Tiba-tiba Jadi Calon Istri Orang

Tiba-tiba Jadi Calon Istri Orang
Bab 49


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


Semua orang merasa begitu sedih melihat keadaan Sira saat ini, kepala yang harus di perban dengan selang infus juga selang darah menancap di tangannya.


Meraka mengikuti kemana Sira akan di bawa oleh sang perawat hingga tibalah di kamar yang sebenarnya tak kayak di sebut sebagai ruang rawat pasien, karena lebih di cocok seperti kamar sebuah hotel mewah.


Ruangan tersebut cukup luas, di lengkapi dengan kitchen set minimalis juga sofa, kamar khusus untuk keluarga pasien serta televisi dan kulkas.


Tapi balik lagi, senyaman-nyamannya di rumah sakit mewah, ya tentu saja lebih nyaman di rumah yang sederhana sekalipun.


Sejak masuk, Davin sama sekali tak beranjak dari duduknya dan terus menggenggam tangan Sira...tatapan matanya pun terus tertuju pada wajah ayu yang saat ini terlihat lebih pucat.


"Makan dulu Dav." kata mama Dinar dengan tangan yang memegang salah satu pundak Davin.


Hari memang sudah berganti malam dan waktu makan malam pun juga sudah sedikit terlewat.


"Nanti ma." lirih Davin yang sama sekali tak mengalihkan tatapannya.


"Makan sedikit Dav, kamu gak bisa kayak gini." bujuk mama Dinar yang tak ingin putranya itu ikut jatuh sakit.


"Gimana Davin bisa makan ma, sementara Sira bahkan belum sadarkan diri sampai saat ini." lirihnya dengan air mata yang sudah menggenang di sudut mata.


"Nak, makan dulu ya...kamu butuh makan biar bisa jaga Sira." kali ini ibu Lena pun angkat bicara, dia tau bagaimana sedihnya pria itu saat ini. "Sira pasti nanti bakal marah kalau lihat kamu gak makan kayak gini." imbuhnya lagi.


"Mama suapi ya...sedikit saja." bujuk mama Dinar lagi yang mau tak mau Davin pun membuka mulutnya saat sendok yang sudah penuh berisi makanan berhenti tepat di depan mulutnya, walaupun rasanya makanan tersebut seakan sulit tetelan, seperti nyangkut di tenggorokannya.


Walaupun tak banyak tapi setidaknya ada beberapa suap nasi yang masuk ke dalam perut Davin dan itu cukup membuat mama Dinar sedikit lega.


"Mama sama papa pulang aja, biar Davin yang jaga Sira disini." kata Davin. "Ibu juga pulang saja." sambungnya lagi.


"Huft baiklah mama dan papa akan pulang." kata mama Dinar karena dirinya dan sang suami juga butuh untuk membersihkan tubuh serta beristirahat.


"Ibu mau di sini, ibu gak mau pulang." kata ibu Lena menolak apa yang di katakan Davin.


"Ko, kamu juga harus pulang...besok kerjakan." kata papa Diki pada asisten Davin yang sedari tadi masih setia di sana.


"Ko." panggil Davin sebelum Riko menyahut kata-kata papa Diki.


"Iya tuan muda." sahut Riko.

__ADS_1


Davin beranjak dari duduknya dan berjalan begitu saja melewati Riko, sang asisten yang paham pun segera berjalan mengikuti Davin yang ternyata keluar dari ruang rawat.


"Ko, aku minta sama kamu untuk menyalin file yang nanti akan aku kirimkan padamu dan selama aku menunggu Sira di sini, tolong handle perusahaan bersama dengan Tyas." kata Riko.


"Baik tuan muda." sahut Riko.


"Satu lagi, tolong hubungi pengacara kita untuk menemuiku besok di sini." kata Davin yang langsung masuk kembali karena tak ingin berlama-lama meninggalkan pujaan hatinya.


Davin sudah mempunyai firasat kalau semua yang terjadi pada Sira bukalah murni kecelakaan atau kecerobohan Sira...pasti ada sesuatu yang terjadi.


❤️


Saat Davin baru saja terlelap, Sira justru mulai mengerakkan kelopak matanya walau secara perlahan.


Begitu mata sudah terbuka secara sempurna, Sira pun mulai melihat sekeliling hingga tatapan matanya tertuju pada seorang pria yang kepalanya di letakan di samping tangannya yang di genggam.


Perasaannya terasa menghangat kala melihat Davin ada di sana, tapi ada juga perasan merasa bersalah karena harus membuat pria itu tidur dengan posisi yang pastinya tidak nyaman.


Sira yang berniat menarik tangannya untuk mengelus kepala Davin, eh malah tak sengaja membuat pria itu terbangun.


"Eugh..." Davin sedikit melenguh dan kemudian perlahan tapi pasti mulai membuka ke dua matanya.


"Maaf." ucap Sira.


"Maaf? Kenapa malah minta maaf, hem?" tanya Davin dengan tangan yang sudah terulur mengelus pipi Sira.


"Maaf, karena aku kamu jadi harus tidur dengan tidak nyaman dan maaf aku pasti sudah ngerepotin kamu." sahut Sira.


"Ngerepotin?" beo Davin. "Lebih tepatnya kamu sudah buat aku khawatir...sport jantung sayang." katanya lagi dengan sungguh-sungguh. "Apa ada yang kamu rasakan? sakit?" tanya Davin lagi.


Sira pun menggelengkan kepalanya sebentar.


"Cuma sedikit pusing." jawabnya kemudian.


Davin menekan tombol untuk memanggil pihak medis agar menuju ke ruangan rawat Sira.


Tadi dokter sudah berpesan untuk memberitahu jika Sira sudah sadarkan diri untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.


"Sira, nak..." kata ibu Lena yang terbangun kerena mendengar seperti suara orang sedang mengobrol.

__ADS_1


Kebetulan ibu Lena masih tidur di sofa, belum pindah ke kamar.


Grep


"Syukurlah nak kamu tidak apa-apa, ibu dan yang lainnya begitu sangat khawatir." lirih ibu Lena sambil menangis saat memeluk tubuh Sira yang masih terbaring lemah di atas brankar.


Lidah Sira terasa sangat kelu, hanya untuk membalas perkataan sang ibu pun dirinya tak mampu.


Melihat ibunya yang seperti ini, dia jadi membayangkan bagaimana jika kejadian yang dia alami ini hingga menyebabkan dirinya tak tertolong...bagiamana ibunya, akan tinggal dengan siapa nantinya dan betapa sedihnya beliau.


Belum lagi dengan Davin, calon suaminya itu pasti juga tak akan kalah terpukul dan terluka.


Tak berselang lama pintu ruang rawat terbuka dan menampilkan sosok dokter bersama perawat di belakangnya.


Mereka meminta ijin untuk memeriksa keadaan Sira pada Davin juga ibu Lena.


"Bagaimana dok?" tanya Davin dengan tidak sabaran begitu dokter selesai memeriksa.


"Semuanya terlihat baik, tapi besok kita akan tetap melakukan ronsen untuk memastikan tak ada tukang yang retak, juga akan melakukan CT scan untuk memastikan tak ada sesuatu di kepala nona Sira akibat benturan ini." jawab sang dokter. "Saya permisi dulu." pamitnya saat tak ada lagi pertanyaan yang terlontar untuk dirinya.


"Ah baik dok, terimakasih." ucapan Davin.


"Ibu, sebaiknya ibu istirahat." kata Sira pada sang ibu.


"Benar yang di katakan Sira bu', ibu lebih baik sekarang istirahat di kamar...biar Davin yang temenin Sira di sini." sambung Davin.


"Ya sudah kalau begitu ibu ke kamar dulu ya...kalau ada apa-apa panggil ibu." kata ibu Lena pada akhirnya yang di angguki oleh Davin.


"Mau sesuatu sayang?" tanya Davin. "Makan atau minum barang kali?" tanyanya lagi.


"Aku minta minumnya Dav, tenggorokan aku rasanya kering." jawab Sira.


Dengan sabar Davin mengambil sebuah botol air mineral juga satu buah pipet dan membantu Sira untuk meminumnya.


"Makan ya sayang? Sedikit saja." bujuk Davin kemudian.


Sira pun menganggukkan kepalanya, karena saat ini perutnya memang sudah terasa sangat lapar, terakhir makan adalah saat makan siang tadi.


Dengan telaten Davin pun menyiapkan makan untuk Sira dan menyuapkannya demi sesuap dengan sangat telaten.

__ADS_1


__ADS_2