
"Maaf, Jeng, saya baru tahu Pak Wid meninggal dunia. Saya dari Jakarta di tempat Rima, dua bulan ini." Bu Kusuma datang untuk melayat bersama suaminya.
"Iya, terima kasih. Oya, bagaimana kabar Rima?"
"Rima sehat. Kebetulan suaminya sering pergi ke luar negeri, jadi dia kesepian ditinggal terus." Tutur Bu Kusuma sambil tersenyum.
"Oh..kok nggak ikut suaminya juga ke luar negeri."
"Rima itu sibuk dengan toko barunya yang di Jakarta juga. Sejak menikah, dia memang sengaja membuka cabang di Jakarta untuk kesibukannya. Tapi, kami juga masih sering tergantung padanya untuk mengurus toko yang ada di Semarang." Tutur Bu Kusuma sambil tersenyum.
Bu Mirna hanya bisa tersenyum kecut Mendengar cerita Bu Kusuma tentang Rima yang terdengar lebih sukses dan bahagia.
"Yuk, Bu. Bapak masih harus bekerja lagi. Ada meeting." Sela Pak Kusuma sambil menepuk paha istrinya itu.
"Oh, iya. Kami permisi dulu, Bu. Jika ada apa apa, atau butuh teman ngobrol, bisa telpon aku seperti biasanya. Sekarang kami sudah full di Yogya." Bu Kusuma berpamitan sambil berpesan pada Bu Mirna.
"Eh, iya, hampir lupa. Besok lusa empat puluh hari Pak Widodo. Jika ada waktu, saya harap Bapak dan Ibu bisa datang."
Bapak dan Ibu Kusuma saling berpandangan, lalu menganguk pelan.
"Kami akan usahakan datang." Tukas Pak Kusuma sambil tersenyum.
"Terima kasih." Sahut Bu Mirna sambil mengantar tamunya ke halaman rumah.
*
"Mas, kamu nggak mau ke rumah?" Niken menghampiri Bima dengan kursi rodanya.
"Buat apa? Ibu sudah menyuruhku untuk pergi dan tidak menerimaku lagi. Jadi ngapain aku repot pulang ke rumah."
"Tapi, hari ini 40 hari, Bapak, Mas. Sedangkan kita juga tidak melakukan kirim doa juga buat bapak. Mumpung masih sore, kita bisa siap siap dulu."
Niken menepuk bahu Bima dengan lembut.
Bima meraih tangan Niken dan menggenggam erat. Lalu perlahan dia mencium tangan istrinya dengan lembut.
"Kamu selalu sabar."
"Mas Bima juga selalu sabar, kok. Selalu bela aku di depan ibu, memilih aku, bahkan sampai rela susah hanya demi aku."
"Aku telah memilihmu, Niken. Sampai kapan pun, kita akan selalu bersama."
"Mas....!" Niken tak dapat membendung lagi air matanya yang mulai mengalir dari sudut matanya.
Bima memeluknya dan menenangkan Niken.
*
__ADS_1
Sore itu Bima dan keluarganya datang ke kediaman Bu Mirna untuk menghadiri 40 hari Pak Widodo.
"Eh, Mas Bima! Mbak Niken. Ayo masuk, sudah mulai. Yuk lewat pintu samping saja, langsung ke dalam."
Ajak Seruni sambil menyambut kehadiran kakak dan keluarganya.
"Eh, ada Ibu, juga." Seruni menyalami sambil mencium tangan Bu Lusi dengan hormat, lalu memeluk Laras.
Terlihat Dewa tersenyum menyambut kehadiran kakaknya dari dalam.
Berbeda dengan Bu Mirna, yang raut wajahnya mendadak berubah saat mengetahui Bima dan keluarganya datang.
Bima, Niken, Bu Lusi, dan Laras duduk di ruang belakang bersama dengan tetangga yang lain, dan juga Seruni.
Niken duduk di kursi rodanya sambil melantunkan doa untuk ayah mertuanya itu bersama dengan warga dan kerabat yang ada di kediaman Bu Mirna saat itu.
"Terima kasih, atas kehadiran, Bapak ustadz, Pak RT, Pak RW, Bapak bapak, dan ibu ibu sekalian, yang telah berkenan hadir dalam peringatan empat puluh hari Bapak kami, Pak Widodo. Terima kasih telah meluangkan waktunya untuk mendoakan arwah beliau. Dan sebagai bentuk tamah tamah, maka, kami telah menyiapkan sedikit makanan untuk dapat kita nikmati bersama sama. Silahkan, Pak Ustadz untuk memulainya."
Dewa sebagai perwakilan keluarga menjadi juru bicara pada acara itu.
"Ngapain wanita itu datang ke sini?!" Gumam Bu Mirna dengan. Raut wajah tak suka.
"Sudah,Bu. Mas Bima dan Mbak Niken juga ingin mendoakan Bapak." Dewa menahan lengan ibunya.
"Dewa, kamu nggak usah belain wanita itu! Lha jelas jelas dia itu wanita pembawa sial!" Ucap Bu Mirna dengan ketus.
"Mbak Niken memangnya kenapa, sih?" Tanya seorang tetangga di samping Bu Mirna setengah berbisik.
"Dia itu pembawa sial! Nggak tau, kok Bima bisa mau sama wanita itu?"
"Yang di sebelahnya itu, siapa, Bu?"
"Nggak tau! Pembantunya kali. Lha orang nggak punya, lagak pakai pembantu. Nggak anaknya, nggak ibunya!" Ucap Bu Mirna dengan sinis.
"Kok Mbak Niken pakai kursi roda?"
Bu Mirna menoleh ke arah tetangganya itu.
"Dia itu kualat! Dia selalu menggoda bapak mertuanya. Nggak pernah Pak Wid itu nyopir bisa melengkung, kalo nggak di ganggu. Dia orang terakhir yang bersama Pak Wid di mobil saat kecelakaan itu. Sekarang dia lumpuh!" Tukas Bu Mirna sambil menoleh ke arah Niken.
Dari kejauhan, Niken tersenyum dan mengangguk hormat pada ibu mertuanya itu.
Bu Lusi mengelus lengan Niken memberi semangat.
"Kamu datang?" Ucap Bu Mirna saat Bima mendekat untuk menyalami ibunya, setelah para tamu dan tetangga sudah kembali ke rumah masing-masing.
Bima mengangguk pelan.
__ADS_1
Bu Mirna dengan cepat menarik tangannya dari Bima, dan menoleh ke arah Niken.
"Mengapa dia kamu ajak ke sini? Dia nggak pantas datang ke rumah ini? Nggak puas apa dia telah membunuh suamiku, bapakmu juga Bim. Kamu ini punya orang nggak! Dia itu sudah memberi banyak kesusahan pada keluarga kita, tapi kamu tetap bertahan dengannya." Bu Mirna mendengus kesal sambil menggelengkan kepalanya.
"Bu, Niken itu istriku. Bapak juga nggak pernah mempermasalahkan Niken, mengapa ibu yang terus membenci Niken?"
Tanya Bima dengan nada sedikit tegas.
"Dengar, Bima. Dari dulu, semua maunya selalu bapak dan ibu turuti. Bahkan kami minta nggak mau mengurus pabrik juga akhirnya, bapak mengiyakan. Sampai sekarang, mana? Bapak memberi mandat, tapi kamu sama sekali nggak melakukan! Wanita itu memberi pengaruh buruk bagimu! Ibu sudah mengingatkan kamu sejak awal, tapi kamu selalu tak menggubris! Sekarang, bapak sudah meninggal. Ini semua gara gara wanita sial itu!" Bu Mirna menunjuk Niken, dan menatap tajam ke arah Niken.
Niken menjalankan kursi rodanya perlahan mendekati Bu Mirna.
"Maaf, Bu. Saya... Saya tidak tahu... Saya tidak menyangka hari itu. Mobil itu tiba-tiba menabrak mobil bapak, dan membuat bapak meninggal dunia." Niken berusaha menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada Bu Mirna.
"Pergi kamu! Menjauh dari keluargaku! Kamu benar benar pembawa sial! Pergi! Aku tak Sudi melihatmu lagi! Kamu telah mengambil putraku, lalu suamiku! Kamu benar benar sial! Tidak puaskan kamu telah membunuh suamiku, lalu kamu berani berani datang lagi ke rumah ini? Cukup, suamiku menerimamu! Kamu tak pantas masuk menjadi keluarga Widodo!"
Bu Mirna menepis tangan Niken yang hendak menyentuhnya.
Dengan gemetar, Niken memundurkan kursi rodanya.
"Bu! Ibu ini mengapa? Bapak meninggal karena kecelakaan, dan itu polisi sudah mengidentifikasikan, bahkan Mbak Niken tidak salah apa apa." Seruni mendekati ibunya.
"Kamu membela dia?!" Tanya Bu Mirna dengan raut wajah tegas.
"Saya nggak membela siapa siapa, Bu. Tapi Runi mengatakan yang sebenarnya."
"Yang sebenarnya, wanita itu merayu bapakmu! Bapakmu lebih banyak menghabiskan waktu di pabrik, dan hanya sebentar di rumah, seolah nggak betah dengan ibu."
Dengus Bu Mirna kesal.
"Maaf, bukannya saya hendak mencampuri. Tapi, alangkah baiknya, jika seorang ibu dan istri tidak berkata seperti itu." Bu Lusi berucap sambil tersenyum pada Bu Mirna.
"Siapa kamu?" Bu Mirna balik bertanya dengan ketus.
"Saya, ibu dari Niken."
"Oh...oh..oh... Jadi ini dia bibitnya! Bawa pergi anakmu itu dari rumah saya! Saya tak sudi menerima dia menjadi menantu saya!"
"Seorang ibu, tidak pa tas berucap seperti itu, Bu."
"Apa hak kamu melarang saya?"
"Karena saya juga seorang ibu."
"Jika kamu ibu yang baik, dari awal jika, salah satu tidak disetujui, ya tidak usah direstui juga. Saya tidak pernah menganggap pernikahan putraku dan putrimu terjadi! Jadi silahkan pergi dari sini!"
Tanpa banyak bisa, Bu Lusi mendorong kursi roda Niken dan menarik lengan Laras untuk keluar dari rumah itu, tanpa menghiraukan Bima yang masih berdebat dengan ibunya.
__ADS_1
Hatinya sangat sakit dan sedih, melihat langsung putrinya diperlakukan seperti itu.