
"Mas, kita ke gerai itu, yuk!" Ayu menunjuk jarinya ke sebuah gerai pakaian brand ternama di sebuah pusat perbelanjaan.
Siang menjelang sore, usai menyelesaikan pekerjaannya, Bima sengaja menjemput Ayu di kampusnya, supaya tidak ngambek, karena beberapa hari mereka tidak berjumpa, karena Laras demam, dan hanya ingin bersama dengan Bima.
Bima beralasan pergi ke Jakarta untuk mengantar pesanan dan meeting dengan klien di Jakarta.
Ayu menggamit lengan Bima dengan manja, melenggangkan kakinya memasuki gerai tersebut, lalu memilih beberapa potong pakaian untuk dirinya.
Ayu masuk ke kamar pas,sedang Bima duduk di bangku yang disediakan dalam gerai tersebut.
"Mas, gimana?" Ayu keluar sambil berlenggak lenggok bak model, lalu menghampiri Bima.
"Bagus, cuma agak terbuka, nggak cocok buat jalan." Ucap Bima sambil menatap Ayu.
Ayu mengerutkan keningnya.
"Nggak cocok gimana?"
"Aku nggak suka cowok cowok melihat kamu berpakaian seperti itu, terlalu seksi."
"Kamu cemburu, ya?" Goda Ayu sambil terkikik.
Bima hanya tersenyum kecil.
Ayu kembali masuk ke dalam kamar pas untuk mencoba pakaian yang lain.
Bima duduk termangu menunggu. Seumur umur, dia tidak pernah menemani Niken berbelanja pakaian. Niken selalu membeli dan memilih pakaiannya sendiri. Dan setiap kali membeli pakaian, dia juga membelikan untuk Bima. Gaya berpakaian Bima hingga sampai sekarang, Niken lah yang mengatur secara tidak langsung.
Bima menghela napas dalam-dalam, dalam hatinya yang dalam, dia benar benar merasa bersalah pada istrinya karena telah mengkhianati pernikahan mereka.
"Mas! Mas! Kamu ngelamun ya!" Ayu menatap Bima sambil cemberut.
"Eh, iya, apa?"
"Iya. Kamu itu dipanggil nggak nyahut! Gimana yang ini?"
Ayu memutar tubuhnya sambil memamerkan pakaian yang dicobanya.
Sebuah dress dengan motif bunga bunga kecil dengan kerah v lengan pendek. Terlihat santai, tapi juga bisa dikenakan untuk acara semi formal.
Bima tersenyum. Dress seperti itu merupakan dress favorit Niken, apalagi dipadu dengan sepatu hak tinggi. Bima menyukainya.
"Kamu suka, Mas?"
Tanya Ayu sambil menggelayut manja pada Bima.
Bima mengangguk sambil tersenyum.
Ayu mengecup pipi Bima, lalu masuk kembali ke kamar pas.
Ayu kembali memilih beberapa potong kemeja untuk kuliah, dan memilih sebuah kemeja lelaki untuk Bima.
__ADS_1
"Aku rasa kemeja ini cocok untukmu, Mas. Biar bergaya anak muda. Nggak kayak bapak bapak." Celetuk Ayu sambil mengepas kemeja itu pada punggung Bima.
Dada Bima berdesir mendengar ucapan Ayu, yang mengatakan gayanya seperti bapak bapak, seolah menyindir dirinya.
"Enak saja ngatain aku bapak bapak!" Sahut Bima pura pura ngambek.
"Iya deh, om!" Balas Ayu sambil membawa semua pakaian yang telah dipilih ke meja kasir.
Setelah membayar semua belanjaan, Bima membantu membawakan semua belanjaan Ayu.
"Kamu itu boros banget." Bima menggelengkan kepalanya.
Sekarang mereka tengah beristirahat di bangku food court sambil menikmati teh yang di jual salah satu gerai di food court mall itu.
"Habisnya aku kesel!" Gerutu Ayu sambil memonyongkan bibirnya.
"Kesel kenapa?"
"Masa dua hari lost kontak, lalu hari ketiga baru ngabarin, dan mengatakan sedang di Jakarta, dan baru pulang besoknya. Kan aku jadi kangen, Mas. Aku tuh nggak bisa jauh dari kamu. Makanya aku pingin kita cepet cepet nikah, biar bisa tiap hari, tiap saat ketemu. Aku pingin dimanja selalu."
"Selesaikan dulu kuliahmu, Nona cantik yang Ayu. Kamu itu masih dua puluh tahun. Apa sih yang kamu kejar, kok pingin cepat cepat nikah?" Tanya Bima penasaran.
"Mas, impianku itu nikah muda, sebelum dua puluh lima tahun, aku pingin sudah menikah. Biar pas punya anak itu nggak jauh umurnya, bisa jadi teman gitu. Itulah mengapa dulu, aku dengan bodohnya menyerahkan kesucianku pada lelaki brengsek itu! Tapi, setelah aku menyadari kebodohan diriku, dan mencoba untuk menerima kehamilanku, eh, malah keguguran."
Ayu menghela napas sambil menyeruput tehnya.
Bima menoleh menatap Ayu dengan prihatin.
Terbukti dari nilai-nilai kuliahnya selama ini. Ayu selalu mendapat nilai A, dan IP selalu cumlaude.
Ayu memiliki daya tarik tersendiri bagi Bima, selain jiwa mudanya yang masih menggebu. Entah mengapa, Bima selalu nyambung dengan semua topik pembicaraan yang Ayu bahas. Mereka berdua sama sama nyambung, dan betah ngobrol berlama-lama, lalu ditutup dengan bercinta sekian ronde hingga mereka kelelahan.
"Ayu, kamu itu masih muda. Jangan sia siakan masa mudamu ini. Nikmatilah! Kamu pikir punya anak itu enak? Kamu pernah berpikir nggak merawat bayi?" Bima balas bertanya.
Ayu menggeleng kepalanya.
"Aku punya teman yang istrinya baru melahirkan. Katanya, dia sangat lelah. Beberapa waktu yang lalu sempat ke pabrik, dia curhat, kalo setiap malam begadang menemani anaknya yang masih bayi. Bergantian dengan istrinya. Lalu istrinya mengalami sindrom baby blues, yang membuat mereka sering bertengkar. Atau kadang malah nangis sendiri, saat melihat bayinya menangis. Itu keadaan normal. Kalo bayi sedang sakit dan rewel. Mereka sama sama stres menghadapinya."
Ayu terdiam mendengar cerita Bima.
"Mas, kamu cerita ini, bukan untuk menakuti aku, kan?"
Ayu menatap Bima penuh selidik.
"Ayu, ngapain aku menakuti kamu. Aku cerita apa yang aku dengar dari temanku sendiri yang baru punya anak bayi. Aku nggak ingin kamu stress sendiri saat semuanya sudah terlambat."
Jawab Bima dengan nada meyakinkan.
"Mas, kamu mau janji?"
"Apa?"
__ADS_1
"Akan menikah denganku, setelah aku lulus?"
Bima terdiam, lalu pindah duduk di samping Ayu.
Bima mengelus rambut panjang gadis itu.
"Sudah berapa kali kamu tanyakan hal itu padaku? Aku menjawab apa?"
"Ya, supaya aku lebih tenang, gitu, Mas. Ngggak takut kamu ninggalin aku."
"Siapa yang tega ninggalin gadis seAyu ini?"
Bima mencubit manja dagu Ayu, lalu merangkul bahu gadis itu.
"Ayo, kita pulang. Nanti kemalaman."
"Biarin kemalaman. Biar Mas Bima nginep di rumahku. Aku kangen kamu, Mas!" Rengek Ayu sambil memberi kode pada Bima.
Bima tersenyum kecil. Dia paham maksud gadis muda itu.
Bima merangkul pundak Ayu saat berjalan melewati gerai gerai di pusat perbelanjaan itu.
BRUK!
Tiba-tiba seseorang menabrak Bima.
"Maaf, Mas, maaf."
Sosok lelaki yang tadi membantu membereskan belanja yang berhamburan, lalu menyerahkan pada Bima.
Sejenak lelaki itu terdiam dan menatap tajam ke arah Bima, lalu menoleh ke arah Ayu seolah menyelidik.
"Terima kasih, Mas." Ucap Bima seolah tak mengenal Satria, yang merupakan sosok lelaki yang tak sengaja menabrak Bima.
"Papa, ayo buruan!" Teriak suara anak kecil di kejauhan sambil melambaikan tangannya ke arah Satria.
"Oh, maaf. Saya sedang buru buru, sehingga tak melihat." Satria menatap Bima.
Bima hanya tersenyum sambil mengangguk.
Satria lalu berlari kecil menuju anak kecil yang memanggilnya tadi.
"Mas, kenal dia?" Tanya Ayu sambil menepuk bahu Bima.
"Eh, nggak! Tapi kayak pernah ketemu saja."
"Ohh..."
"Ayo kita pulang!" Ajak Bima sambil mempercepat langkahnya.
Ayu mengerutkan keningnya, bingung dengan perubahan sikap Bima usai bertabrakan dengan lelaki tadi.
__ADS_1
Tapi, Ayu mencoba tak menghiraukannya. Yang penting malam ini dia bisa menghabiskan waktunya dengan Bima di rumahnya.