
Ombak bergulung berkejaran seolah memanggil Niken untuk mengikuti ke mana mereka berlari.
Dengan tatapan kosong dan wajah berlinang air mata, Niken terus berjalan ke tengah laut.
"Mas, apa salahku padamu? Mengapa kamu khianati pernikahan kita? Kita pernah berjanji akan saling setia seumur hidup. Bahkan, kita dapat menghadapi rintangan selama ini. Ya Tuhan, apa salahku selama ini? Apa aku telah menjadi anak durhaka yang menikah tanpa restu dari orang tua?"
Niken menangis meluapkan semuanya, dengan tatapan kosong, dia terus berjalan makin ke tengah laut.
Niken tak menghiraukan teriakan beberapa orang yang tak sengaja melihatnya menuju ke tengah laut dengan ombak bergulung-gulung di depannya.
Nike terus melangkah melawan ombak yang bergulung, lalu tiba-tiba, tubuh kurusnya terhempas terbawa arus ombak kembali ke arah laut.
Tubuhnya bagai kertas yang terbuang di sungai.
Seorang lelaki berlari menuju ke arah laut mengejar arah tubuh Niken.
Dentuman suara ombak, membuat Niken tersadar kembali, dia mengingat Laras, seseorang yang harus dia perjuangankan kembali. Laras adalah tujuan hidupnya. Bukan hanya Bima dan keluarga kecilnya lagi.
Laras yang masih membutuhkan ibunya. Niken tak dapat membayangkan, jika Laras kehilangan dirinya saat ini.
Namun, semua sudah terlambat, Niken telah terbawa arus ombak menuju ke arah laut.
Sekuat tenaga Niken menahan napasnya di dalam laut lepas, dan menenangkan dirinya.
Lalu dia merasakan tubuhnya terasa ringan, dan lelah. Matanya perlahan menutup.
Namun, dia seolah mendengar suara orang berteriak, dan menarik lengannya.
Niken tak sadarkan diri, kini seorang lelaki yang mengejarnya itu meraih tangannya, dan membawa kembali tubuh Niken yang telah lemas ke pantai perlahan.
Petugas pantai itu berusaha mengeluarkan air laut yang sempat terminum oleh Niken, beberapa orang mengerubungi tubuh Niken dengan tatapan cemas.
"Uhuk... Uhuk... Uhuk...!"
Niken terbatuk sambil menyemburkan air dari mulutnya, lalu perlahan matanya terbuka, dan kesadarannya kembali pulih sedikit demi sedikit.
"Mbak, Mbak! Mbak bisa melihat saya?" Tanya lelaki yang menolongnya tadi.
Niken membuka matanya perlahan.
"Di mana aku?"
Niken berusaha untuk duduk, namun tubuhnya terasa sangat lemah sekali saat itu.
Beberapa orang membantunya untuk duduk, lalu seorang wanita setengah baya menyodorkan segelas teh manis hangat untuk diminum Niken.
Niken meminum teh itu, lalu mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
"Mbak, ada apa? Kok sampai main ombak jauh seperti itu? Mau bunuh diri?" Cecar wanita tua itu.
Niken terdiam sejenak, lalu dia mengambil napas dalam-dalam mengisi rongga paru-parunya dengan ogsigen yang tadi sempat terisi air laut yang membuatnya sesak napas.
"Maaf telah membuat kalian semua repot seperti ini. Tadi saya nggak sengaja bermain saja di laut, tapi ternyata nggak sadar sampai sejauh itu, lalu baru sadar setelah mendengar langsung suara ombak yang besar itu memecah karang. Namun, saya sudah terhempas ombak."
Niken menatap dengar tak enak orang-orang yang mengerubungi dirinya.
"Iya, Mbak. Apalagi banyak cerita yang di ambil sama penghuni laut selatan. Untung tadi, Mbak ketahuan, langsung segera ditolong."
Sambung seorang ibu-ibu.
"Terima kasih semuanya. Saya jadi nggak enak, merepotkan semuanya."
"Syukurlah, kalo Mbaknya nggak apa apa. Istirahat dulu saja di sini, Mbak. Sambil mengabari keluarga atau teman untuk menjemput, jika mau. Atau kalau lapar, tinggal pesan sama bude saja." Saran pemuda yang menolong Niken tadi.
"Iya, Mas. Terima kasih."
Pemuda itu mengangguk, lalu berpamitan untuk melanjutkan pekerjaannya.
Niken masih duduk sambil menikmati sisa teh hangatnya. Lalu dia baru ingat akan tas yang ditinggalkannya di pantai.
Niken bergegas terburu-buru berlari menuju pantai dengan pakaian basah kuyup. Lalu dia meraih tas selempang, dan menghela napas lega.
*
Niken menghentikan motornya di garasi rumah. Dia menatap mobil Bima yang sudah terparkir di garasi dengan dingin. Lalu masuk ke dalam rumah.
Niken tak menjawabnya, dia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang amis terkena air laut yang telah kering.
Bima hanya menghela napas dalam-dalam, dia paham, Niken hanya diam saat sedang marah.
Niken bukan seorang wanita atau istri yang suka mengomel atau merepet. Niken adalah wanita yang sangat sabar dan penurut. Namun, jika dia sudah kecewa atau marah, maka dia akan diam.
Biasanya, Bima akan langsung dapat merayunya dengan mentraktir semangkuk mie ayam di warung langganan mereka, sambil mereka berjalan-jalan menghabiskan waktu berkeliling Yogyakarta dengan menggunakan motor.
Tapi, sekarang berbeda. Kesalahan Bima sangat fatal, dan mungkin Niken tak bisa memaafkan dirinya. Bima sadar, dan ada sesal dalam dadanya.
Dia tak ingin rumah tangganya hancur. Dia tak ingin kehilangan Niken dan Laras. Dia masih mencintai Niken.
Niken sudah keluar dari kamar mandi. Aroma lavender tercium dari tubuh Niken usai membersihkan dirinya.
Niken mengambil segelas air mineral, dan meneguknya hingga habis.
Lalu duduk berhadapan dengan Bima yang masih menunggu di ruang tengah bagai orang akan disidang.
"Sudah berapa lama kamu dengan wanita itu?"
__ADS_1
Tanya Niken tanpa basa basi.
"Niken, aku minta maaf, aku salah. Aku..."
"Sudah berapa lama, Mas Bima bersama Ayu?"
Ulang Niken dengan suara lebih keras.
Bima menghembuskan napas kuat kuat, lalu menatap Niken.
"Satu tahunan."
"Sejauh apa hubungan kalian?"
Bima terdiam. Pertanyaan Niken sangat membuat dirinya merasa bersalah.
Jika dia menjawab, itu artinya dia mengakui bahwa dia selingkuh dengan Ayu. Ya, memang itu kenyataannya. Namun, Bima tak ingin kehilangan keluarganya, maupun Ayu.
Niken masih menunggu jawaban Bima dengan tatapan tajam.
"Ya, aku mengaku salah, telah berselingkuh dengan Ayu. Tapi aku punya alasan sendiri, Ken. Dengarkan aku!"
Niken mengangguk pelan.
"Aku tak ingin alasan apapun, Mas. Kamu telah mengingkari pernikahan kita. Kamu telah mengkhianati kepercayaanmu padamu. Apapun alasanmu, kamu tetap membuat aku sangat, sangat, dan sangat kecewa."
"Niken, aku tak ingin kehilangan kamu dan Laras!" Bima berlutut di depan Niken, sambil meraih jemari istrinya itu.
"Jadi, selama ini kamu sering menginap dan menghabiskan waktu bersama Ayu. Dan melakukan hubungan layaknya suami-istri dengannya?"
Tanya Niken dengan suara pelan dan jelas.
"Niken, aku khilaf, maafkan aku!"
"Khilaf kok hampir setiap hari!" Ucap Niken dengan sinis sambil menghempaskan tangan Bima dari jemarinya.
Niken berdiri, lalu masuk ke kamar.
"Niken aku tahu, aku salah. Tapi aku juga punya alasan sendiri, mengapa aku melakukan ini semua."
BRAK!
Niken membanting pintu kamar, dan menguncinya.
Lalu menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, dia tak ingin mendengarkan apa pun alasan yang diberikan oleh suaminya.
Niken sangat kecewa pada Bima yang telah mengkhianati cinta dan kepercayaan nya selama ini.
__ADS_1
Niken merasa sangat jijik pada dirinya saat membayangkan Bima bercinta dengan Ayu, gadis yang masih sangat muda itu. Lalu malamnya dia dan Bima.
Niken menutup wajahnya dengan bantal, dan melepas semuanya dengan tangisan kekecewaannya pada Bima.