Tirani Ibu Mertua

Tirani Ibu Mertua
Bima


__ADS_3

"Mas, aku kok merasa ada yang aneh ya dengan Seruni?" Niken naik ke atas kasur dan duduk bersandar di dinding.


"Apa maksudmu?"


"Maksudku pernikahan Seruni dan Bram. Padahal Seruni berkali-kali menolak Bram,tapi tiba-tiba, dia menerima perjodohan itu."


"Entahlah, aku pun kurang tahu akan hal itu. Aku beberapa kali melihat Seruni sering mengobrol bersama Satria saat sedang ke pabrik. Lalu kapan itu tak sengaja melihat mereka sedang jalan berdua saat di jalan."


Bima menoleh ke arah Niken.


Niken hanya bisa menghela napas dalam-dalam.


"Sudahlah, Ma, nggak usah kamu pikirkan urusan Seruni. Sekarang dia telah menikah dengan Bram. Tugas kita sudah selesai membantu acara di rumah. Ibu juga sudah terlihat senang. Dia juga mulai agak berubah sikapnya padamu."


"Itu karena Seruni yang minta, Mas. Awalnya, Ibu mana mau melibatkan aku. Hmmm... Aku juga nggak tahu, bagaimana cara melunakkan Ibu. Membuat Ibu bisa menerima aku dan Laras. Paling tidak Laras. Karena anak kita, juga cucu nya. Merupakan bagian dari keluargamu."


Niken menatap Bima dengan prihatin.


"Ya. Aku juga nggak tahu musti bagaimana. Kita jalani saja, ya, Ma."


Niken mengangguk.


"Sudah, ah. Kita tidur dulu, sudah malam."


Niken merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk.


"Maa.." panggil Bima.


"Ya.."


"Sudah lama, loh, kita nggak beribadah."


Niken membalik tubuhnya ke arah Bima, lalu mengerutkan keningnya bingung.


"Itu, loh. Berhubung. Itu kan masuk ibadah, Ma." Bima menatap Niken dengan tatapan nakal.


"Dasar! Emang nggak bisa besok, gitu?"


"Ya, aku, kan, pinginnya sekarang, Ma."


Niken tersenyum, lalu menarik lengan Bima.


Bima tersenyum, lalu mereka saling bergumul di atas tempat tidur.


Terdengar suara lenguhan panjang dan manja dari bibir Niken. Dan tak lama, keduanya telah mencapai puncak.


Niken merebahkan tubuhnya, di samping Bima, lalu terlelap karena kelelahan.


Bima yang masih memiliki stamina, terbangun.


Lalu mengenakan pakaiannya, dan menuju ke luar kamar, meninggalkan Niken yang sudah tidur lelap.


Bima duduk di sofa ruang tengah sambil memainkan ponselnya sambil tersenyum.


Sejak mengalami kecelakaan, dan sempat lumpuh. Niken sering mengeluh capek, saat mereka melakukan aktivitas suami istri.


Padahal, jika stress melanda, Bima menyalurkan semuanya dengan menikmati tubuh istrinya.


Apalagi setelah memutuskan untuk resign dari perusahaan tempatnya bekerja. Lalu fokus mengurus pabrik batik warisan Bapak. Bima semakin stress.


Dreet...dreet..dreet..


Saat hampir memejamkan matanya, tiba tiba ponsel Bima bergetar dan menyala nyala.


Bima meraih ponselnya, dan melihat nama pada layar.


Ayu.


Bima segera terbangun dan menerima panggilan itu.


"Ya. Aku nggak bisa tidur. Ho oh, sama. Aku juga kangen kamu. Kangen semuanya. Tunggu lah besok ya. Mas jemput di kampus."


Bima meletakkan ponselnya, lalu tersenyum lebar.

__ADS_1


*


"Jangan lupa bekalnya dimakan! Ini satu lagi buat Amanda, ya." Pesan Niken pada Laras.


"Iya, Ma. Oya, hari ini Amanda nggak ke sini, Ma." Sahut Laras.


"Loh, kenapa?"


"Amanda katanya dijemput sama papanya. Jadi mulai hari ini nggak di rumah kita lagi kalo pulang sekolah."


Ucap Laras dengan polos.


Niken hanya mengangguk angguk, sambil berpikir.


"Pasti ada sesuatu terjadi pada Mas Satria dan Seruni. Kalo nggak, pasti nggak ada apa apa." Batin Niken.


Usai sarapan, Bima dan Laras pergi keluar rumah di antar Niken hingga halaman rumah.


Siang hari yang panas, Bima sambil menikmati lagi yang diputar di radio, menatap sosok gadis muda yang berjalan menghampiri mobilnya, lalu masuk dan duduk di sampingnya.


"Sudah lama menungguku?" Tanya gadis itu dengan ceria.


"Ya, lumayan lah. Hampir empat atau lima lagu sudah aku dengar di radio.


Gadis itu tertawa renyah.


"Oya, beneran nggak ganggu kerjaan, Mas, ini?"


"Mengganggu, jika, kamu nggak mau dijemput."


"Ah, gombal!"


Bima tertawa kecil sambil melirik gadis yang kita kira berusia dua puluh tahun itu.


Gadis belia bernama Ayu. Orang tuanya pemilik konveksi dari Surabaya. Mereka bertemu saat Bima mengantar batik ke Surabaya, dan ternyata Ayu, nama gadis itu berkuliah di salah satu universitas swasta di Yogyakarta.


Bima mengenalkan dirinya masih lajang, karena cincin kawin Bima, digadaikan saat Niken membutuhkan uang untuk biaya operasi waktu itu.


Orang tua Ayu, sangat senang, Bima dapat menjaga Ayu di Yogyakarta, karena memang tidak punya keluarga dekat di Yogyakarta.


"Boleh. Mau ngadem dulu sebelum ke pabrik lagi."


Bima dan Ayu masuk ke dalam rumah tingkat bergaya minimalis itu. Rumahnya tidak besar, namun terlihat mewah. Dan berada di kompleks perumahan mewah.


"Mas, Ayu tuh kangen banget sama Mas Bima."


Ucap Ayu manja sambil duduk di pangkuan Bima.


"Masa, sih?"


"Iya! Nggak percaya?" Ayu balik bertanya pada Bima dengan bibir monyong nya yang terlihat menggemaskan.


Cup!


Bima mencium bibir Ayu karena gemas.


"Ah, nakal!" Protes Ayu sambil memukul pelan dada Bima.


Bima hanya terkekeh sambil menghindari pukulan Ayu sambil membalas dengan menggelitik Ayu.


Mereka berlarian ke sekeliling ruangan dalam rumah, hingga Ayu merebahkan tubuhnya pada tempat tidur empuk di kamarnya.


Mereka tertawa terbahak-bahak bersama, lalu Bima menyangga kepalanya dengan tangan sambil tiduran ke samping menatap Ayu yang masih tertawa.


"Kok ngelihatin terus? Tar demen, loh!" Goda Ayu.


"Iya. Kamu demenin. Wajahmu Ayu, seperti namamu." Bima menatap lekat wajah Ayu.


Sementara itu yang ditatap semakin tersipu dan wajahnya bersemu merah.


"Mas Bima pernah punya pacar?"


Bima mengangguk.

__ADS_1


"Ngapain aja dulu selama pacaran? Kok belum nikah?"


"Biasa aja. Makan bareng, jalan, nonton bioskop, ke acara bareng. Ya gitu, lah. Dulu, Mas sempat kerja di Jakarta. Dan mantanku dulu rekan kerjaku. Lalu, Mas pulang ke Yogya, bantu pabrik."


"Kok, nggak terus sama mantannya?"


"Dia memilih lelaki lain." Sahut Bima dengan asal sambil tersenyum.


"Lalu, di sini nggak punya pacar?" Cecar Ayu.


"Hanya teman biasa saja. Lha kamu gimana? Apa sudah punya pacar?"


Bima balik bertanya.


"Aku pernah hamil, Mas. Tapi pacarku kabur. Nggak bertanggung jawab. Itulah aku memilih untuk berkuliah di Yogya. Pingin melupakan masa lalu."


Ayu merebahkan kepalanya sambil menatap langit langit kamarnya.


"Lalu anakmu di mana sekarang?"


Ayu menghela napas dalam-dalam.


"Aku keguguran, karena aku dulu masih terlalu muda untuk hamil. Lalu aku pindah sekolah, dan meneruskan sekolah di kota lain. Dan sekarang pindah ke Yogya."


Bima membelai lembut kepala Ayu. Ayu menatap Bima.


"Mas, mengapa baik sama Ayu?"


Bima terdiam sesaat.


"Aku ingin menjaga kamu."


Tiba tiba Ayu memeluk Bima dengan erat. Tubuh mereka saling menempel satu sama lain.


"Mengapa kamu bisa bablas sampai hamil gitu sama pacarmu?" Tanya Bima.


"Habis enak sih. Bikin ketagihan, Mas."


"Apanya?" Bima pura pura nggak ngerti.


"Itu loh, Mas. Celap celup!" Sahut Ayu dengan malu malu.


"Kamu gatel ya?" Goda Bima.


Ayu makin malu dan tersipu.


Tangan Bima mulai bermain-main pada pangkal paha Ayu, membuat Ayu menggeliat manja.


"Mas... Jangan nakal ah!"


"Kamu mau, Mas ajarin, nggak?"


"Apa?"


"Permainan lidah yang membuat nikmat."


Ayu mendelik.


"Permainan apa itu, Mas?"


"Mau coba?"


Ayu mengangguk pelan.


Bima membimbing Ayu, lalu Bima perlahan menarik celana bahan yang dikenakan oleh Ayu, lalu melepas penutup apemnya.


Ayu menatap Bima penasaran, sambil menutup pahanya karena malu.


"Kamu, relaks saja, ya. Tenang! Jangan tegang. Kalo mau teriak yang teriak saja, ya." Instruksi Bima.


Ayu mengangguk.


Bima lalu menciumi paha hingga pangkal milik Ayu, membuat gadis itu menggeliat dan merintih menikmati setiap ciuman Bima.

__ADS_1


"Mas, nggak jijik apa? Kok diciumi?"


"Harum sekali, Ayu. Ohh...!" Bima mulai memainkan jarinya


__ADS_2