
"Sayang, siapa yang datang?" Tanya suara dari arah dalam rumah Ayu.
Suara berat lelaki yang sangat familiar di telinga Niken.
Bima terperanjat saat melihat Niken yang berada di rumah Ayu.
Bima diam membeku sambil menatap Niken.
"Mas, ini loh pemilik ketering kesukaanmu. Apalagi brownies buatannya yang selalu jadi favoritmu. Oya, dikasih bonus brownies, loh ini. Katanya dalam rangka ulang tahun, Mbak Niken." Ayu menghampiri Bima yang masih terpaku, sambil menggamit lengan Bima, dan menunjukkan kantong pesanannya.
Niken menguatkan dirinya sangat. Menahan air matanya supaya tidak tumpah di tempat saat itu.
Niken menghela napas dalam-dalam, sambil menatap Ayu dan Bima.
"Ya, sudah. Saya permisi."
Ucap Niken sambil berlalu setengah berlari menuju motornya, lalu segera meninggalkan rumah Ayu.
"Mbak, ini uangnya! Mbak Niken!" Ayu berteriak sambil berlari mengejar Niken yang telah pergi.
Ayu menggeleng kepalanya heran, lalu masuk kembali.
"Ya, sudahlah, ntar aku transfer saja." Gumam Ayu, sambil menuju ke dalam rumah.
"Loh, Mas, mau ke mana? Nggak makan dulu?" Tanya Ayu dengan heran, saat melihat Bima telah berpakaian rapi bersiap untuk pergi.
"Iya, mendadak ada pesan dari adikku, ada pekerjaan penting yang harus aku selesaikan sekarang juga."
Ucap Bima dengan raut gusar.
"Mas, bener nggak ada apa apa?" Tanya Ayu, yang dapat melihat perubahan raut wajah Bima saat itu.
Bima menghela napas kuat, lalu tersenyum sambil mengacak rambut Ayu.
"Ya sudah lah. Hati hati di jalan."
Ayu melepas kepergian Bima, lalu masuk ke dalam rumah.
*
Bima pulang ke rumah, dan hanya mendapati Bude Ning dan Regas.
"Mbak Niken, belum pulang, Mas. Tadi sedang mengantar pesanan pelanggan."
Sahut Bude Ning sambil menatap Bima yang seolah kebingungan.
Lalu Bima segera menuju mobilnya, dan berlalu dari rumah.
Bima, menyusuri jalan jalan di kota Yogyakarta, sambil mencari-cari sosok Niken.
__ADS_1
"Niken, kamu di mana? Maaf kan aku, Ken!" Ucap Bima sambil melihat ke kiri dan kanan jalan, dan menajamkan penglihatan untuk mencari istrinya itu.
Hingga akhirnya dia kembali ke pabrik.
Dengan gontai, Bima melangkah masuk menuju ruangannya.
Dia melihat Bu Mirna duduk di sofa ruangannya sambil menatap Bima dengan berkerut.
"Ada apa, Bu?" Bima tak dapat lagi menahan rasa kesalnya kala itu.
"Ada apa denganmu? Kamu kelihatan tidak sehat?" Tanya Bu Mirna.
"Sudahlah, Bu. Aku lelah. Aku ingin sendiri. Jadi, tolong Ibu,keluar dari ruanganku saja. Aku benar-benar ingin sendiri kali ini."
Pinta Bima, sambil menatap sayu wajah Bu Mirna.
Bu Mirna hanya mengangguk, lalu berdiri dan segera pergi dari ruangan Bima.
"Bu, mau apa lagi sih?" Tanya Seruni saat, Bu Mirna duduk di bangku yang ada di depan Seruni.
"Mas mu, seperti orang gila! Kayak orang stress, depresi gitu. Ibu dimarah marahi terus, lalu diusirnya." Keluh Bu Mirna sambil memajukan bibirnya dengan kesal.
"Ibu juga, dari dulu selalu ngatur ngatur orang." Sahut Seruni dengan ketus.
"Heh, Ibu itu selalu memikirkan yang terbaik buat anak anak ibu."
Bu Mirna tidak terima dengan ucapan Seruni.
"Kamu itu tahu, apa, Runi?"
"Bu, Mas Bima selingkuh, malah ibu setuju, Ibu ini gimana?"
"Kamu nggak tahu apa-apa, jangan menuduh ibu yang nggak-nggak! Wanita itu memang nggak becus ngurus suami. Kalo becus, Bima nggak bakal berpaling darinya!" Bu Mirna berkata dengan suara keras.
"Ada apa ini?" Dewa menyeruak masuk ke ruangan Seruni, dan mengambil tempat di samping ibunya.
"Mas, Ibu ini aneh. Masak anak selingkuh, dia malah bela. Aku ini korban selingkuhan suami, Bu. Nggak enak rasanya! Sakit, Bu."
"Tapi setidaknya, kamu mendapatkan bagian dari Bram."
"Astaga, Ibu! Mengapa ibu sampai berpikir seperti itu?"
"Runi, jadi wanita itu jangan lembek! Pakai otakmu! Gunakan strategi. Keluarga Pak Bagyo itu masih keturunan ningrat, setidaknya masih punya harta dan kuasa. Dan ingat, anakmu masih keturunan ningrat, setidaknya, masih punya hak dari keluarga itu. Itu berguna untuk masa depanmu kelak. Dan kamu tahu? Mengapa Bima melakukan ini semua?"
Seruni dan Dewa menatap Ibunya sambil menggelengkan kepalanya.
"Karena istrinya itu tidak becus mengurus suami! Bima lebih pantas bersama wanita muda itu dari pada wanita tua yang cacat itu!"
"Bu, tidak baik mengucapkan itu tentang Mbak Niken. Dia berusaha juga loh, Bu. Bahkan Mas Bima juga sudah jarang di rumah, terlebih kantor lebih banyak aku yang mengurus saat ini." Dewa mengingatkan ibunya.
__ADS_1
"Kalian tahu? Bima melakukan ini semua untuk pabrik. Setelah Bapak nggak ada, dan kalian juga masih perlu banyak belajar. Bima menyadari, bahwa pabrik perlu dana segar untuk tambahan modal. Dan dia mendapatkan investor dan rekan baru dari hasil ikut komunitas pengusaha. Yang akhirnya, bertemu dengan Handoko, yang mau menjadi klien besar di Surabaya, karena penjualan konveksi sampai ke mancanegara. Dan Ayu adalah putri Handoko. Ibu, nggak masalah, Bima dengan gadis muda itu. Setidaknya, bisa mengurus Bima dengan baik. Buktinya, Bima memilih untuk sering tinggal di rumah Ayu dari pada di rumahnya sendiri."
Bu Mirna tersenyum sinis.
Seruni menatap ibunya dengan kesal DNA tak percaya.
Dewa yang masih diam, lalu berdiri dan bergegas menuju ruangan Bima.
"Niken tahu." Ucap Bima saat Dewa mendekatinya.
"Tahu apa?"
"Tahu aku dan Ayu." Bima mengaku, dan tertunduk sambil mengacak rambutnya dengan kesal.
"Lalu, sekarang Mbak Niken di mana? Kenapa Mas Bima nggak pulang dan membicarakan ini di rumah dengan Mbak Niken?"
"Kalau aku tahu di mana Niken, aku pasti sudah menjelaskan ini semua."
"Penjelasan apa lagi, Mas? Kamu telah melakukan perselingkuhan, dan itu otomatis menyakiti Niken, bukan hanya Niken, tapi juga Laras."
"Ya, aku tahu. Tapi, Niken nggak ada di rumah. Aku sudah menyusuri jalan untuk menemukan, Niken, tapi, tetap saja tak ada."
"Kamu benar-benar brengsek, Bim! Kamu sudah gila, telah bermain api sendiri, dan sekarang api sudah mulai berkobar, dan bisa membakar seluruh rumah tanggamu."
Bagai tersadar, Bima hanya bisa mengacak rambutnya kesal.
"Lalu aku harus bagaimana?"
*
"Mas Satria, aku titip Laras di rumahmu dulu. Jika sampai malam aku belum menjemput, tolong antar pulang ke rumah Seruni, atau jika pulang ke rumah, titip pesan sama Seruni untuk menjaga Laras hingga aku kembali."
"Niken? Kamu di mana?"
Tak ada jawaban, yang ada suara panggilan ditutup oleh Niken.
Niken pilu menghadapi kenyataan yang dia lihat dengan mata kepala sendiri.
Bima dan Ayu tinggal satu rumah, dan tak mungkin mereka tidak melakukan apa apa.
Apalagi Ayu pernah bercerita, pacarnya selau meminta jatah beberapa ronde setiap ketemu.
Niken memeluk tubuh ya sendiri, seolah merasa jijik mengingat saat dia sedang bercinta dengan Bima, usai Bima bercinta dengan wanita lain.
Niken perlahan berjalan menyusuri hamparan pasir yang luas sambil menenteng sandalnya.
"Aaaaaaaa.....!!" Niken meluapkan kemarahannya, rasa kecewanya, dan rasa sakit hatinya.
Niken menatap ombak yang berkejar-kejaran, dan bergulung-gulung ke pasir, lalu kembali lagi ke lautan.
__ADS_1
Niken menangis sejadi jadinya, lalu berjalan menuju ke arah laut. Perlahan namun pasti, Niken menceburkan dirinya, menuju ke bagian yang lebih dalam.
Pikiran Niken seolah kosong, dan dirinya merasa tak punya harapan hidup lagi. Niken merasa sangat kecewa pada Bima.