
"Bima, dengarkan Ibu!"
"Bu. Cukup! Aku telah menikah dengan Niken, dan aku tak akan berpaling darinya, Bu."
"Apa yang bisa dibanggakan oleh perempuan itu?"
"Kehormatan, Kami Bu." Bima benar benar diam mematung untuk beberapa saat.
Bu Mirna menyipitkan matanya, dan tersenyum sinis.
"Kehormatan? Kehormatan seperti apa yang akan kalian tunjukkan pada keluarga kita, Bima. Ibu sungguh sedih kamu menjadi anak yang ngeyel!" Dengan Bu Mirna.
"Bu, mengapa Ibu tidak meminta Dewa yang menikah dengan Rima? Mengapa harus aku, Bu?" Pertanyaan itu akhirnya meluncur dari mulut Bima.
"Karena Rima mencintaimu, Bim. Ibu tahu itu sejak pertama kalian bertemu. Ibu berusaha mendekatkan kalian, tapi kamu seolah tak menggubrisnya. Bahkan setelah kamu menolaknya, dan memilih menikahi perempuan itu, Rima masih belum bisa melupakan dirimu. Kamu harus pikirkan lagi pernikahan kalian Bima. Ceraikan perempuan itu, dan nikahi Rima." Ucap Bu Mirna dengan tegas.
"Bu...!" Bima menggelengkan kepalanya kuat sambil menatap tajam pada Bu Mirna.
Bima mendengus, lalu berlalu meninggalkan ibunya dengan kesal.
"Bima! Bima! Dengarkan Ibu! Jangan menjadi anak durhaka kamu, Nak!" Ucap Bu Mirna dengan suara keras.
BRAK!
"Ada apa, Mas?" Tanya Niken dengan gusar menatap suaminya yang tiba-tiba masuk ke kamar sambil membanting pintu.
"Kita harus pindah dari sini!" Ucapan Bima dengan penuh emosi.
Niken menghampiri suaminya, lalu mengambilkan segelas air minum dan menyodorkan nya pada Bima.
Bima meneguk hingga habis, lalu duduk di tepi tempat tidur.
"Ibu memintaku menceraikanmu." Ucap Bima lirih.
"Astaga!" Niken menutup mulutnya dengan tangan.
Perutnya terasa terguncang dan bergejolak, seakan janin yang ada dalam perutnya tahu akan pembicaraan mereka.
"Kenapa, Ken?" Tanya Bima cemas, ketika Niken memegang perutnya seakan menahan rasa sakit.
"Nggak tau, Mas, tiba tiba saja terasa sakit. Tapi sekarang sudah mendingan."
Niken mengelus lembut perutnya.
"Nak, ibu dan bapak baik baik saja kok. Kamu baik baik saja di dalam sana. Besok, kalau sudah waktunya, tolong bantu ibu dan bapak ya. Lancar lahirannya." Ucap Niken sambil menatap perut buncitnya dan mengelusnya.
Bima meletakkan tangannya pada punggung tangan Niken.
"Bapak, minta maaf, Nak. Bapak akan selalu menjaga ibu dan kamu." Ucap Bima. Lalu menunduk, dan mencium perut Niken.
Janin dalam kandungan Niken kini lebih tenang, dan rasa nyerinya, berangsur menghilang.
__ADS_1
Niken duduk bersandar sandaran tempat tidur, sambil membalas beberapa pesan yang masuk.
"Mas, ibu nitip salam buatmu."
"Oya, salam balik dariku untuk ibu. Apa kabar ibu?"
"Ibu baik, katanya Minggu depan akan ke Kalimantan ke tempat Mas Bagas. Istri Mas Bagas melahirkan anak kedua, jadi ibu membantu mereka di sana."
"Wah, selamat buat Mas Bagas dan istrinya, ya. Aku turut senang mendengarnya. Semoga bayi kita ini, dilancarkan persalinannya."
"Amin, Mas."
Niken, tersenyum menatap Bima.
Oya, besok kita akan pindah. Aku sudah mendapatkan tempat sementara untuk tempat tinggal kita. Salah satu teman sekolahku, punya kost kostan model paviliun. Sering buat menginap juga. Nah, salah satunya dapat kita sewa, dan dia memberi diskon khusus untuk kita."
Ujar Bima sambil duduk di tepi tempat tidur mendekati Niken.
"Tapi, aku jadi nggak enak sama Bapak dan Ibu mu, Mas. Nanti dikira aku mempengaruhimu untuk pindah dan menjauhi keluargamu."
Bima menggelengkan kepalanya.
"Kali ini, Ibu sudah keterlaluan! Aku sudah tak dapat menahan rasa sabar lagi, Ken." Jawab Bima.
"Tapi, kita tetap harus berpamitan pada ibu dan bapak, Mas."
"Iya. Itu pasti."
Bima mengangguk.
"Niken, maafkan aku." Ucap Bima.
"Mas, kamu minta maaf untuk apa? Kita harus menghadapi bersama masalah ini. Bukan kamu sendiri, atau aku sendiri."
"Aku janji akan selalu melindungimu dan anak anak kita."
"Iya, Mas. Aku tahu."
Neken memeluk Bima dengan rasa sayang.
*
"Apa yang membuatmu akan pindah mendadak, Bima?" Tanya Pak Widodo, saat Bima menyampaikan maksudnya untuk berpamitan meninggalkan rumah pagi itu.
"Kami ingin mandiri, Pak." Jawab Bima.
"Tapi, istrimu sedang hamil. Jika ada apa apa, bagaimana?"
"Kami tinggal di daerah dekat pabrik batik Bapak. Niken tidak terlalu jauh untuk pergi dan pulang kerja. Lalu tempatnya juga ramai, karena ada kost kostan juga. Bapak tidak perlu khawatir." Bima memberi alasan supaya bapaknya tenang.
"Pasti karena ibu." Sambar Seruni sambil duduk di kursi.
__ADS_1
"Heh, tahu apa, kamu? Apa salah ibu?" Sahut Bu Mirna sambil melotot pada Seruni.
Semalam Seruni menemani Pak Widodo mengantar barang, hingga malam, jadi mereka tidak mengetahui kejadian antara Bu Mirna dan Bima.
"Pak, Bu, Dewa pamit, berangkat dulu."
Dewa adik Bima menyambar jaket kulit yang di sampirkan pada gantungan baju, lalu mengenakannya, dan keluar dari rumah.
Bu Mirna hanya mendengus kesal sambil menatap punggung Dewa yang makin menjauh dari pandangan mata itu.
"Baik, Pak, Bima akan antar barang barang kami ke tempat baru kami dulu. Niken ijin datang agak siang, apakah boleh?" Ucap Bima sambil menoleh ke arah Pak Widodo.
"Ya, tentu boleh. Jika tidak sempat datang, kabari saja. Biar nanti Seruni yang handle kerjaan kamu."
Sahut Pak Widodo.
"Terima kasih, Pak." Ucap Niken sambil tersenyum tulus.
"Hiks, aku sedih,. Gak punya teman curhat lagi di rumah!" Keluh Seruni.
"Kan kita masih bisa jumpa di pabrik, atau kamu bisa main ke tempat kami besok besok." Niken memberi solusi Seruni.
*
Niken dan Bima menaruh tas dan koper di lantai kamar.
"Wah, besar dan bagus paviliun ini, Mas. Pasti mahal."
"Kan, aku tadi bilang, aku dapat mendapatkan harga di bawah, harga pasaran."
"Baiklah. Ini aku taruh di sini saja dulu, ya. Aku mau ke pabrik. Nggak enak lama lama kembali ke pabrik lagi."
*
Niken bekerja seperti biasanya kembali. Demikian juga dengan Bima.
"Ken, sebenarnya apa yang terjadi pada kalian? Apakah karena ibu?" Tanya Pak Widodo, pada Niken yang sedang memasukkan data pelanggan.
"Tidak terjadi apa apa, Pak. Sungguh. Kami hanya ingin ganti suasanan baru saja." Sahut Niken dengan sopan.
Pak Widodo merasa ada hal disembunyikan dari mereka saat di rumah. Tapi istrinya memang seperti itu.
Niken mengerjakan beberapa pekerjaannya kembali dengan tenang.
Menjelang sore, Bima kembali ke rumah orang tuanya untuk mengambil beberapa arang yang lupa dibawanya kemarin.
"Ternyata masih ingat jalan pulang!" Sindir Bu Mirna sambil melirik pada Bima, yang sejalan bergegas meninggalkan ruangan tengah menuju kamarnya.
"Bima! Kamu itu nggak sopan, ya! Diajak ngomong orang tua kok malah diam saja. Sudah hebat ya, kamu! Sudah merasa sok kaya juga apa."
Bima mempercepat laju jalannya dan langsung meninggalkan kediaman keluarganya menuju ke tempat barunya bersama Niken.
__ADS_1