
"Mas, aku ke rumahmu saja, boleh?" Tanya Seruni sambil menatap Satria dalam perjalanan menuju ke rumah Niken.
Entah ada kekuatan apa yang merasukinya, sehingga memiliki keberanian untuk mengatakan hal itu.
Tiba-tiba mulutnya melontarkan pertanyaan itu pada Satria.
Satria terdiam sejenak.
"Lalu Niken bagaimana?"
"Nanti aku kirim pesan padanya."
Satria mengangguk, lalu memutar balik mobilnya menuju ke rumahnya.
Seruni menghela napas dalam-dalam, sambil mencengkram seat belt nya.
Jantungnya berdegup kencang saat itu. Dia masih bimbang dengan keputusannya untuk menghabiskan malam bersama Satria di kediaman lelaki itu.
Satria menghentikan mobilnya, di depan sebuah rumah berukuran tipe 50, berwarna putih, berpagar hitam.
Satria keluar dari mobil sambil berlari, lalu membuka gerbang rumah itu. Tak lama masuk lagi ke mobil, dan memasukkan ke dalam garasi.
Setelah menutup pagar, Satria mengambil tas dan barang belanjaannya tadi dari jok belakang. Seruni membantu membawakan kantong belanjaan.
Satria membuka pintu rumah.
CEK LEK!
Pintu terbuka, Satria menghidupkan saklar lampu untuk menerangi ruangan dalam rumah itu.
"Silahkan masuk!" Ajak Satria.
Seruni menatap sekelilingnya.
Isi rumah yang minimalis, dan tertata rapi.
Seruni tersenyum.
"Sebentar!" Satria segera berlalu ke dalam kamarnya, lalu tak lama kembali lagi.
"Ini handuk, keringkan dirimu supaya tidak sakit, dan ini pakaianku. Untuk ganti."
Seruni mengangguk, lalu menerima handuk dan baju yang diberikan oleh Satria.
Usai membersihkan tubuhnya, Seruni segera menuju dapur. Saat itu Satria sedang mandi.
Seruni memeriksa lemari es, ada telur dan cabai.
Seruni mengambil mi yang tadi di beli oleh Satria.
Satria mencium aroma masakan dari dapur usai mandi.
Dia melihat punggung Seruni, yang mengenakan kaosnya.
Kaos yang menjadi seperti mini dress saat dikenakan oleh Seruni.
Sangat menggoda. Satria membayangkan dia dapat bercinta dengan Seruni saat ini.
Namun, Satria segera membuang jauh jauh pikiran kotornya itu, dan menghampiri Seruni di dapur.
"Mas Satria, aku masa mi untuk kita. Kamu pasti lapar, kan?"
Seruni menaruh mangkuk di depan Satria.
Lalu meletakkan secangkir teh hangat di samping mangkuk.
Seruni menikmati mie rebus buatannya lalu meminum teh.
Begitu juga dengan Satria. Mereka menikmati makanan tanpa banyak berbicara. Di luar hujan masih deras. Malah semakin deras saat malam.
Seruni menghubungi Niken, mengatakan bahwa dia menginap di rumah Sarah untuk menyelesaikan pekerjaan kantor.
"Wah, enak sekali! Terima kasih Seruni." Puji Satria sambil tersenyum.
"Sama-sama, Mas. Aku juga terima kasih, diijinkan berteduh di rumahmu."
"Nah, mengapa kamu ingin di sini?" Tanya Satria penasaran.
Seruni hanya diam, lalu membereskan meja makan dan membawa ke wastafel untuk di cuci.
Satria menghampiri Seruni yang mencuci piring di dapur nya.
"Seruni." Panggil Satria lembut.
Seruni terkejut, dan menoleh ke arah Satria yang sekarang ada di sampingnya.
"Eh, ya. Ada apa, Mas?" Seruni terkejut, dan salah tingkah.
Satria menatap Seruni lekat lekat, lalu membelai rambut Seruni dan menaruh rambutnya pada belakang telinga.
Satria baru menyadari, bahwa Seruni tidak memakai dalaman.
Puncak gunung kembarnya yang terlihat menyembul, membuat Satria menelan ludahnya saja.
__ADS_1
"Seruni!" Satria tiba tiba melingkarkan tangannya pada perut Seruni.
Seruni menghela napas dalam dalam. Seruni menikmati setiap sentuhan yang Satria lakukan padanya.
Satria menatap Seruni, dan mereka langsung saling menautkan bibir masing masing.
Terdengar suara raungan nikmat dari keduanya.
Satria mengangkat tubuh Seruni ke atas meja makan yang telah bersih. Lalu menciumi Seruni dengan lembut dan perlahan.
"Oohhh.... Mas Satria! Buahi aku, Mas!" Seruni membuka kakinya lebar. Bagian intinya terasa sangat gatal dan merindukan pasangannya.
Satria yang telah lama tak mendapatkan sentuhan wanita, menjadi sangat bersemangat.
Satria membuka kaos yang dikenakan oleh Seruni, dan dia baru sadar, bahwa Seruni tak memakai dalaman sedari tadi.
Satria menciumi wajah dan leher Seruni.
Lalu menuju ke dada dan perut.
Dada Seruni yang ranum membuat Satria tergila untuk sesaat.
Puncak gunung kembar yang berwarna pink itu, seakan menantang Satria.
Satria duduk di kursi, sedangkan Seruni duduk di meja makan sambil membuka dua kakinya lebar-lebar sambil merem melek menikmati sensasi sentuhan dan ciuman dari Satria.
Satria menatap sebuah lubang yang menganga di antara kaki Seruni. Sebuah liang kenikmatan pemuas hasrat lelaki. Seruni dengan ekspresi menantang dan menginginkannya untuk bermain lebih.
Satria sejenak ragu. Sejak awal hubungan mereka yang rumit itu, Satria tak pernah mendapatkan jawaban pasti, Seruni menerima cintanya atau menolak.
Seruni selalu mau diajaknya untuk jalan, bahkan menemaninya menjadi pasangan saat kondangan. Seruni selalu mau menemaninya, mendengarkan curhatannua dikala ada masalah. Bahkan dekat dengan Amanda.
Namun, ketika Satria mengungkapkan dia ingin meminta Seruni menjadi istrinya. Seruni hanya diam, tak menjawab apa apa. Lalu setelah itu, mereka hanya bertemu sekedarnya untuk urusan pekerjaan saja, atau saat di tempat Niken.
Malam ini, Seruni benar benar ada di hadapannya, tanpa mengenakan sehelai benang pun, dan membuka pahanya lebar di depan matanya.
Tatapan Seruni menantangnya. Satria menghela napas dan menelan ludahnya sendiri.
"Mas, milikilah aku!" Tiba tiba Seruni mengalungkan tangannya pada leher Satria dan berbisik.
Seruni menciumi leher lelaki gagah itu dengan buas. Membuat Satria tersentak dan tergoda.
Satria membalas ciuman Seruni dengan menyusuri kaki gadis itu perlahan dengan jarinya.
Seruni menggeliat dan melenguh manja, sambil membusungkan dadanya menikmati semuanya.
Satria menciumi bergantian kaki kanan dan kiri, hingga pangkalnya.
Aroma harum khas bagian milik wanita tercium.
Jadi dan lidah Satria bermain di sana, membuat Seruni berteriak meminta lebih sambil menjambak lembut rambut Satria. Suara lenguh manja dan rintihan Seruni membangkitkan gairah Satria yang telah lama tak bergelora.
Seruni menggerakkan tubuhnya seirama dengan sentuhan Satria. Seruni menikmati setiap sentuhan Satria, dia merasa sangat nyaman dan seolah pasrah. Berbeda saat bersama Bram. Seruni merasa sakit dan terpaksa.
Seruni memang sengaja rajin merawat bagian kewanitaannya, bukan apa apa, untuk menjaga kesehatannya saja.
"Runi, kamu ingin melepasnya?" Satria menatap Seruni yang mulai terlihat gelisah sambil menggigit bibirnya dan menjambak rambut Satria dengan kencang.
"A-aku ingin meledak rasanya, Mas! Enak sekali! Aku.... Ah...aahhh...!"
Satria menjilati cairan yang keluar akibat pelepasan Seruni.
Satria memeluk tubuh Seruni, yang kini berada pada pangkuannya.
Tubuh polos Seruni mendekap erat Satria.
"Miliki aku, Mas!" Bisik Seruni dengan manja tepat pada telinga Satria.
Membuat gairah Satria timbul kembali. Apalagi adik kecilnya mulai meronta karena bergesekan dengan milik Seruni.
Seruni menggeliat perlahan, lalu menatap Satria sambil tersenyum.
"Aku mencintaimu, Mas Satria."
Satria tercenung. Selama ini dia tak pernah mendengar sendiri Seruni mengatakan hal itu padanya. Mereka menjalani hubungan tanpa status. Dan menikmati setiap kebersamaan.
Dan malam ini, diiringi suara hujan dan petir, Seruni mengatakan cinta padanya, dan meminta dirinya untuk memilikinya.
"Kamu ingin apa?" Tanya Satria.
"Aku ingin menikmati malam ini bersamamu, Mas."
Seruni bergerak maju mundur menggoda Satria, lalu mencium bibir lelaki itu dengan lembut.
Sontak, adik kecil Satria mulai terbangun, dan mengeras, membuat Seruni terbelalak merasakan sesuatu yang menyembul di bawah miliknya.
Seruni melepas kaos yang dikenakan Satria, lalu melemparnya sembarangan.
Mengecup mesra leher lelaki itu, hingga turun ke dada bidang, dan perut rata bak roti sobek milik lelaki itu.
Seruni menyentuh celana pendek yang dikenakan oleh Satria.
"Runi. Kita belum menikah. Apa kamu yakin akan melakukan ini?" Satria terlihat ragu.
__ADS_1
"Aku ingin dirimu, Mas!" Bisik Seruni dengan suara manjanya.
Satria langsung bangkit berdiri sambil menggendong tubuh Seruni, membawanya ke dalam kamar, lalu meletakkan pada ranjangnya.
Lampu tidur menyala, cahayanya remang, menambah syahdu ditambah suara hujan dan petir bersahutan.
"Aku ingin kehangatan darimu, Mas!" Pinta Seruni sambil membuka lebar kakinya sambil membelai gunung kembarnya sendiri.
Satria tersenyum, lalu naik ke atas tempat tidurnya.
Dia mengecup bibir, dan memainkan lidahnya dalam mulut Seruni.
Lalu membuat tanda ciuman pada setiap lekuk tubuh Seruni.
Satria menikmati gunung kembar milik Seruni perlahan-lahan, sambil menghisap puncaknya yang berwarna pink itu.
"Seruni! Nikmat sekali. Aku akan menikahimu segera. Aku janji. Aku mencintaimu, Seruni." Ucap Satria sambil mengecup bibir Seruni kembali.
Satria memasukkan adik kecilnya pada lubang milik Seruni, dan mencoba untuk menerobos masuk.
"Uh, sempit sekali, Runi. Jika sakit, bilang, ya!"
Seruni hanya mengangguk pelan sambil menggigit bibirnya menahan rasa sakit.
"Ahhh..! Sakit, Mas..." Rintih Seruni.
"Sebaiknya kita tidak melakukan ini."
Namun, Seruni menggeleng lemah.
"Aku ingin menyerahkan milikku padamu, Mas. Nikmatilah! Kamu yang pertama mendapatkan milikku."
Seruni menatap Satria seolah memohon.
"Tapi, kita bisa melakukan setelah kita menikah, nanti."
"Mas, aku ingin merasakan itu. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya puncak nikmat itu. Ayo lah, Mas! Buahi rahimku!" Pinta Seruni sambil memeluk tubuh Satria, lalu menciumnya.
Satria membuka lapisan terakhir tubuhnya, lalu terlihat benda yang panjang dan besar itu.
Seruni meraihnya, lalu menciumi dengan lembut, bahkan memasukkan dalam mulutnya.
"Runi! Ohhh... Kamu luar biasa!"
Satria menggerakkan miliknya maju mundur dalam mulut Seruni.
Lalu memasukkan dalam lubang milik Seruni yang masih sempit itu.
Satria menjilati kembali bagian itu hingga mulai basah kembali, dan akhirnya pusaka panjang milik Satria dapat memasukinya perlahan.
Bless!
"Aauuu...!" Seruni merintih menahan rasa sakit.
"Aku akan pelan pelan."
Satria perlahan menggerakkan pinggulnya maju mundur, diikuti gerakan pinggul Seruni, seolah saling menikmati.
"Mas... Oh... Enak, oh... Yes! Oh..." Seruni merasakan miliknya sangat basah, penuh, sakit, dan nikmat.
Plok plok plok
Berkali-kali terdengar suara pertemuan dua tubuh yang saling menyatu itu terdengar.
"Enak sekali, Runi. Ohhh.... Aku ingin sampai!"
"Mas, aku nggak tahan lagi!"
"Kita keluarkan sama sama!"
"Ooohhhhhh.....!"
Sepasang tubuh polos manusia, saling menegang dan bergetar akibat persatuan mereka.
Seruni merasa bagai melayang di udara menikmati semburan bibit cinta yang ditanamkan oleh Satria dalam rahimnya.
Keduanya saling tersenyum.
"Kamu capek, Mas?" Tanya Seruni sambil merebahkan kepalanya pada dada Satria.
Satria menggeleng sambil membelai lembut rambut Seruni.
Tubuh mereka yang polos itu berpelukan. Saling bersentuhan membuat keduanya on kembali.
Seruni merasakan ada sesuatu yang mengeras kembali di bagian bawah. Adik kecil Satria mulai terbangun kembali.
Seruni tersenyum menggoda, lalu bangkit dan langsung duduk di atas tubuh Satria tepat pada adik kecil itu.
Seruni langsung menggerakkan pinggulnya perlahan-lahan, membuat Satria melenguh, dan melolong, sambil memegangi dada Seruni dan menikmatinya.
Keduanya memulai kembali permainan panas mereka. Berbagai gaya mereka praktekan. Gaya kuda lumping, gaya anjing kencing, gaya cicak di dinding, gaya sendok, dan berbagai gaya pemuas gairah dan napsu lainnya.
Suara teriakan keduanya bersatu dengan suara derasnya hujan yang mengguyur kota Yogyakarta malam itu.
__ADS_1
Udara dingin tak membuat keduanya berhenti. Keduanya semakin memanas dan menggila. Hingga peluh dan cairan nikmat keduanya pun saling bersatu.