Tirani Ibu Mertua

Tirani Ibu Mertua
Menjalani Hidup Masing-masing


__ADS_3

Setahun berlalu....


"Ma, tadi di sekolah Bu guru katanya mau pesan brownies sama risol untuk acara di sekolah buat lusa." Ucap Laras dengan riang sepulang sekolah.


"Iya, tadi Bu Lulu juga sudah telpon mama juga. Terima kasih, ya, Sayang. Eh, gimana sekolah kamu hari ini?"


Niken berganti tanya saat menemani putrinya makan siang.


"Tadi aku pelajaran seperti biasa. Lalu, aku juga dapat poin tambahan dari Bu Lulu karena bisa jawab maju di depan kelas untuk pelajaran matematika. Eh, iya, tadi Bu Meri juga bilang kalo Laras diminta untuk mewakili sekolah untuk lomba menyanyi bulan depan."


"Duh, makin sibuk ini cucu Oma kalo banyak kegiatan seperti itu!" Tiba tiba Bu Lusi, ibu dari Niken, nimbrung, ikut duduk di kursi makan samping Laras.


"Iya, Oma. Doakan Laras, ya. Biar bisa memberikan yang terbaik saat lomba besok."


"Pasti! Oma selalu berdoa untuk Laras. Oya, Oma kapan mau ke Kalimantan lagi?" Seloroh Laras sambil menoleh ke arah Bu Lusi.


"Oma nggak jadi ke Kalimantan. Pakdemu yang besok liburan mau main ke Jakarta bareng keluarga."


"Wah... Pasti seru sekali. Aku bisa ketemu langsung sama Mega dan Wulan!" Sorak Laras dengan gembira.


"Iya, selama ini kalian cuma ketemu lewat video call ya." Imbuh Niken sambil tersenyum lebar.


Bu Lusi melirik Niken, putrinya dengan tatapan penuh sayang.


Setahun yang lalu, dia ingat, Niken menghubunginya dan mengatakan akan pulang ke Jakarta bersama Laras. Lalu Niken juga meminta tolong untuk mendaftarkan Laras untuk bersekolah di sekolahnya yang dulu.


Bu Lusi terhenyak, sangat terkejut. Dia tahu, Niken pasti ada masalah, entah dengan Bima atau ibu mertuanya, namun Niken saat itu tak memberitahu ibunya.


Saat menjemput Niken di Stasiun Senen setahun yang lalu, Niken terlihat kuyu dan sangat menyedihkan.


Laras yang terlihat biasa saja, namun Bu Lusi tahu, cucunya memendam sesuatu.


Niken baru mau menceritakan kisruh rumah tangganya setelah dua hari tinggal di rumah ibunya kembali.


Dengan berurai air mata, Niken menceritakan perselingkuhan Bima, bahkan Bu Mirna tak marah. Malam senang karena Niken akhirnya menggugat cerai Bima.


Beberapa hari kemudian, Dewa memberi kabar, bahwa Surai cerai mereka sudah selesai. Dan langsung dikirim ke alamat Niken di Jakarta.


Niken hanya duduk sambil menerawang usai menerima surat cerai yang dikirimkan oleh Dewa.


Bu Lusi memeluk dan menemani putrinya selama masa masa terpuruknya. Menghibur putrinya juga. Sedang Laras, sebisa mungkin diberi atau diikutkan kegiatan yang dia suka, seperti bermain piano dan menyanyi.

__ADS_1


Setelah hampir sebulan, Niken yang seperti mayat hidup itu, akhirnya mulai ada gairah kembali, saat menyaksikan Laras mengikuti lomba menyanyi, yang akhirnya berhasil mendapat juara 3.


Niken akhirnya sadar, dirinya harus tetap berjuang untuk Laras. Dia juga harus mendapatkan kabahagian sendiri untuk dirinya yang selama ini hilang.


Niken kembali memulai hobinya memasak, lalu difoto, dan disebar pada sosial media.


Beberapa hari kemudian, Niken menerima pesanan dari beberapa teman Laras.


Lalu lama kelamaan, makanan buatan Niken menjadi dikenal di sekolah Laras, lalu menyebar ke kantor kantor, tempat wali murid teman teman Laras bekerja.


Lalu sekarang Niken mulai bisa melupakan semua masalahnya, dan bisa menikmati hidupnya kembali.


Seruni juga masih sering memberi kabar, begitu juga Dewa.


Laras juga masih berkabar dengan Amanda.


Niken tak memiliki waktu untuk mencari pasangan lagi. Dia hanya fokus untuk keluarganya, dan pekerjaan yang menyita waktunya.


*


"Mas Bima nggak makan dulu?" Sarah bertanya pada Bima saat jam makan siang.


"Nanti. Masih tanggung, kamu duluan saja." jawab Bima sambil tersenyum ke arah Sarah.


Bima mengangguk, lalu Sarah segera berlalu.


Setahun berlalu setelah perpisahannya dengan Niken.


Bima menjadi orang yang gila kerja. Bahkan hal hal kecil yang terkadang menjadi pekerjaan karyawannya, dia kerjakan juga.


Mas Pur hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat Bima masih berkutat di depan monitor sambil memeriksa pesanan yang sudah jalan, dan yang masuk secara manual.


"Mas, Bima, sudahlah, nanti masih ada waktu. Lagipula paket akan diambil nanti sore sama kurir."


"Tanggung, Mas Pur. Kemarin ada yang tanya paketnya belum sampai, padahal sudah kita kirim dari seminggu yang lalu."


"Nah, itu, kan, tanggung jawab kurir, dong! Masa, kita yang harus ribet juga."


"Iya, tapi kita juga harus bertanggung jawab dengan pembeli untuk membantu menanyakan keberadaan paket itu."


"Loh, kita kan sudah mengirim tepat waktu, sudah ada nomor resi juga. Dia memilih pengiriman pakai ekspedisi yang paling murah, ya sudah. Silahkan cek sendiri ke ekspedisi." Protes Mas Pur sewot.

__ADS_1


"Mas, nggak boleh gitu, dong! Pelayanan untuk konsumen itu harus bagus."


"Wes, mbuh! (Sudah, terserahlah!) Aku mau makan dulu. Kamu nggak makan?"


"Sebentar lagi."


Mas Pur pergi sambil geleng-geleng kepala dengan kelakuan Bima.


Sesekali Bima melirik ponselnya, berharap ada balasan dari Laras, putrinya.


Setiap hari Bima masih menghubungi Laras untuk mengucapkan selamat lagi, atau sekedar menanyakan kabarnya. Dan hampir setiap hari, Laras membalas saat menjelang sore. Dengan alasan saat sekolah tidak boleh membawa hape.


Namun, saat weekend, pun, tak jarang Laras juga telat membalas, katanya sedang sibuk les musik dan vokal.


Laras juga menceritakan tentang sekolah barunya, kegiatannya, dan teman teman baru juga.


Bima sama sekali menahan diri untuk menanyakan kabar Niken, mantan istrinya. Meski pun sebenarnya dia sangat penasaran.


Jauh dalam lubuk hatinya, Niken masih mendapat porsi besar dalam pikirannya. Rasa sayang dan cinta itu masih ada. Bima merasa sangat bersalah dengan apa yang telah dia perbuat dengan Ayu.


Ayu....


Gadis muda itu.


Bima beberapa kali mampir ke kampus Ayu. Dan hanya melihatnya dari kejauhan.


Ayu seperti biasa, sibuk mengobrol dengan teman temannya. Lalu setelah itu pergi ramai ramai dengan temannya juga.


Sesekali melewati rumah Ayu, dan rumah itu terlihat sepi.


Pernah sekali, Bima sengaja lewat saat malam hari, dan rumah itu masih gelap. Ayu belum pulang. Atau dia sudah pindah. Bima tak tahu.


Setahun belakangan ini, Bima berusaha menjauh dan menghilangkan perasaannya pada Ayu.


Tapi, Bu Mirna selalu menanyakan tentang Ayu, seolah mendorong Bima untuk mendekati Ayu.


"Bima, kamu itu masih belum terlalu tua, kok buat Ayu. Lagian kamu juga sudah bercerai dengan Niken. Kenapa tidak mendekati secara terang-terangan lagi si Ayu itu?" Tanya Bu Mirna pada Bima.


Bima masih meragukan perasaannya pada Ayu.


Namun, di sisi lain hatinya, dia juga kesepian.

__ADS_1


"Bima, kamu itu jangan bodoh, kamu juga nggak tahu, kan, kalau wanita mantan istrimu itu, saat ini sudah bersama lelaki lain. Jakarta, Bima. Jangan bodoh,kamu ini jadi laki-laki!"


Bima hanya dapat menghela napas panjang, saat mengingat setiap ucapan Bu Mirna, ibunya.


__ADS_2