
❤️ Happy Reading ❤️
Davin dan Sira berada di Pulau Dewata sekitar lima hari dan waktu mereka berdua lebih banyak di habiskan di kamar.
Sira terus saja mengumpat tanpa henti pada sang suami yang tak ada lelahnya untuk menggagahinya sehingga membuat dirinya kewalahan.
Pernah Sira melayangkan protes pada suaminya itu namun dengan seenaknya Davin menjawab kalau begitu caranya bulan madu yang benar, 98% waktunya memang di habiskan untuk bergelut di dalam kamar barulah yang 2% untuk jalan-jalan juga kulineran.
Itulah bulan madu versi Davin yang membuat Sira memberengut kesal.
"Tau kalau cuma di kamar aja, ngapain jauh-jauh datang ke sini ... cuma buang-buang uang saja." kata Sira dengan kesalnya. "Di rumah atau di salah satu hotel yang di sana juga bisa." sambungannya lagi.
"Ya beda dong my cherry, kalau di ruang pasti ada aja yang ganggu, lagian juga cari suasana yang berbeda." sahut Davin dengan tangan yang membatu sang istri untuk memasukan pakaian mereka berdua kedalam koper, karena pada hari ini mereka akan kembali lagi ke kita asal mengingat lusa sudah harus berangkat bekerja.
Sira yang merasa lelah pun tak menyahut lagi apa kata sang suami, terserah suaminya itu mau bilang apa.
Tepat pukul 15.00 Wita pesawat yang mereka berdua tumpangi bertolak, hingga hampir pukul 18 Wib mereka berdua telah sampai di kediaman Ardiansyah.
__ADS_1
Sesampainya di rumah seluruh anggota keluarga Ardiansyah merasa begitu kaget, karena pasalnya sepasang pengantin baru itu tak memberi kabar sama sekali.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Loh sayang, kok kalian berdua sudah pulang?" tanya mama Dinar yang langsung menghampiri dan memeluk anak dan menantunya secara bergantian.
"Lusakan harus kerja Ma, masa cuti kami berdua sudah mau habis." jawab Davin.
"Ya ampun Davin, orang perusahaan juga punya sendiri ... ya terserah kamu mau berangkat kapan saja." sahut mama Dinar.
"Ma ... Mama ... nanti lagi ngobrolnya, sekarang biarkan mereka untuk membersihkan tubuh." tegur Papa Diki.
"Mama sampai lupa." sahut Mama Dinar sangking senangnya.
"Kalau gitu kami berdua atas dulu." pamit Davin dan langsung menggenggam tangan Sira untuk di gandengnya menuju lantai dua dimana kamarnya berada.
__ADS_1
❤️
"Ma, Pa, ada yang ingin kamu berdua katakan." kata Davin saat mereka semua berkumpul di ruang keluarga seusai makan malam.
Ya walaupun bisa di bilang waktu makan malam untuk Davin dan Sira sudah terlambat, tapi mereka tetap menghampiri kedua orangtuanya serta ke kakak laki-lakinya yang sedang bercengkrama.
"Ada apa sayang? kok wajah kalian terlihat sangat serius." tanya mama Dinar yang begitu sangat penasaran tentang apa yang hendak di sampaikan.
"Khem begini Ma, Pa, Davin dan Sira akan tinggal di kediaman Sira setelah ini." kata Davin. "Kami merasa tak tega jika Ibu harus di rumah sendiri." sambungnya lagi.
Senyum di wajah mama Dinar langsung surut betutu saja ketika mendengar apa yang di sampaikan sang putra.
Padahal dirinya sudah merencanakan banyak hal untuk di habiskan bersama dengan menantu barunya.
"Mama ... " kata mama Dinar tertahan begitu saja kala perkataan sang suami yang lebih dulu memotongnya.
"Tenang aja Ma, jangan terlalu bersedih seperti itu." potong papa Diki yang seolah tau jika istrinya hendak melayangkan protes karena ketidak setujuannya. "Meraka berdua pasti akan sering-sering mengunjungi kita, atau kita yang akan mengunjungi mereka, toh jarak rumah juta tak begitu jauhkan." sambungnya lagi. "Bukan begitu Davin, Sira?" tanya papa Diki yang langsung di angguki oleh kedua orang yang namanya di panggil.
__ADS_1
"Papa benar Ma, kami kamu akan sering datang." kata Davin.
"Baiklah, tapi mama tagih janji kalian berdua." sahut mama Dinar dengan perasan berat ... tapi ya mau bagaimana lagi, semua itu sudah menjadi keputusan anak dan menantunya.