat di telinga Sira dan setelah itu baru keluar. Tak lupa pula di kecupnya kening sang istri dengan sangat dalam.
"Sudah bangun Dav? Siranya mana?" tanya ibu Lena yang memang sudah berada di dapur untuk menyiapkan sarapan serta dagangannya.
"Sira masih di kamar Bu." jawab Davin.
"Pasti masih tidur ya, dasar anak itu sudah punya suami juga masih aja seenaknya." gerutu ibu Lena.
"Gak apa-apa Bu." sahut Davin. ''Mungkin Sira lelah." imbuhnya.
__ADS_1
"Lelah apa, orang dia itu di apartemen juga gak ngapa-ngapain kok."ujar ibu Lena dengan cepat, Davin hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal saat mendengar omongan ibu mertuanya.
Padahal ibu Lena tak tau saja betapa capeknya sang putri karena ahrus melayani suaminya yang tak tau waktu dan tak kenal lelah.