
❤️ Happy Reading ❤️
Terjawab semua dugaan serta pertanyaan yang ada di dalam pikiran Davin juga Sira.
Istri dari CEO DV corp itu kini telah berbadan dua dengan usia kandungan yang masih berumur beberapa Minggu, yang berarti masih begitu rentan untuk mengalami yang namanya keguguran.
"Apa kamu beneran gak tau kalau di sini ada baby my cherry?" tanya Davin dengan satu tangan menggenggam tangan Sira dan satunya lagi dia gunakan untuk menyentuh perut rata yang kini menjadi tempat untuk bersemayam sang jabang bayi.
"Aku beneran gak tau By." jawab Sira. "Maaf kalau karena kecerobohan aku hampir saja mengakibatkan baby kenapa-napa." lirih Sira dengan kepala yang menunduk.
Sira merasa bahwa dirinya adalah calon ibu yang buruk.
"Shuttt ... ini sama sekali bukan salah kamu my cherry." kata Davin. "Baik kamu ataupun aku sama sekali gak ada yang tau juga menyadari akan hal ini." sambungnya. "Em tapi kalau di pikir-pikir akhir-akhir ini aku sama sekali tak ada liburnya, jatah aku rutin setiap hari." kata Davin lagi yang langsung di hadiahi sebuah cubitan di tangannya.
Lagian Sira begitu gemas, kenapa dalam keadaan seperti ini suaminya itu malah membahas hal-hal yang iya-iya.
"Auww ... Auww, kok di cubit sih." protes Davin.
"Sukurin, salah siapa ngomong kayak gituan." kata Sira.
Cklek
"Sayang, Nak." panggil ibu Lena yang berjalan tergopoh-gopoh menghampiri sang putri yang berada di beri rumah sakit. "Sira, kamu gak apa-apa kan Nak? Mana yang sakit, hem?" tanya ibu Lena secara beruntun karena terlalu khawatir.
Bagaimana tidak, baru pulang dari toko ... dirinya sudah di beri tahu jika putri tercintanya di bawa ke ruang sakit dengan tak sadarkan diri.
Hal itu sudah membuat pikirannya kemana-mana. Pernah mengalami di tinggalkan satu anaknya untuk menghadap ke hadapan Ilahi, membuat rasa cemasnya begitu kuat karena di setia dengan rasa takut yang luar biasa.
"Sira gak apa-apa Bu, aku baik-baik saja." sahut Sira yang mengerti dengan apa yang di rasakan ibunya.
"Kalau gak apa-apa gak mungkin kaku sampai di bawa ke sini." sahut ibu Lena yang tak terima karena putrinya itu mengatakan tidak apa-apa.
__ADS_1
"Ak-- "
"Dav." perkataan Sira harus terpotong karena ada orang yang masuk ke dalam ruang rawat Sira.
Yang datang adalah mama Dinar juga papa Diki dan Damar. Keluarga Davin itu langsung meluncur ke ruang sakit begitu Davin memberi kabar juga menantu keluarga Ardiansyah itu di rawat di sana.
"Mama, Papa, Kakak." panggil Davin.
"Bagaimana keadaan Sira Dav?" tanya mama Dinar, mereka tak kalah khawatir dengan ibu Lena.
"Sebenarnya kami punya kabar baik untuk kalian semua." kata Davin.
"Kamu ini istri masuk rumah sakit kok malah katanya mau memberi tahu kabar baik." sahut Damar. "Mau ngelucu kamu." cibirnya.
"Dengerin dulu Kak." kata Davin. "Hem sebenarnya Sira itu saat ini sedang mengandung buah hati kami, tapi ... " kata Davin yang menggantung perkataannya sehingga membuat semua yang ada di sana menjadi penasaran.
"Tapi apa Dav?" tanya mama Dinar dengan tak sabar.
"Hamil ... Sira hamil?" tanya mama Dinar yang masih seperti belum percaya dengan apa yang dikatakan oleh putra keduanya.
Jujur kabar ini adalah kabar yang sudah di tunggu-tunggu oleh keluarga Ardiansyah dari semenjak Damar menikah dulu.
"Iya Ma, tak lama lagi Mama akan menjadi Oma-Oma." jawab Davin.
"Akh ...Papa ... Papa ...kita akan punya cucu Pa." kata Mama Dinar yang sampai berjingkrak-jingkrak.
''Ma ... Mama ... inget umur Ma." kata Damar yang ngeri sendiri melihat para yang di lakukan sang mama.
"Habisnya Mama itu seneng banget Dam." sahut Mama Dinar.
"Seneng sih seneng, tapi kalau Mama malah jadi kejengklak gimana." ujar Damar.
__ADS_1
"Ish kamu ini." kata mama Dinar. "Sayang ... Selamat ya." ucapnya yang kini beralih pada menantunya.
"Iya terimakasih Ma." sahut Sira dan satu persatu dari mereka pun mengucapkan hal yang sama pada Davin dan Sira.
"Dav, pokoknya kamu harus jaga baik-baik menantu Mama." katanya pada sang putra. "Dan kamu sayang, kalau ada apa-apa, ingin apa-apa langsung beritahu Davin atau kami semua." pesannya pada Sira.
Ruang rawat Sira menjadi ramai hingga sore hari sebelum semuanya berpamitan untuk pulang dan meninggalkan Davin berdua dengan Sira.
❤️
Tiga hari di rawat membuat kondisi Sira terus membaik dan akhirnya sudah di perbolehkan untuk kembali ke rumah dengan beberapa catatan. Tak boleh banyak pikiran apalagi stres, tak boleh terlalu lelah bahkan di sarankan untuk bedtres dahulu selama beberapa hari, obat serta vitamin pun harus di konsumsi secara rutin.
"Akhirnya kembali lagi kerumah." kata Sira yang duduk di kursi roda dengan Davin yang mendorong di belakangnya. "Rasanya aku jenuh banget di rumah sakit kemarin." sambungnya lagi yang membuat Davin tersenyum mendengar kata-kata istrinya itu.
"Sekarang kita langsung ke kamar ya.'' kata Davin yang hendak mengarahkan kursi roda Sira ke arah salah satu kamar yang ada di lantai bawah.
Davin sudah memutuskan untuk menempati kamar yang ada di samping kamar ibu Lena selama Sira mengandung.
Semua itu dia lakukan semata-mata demi kebaikan Sira. Davin tak ingin mempertaruhkan keselamatan istri dan sang buah hati, dia tak mau jika semua yang di takutkan tentang kemungkinan-kemungkinan yang ada akan terjadi.
"Bisa gak kalau di luar dulu By." pinta Sira dengan memegang tangan Davin yang ada di pegangan kursi.
"No." sahut Davin dengan cepat. "Kamu sudah terlalu lama duduk, jadi sekarang waktunya kamu untuk istirahat." sambungnya dengan keputusan yang sudah tak bisa di ganggu gugat.
"Tap-- "
"Aku temani." potong Davin saat Sira masih mencoba untuk bernegosiasi dengannya.
Mau tak mau Sira hanya bisa pasrah dengan apa yang di katakan oleh sang suami. Dia tau jika suaminya melakukan semua itu demi kebaikan dirinya juga sang baby yang saat ini masih berumur tujuh Minggu.
Sedangkan ibu Lena yang berada tak jauh dari sana hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat betapa bertambah posesif serta over protektif sang menantu.
__ADS_1
Tapi di balik itu semua, jauh di dalam hatinya ... Ibu Lena begitu sangat bersyukur putrinya bisa mendapatkan pria yang begitu bertanggung jawab seperti Davin, pria yang begitu tulus mencintai putrinya dengan sepenuh hati.