Tirani Ibu Mertua

Tirani Ibu Mertua
Mulai Usaha Baru


__ADS_3

Sudah satu minggu, Niken menjalani kesibukan menerima pesanan sayur matang, dan aneka makanan.


Pegawai pabrik yang menjadi langganan di minggu awal dia berjualan.


Seruni menyambut senang rencana kakak iparnya itu untuk berjualan makanan.


"Mbak, ini semua pesanan orang pabrik?"


Niken mengangguk.


"Banyak bener?"


"Mas Pur pesan empat porsi, katanya buat bapak dan ibunya juga. Lalu yang satu buat calon istrinya. Lalu Sarah pesan dua, satunya buat pacarnya. Dewa juga, lalu yang lain ada di catatan itu. Aku nggak ingat semua."


"Duh, pantesan, perasaan pegawai pabrik nggak sebanyak itu. Tapi kok jadinya banyak. Pada dobel pesenan ternyata!" Seruni menggelengkan kepalanya.


"Sini, biar aku bawa ke mobil." Mas Pur berjalan ke arah Niken dan membawa plastik yang berisi makanan, lalu menyusun di jok belakang.


"Uangnya besok saja, Runi. Mbak sudah catat juga totalnya dan siapa siapa yang order. Nanti wa saja kalo mau pesan lagi, atau kalo mau makanan ringan, besok Mbak berencana mau buat aneka gorengan."


"Siap Mbak."


"Mbak Niken, kalo besok buat gorengan aku mau ya." Sela Mas Pur.


"Siap Mas, nanti aku japri dirimu."


Mas Pur mengacungkan jempolnya tinggi ke arah Niken.


Minggu berganti Minggu. Tak terasa Niken sudah berjualan hingga tiga bulan.


Guru guru di sekolah Laras juga sering memesan pada Niken, beberapa orang tua teman Laras, pun, juga menjadi langganan Niken. Termasuk Satria yang rutin membeli makanan, lalu meminta mengirimkan menggunakan jasa ojek online, lalu dia mentransfer sejumlah uang pada Niken.


Malam itu, Niken duduk berselonjor sambil memijit kakinya yang pegal karena seharian lelah membuat pesanan risoles dan bolu kukus untuk pesanan.


Terdengar suara mobil masuk ke garasi. Bima barusan pulang.


Niken melirik jam dinding di ruang tengah. Jarum pendek menunjuk angka sebelas.


Niken berdiri, lalu menuju ke arah pintu.


"Baru pulang, Mas?" Tanya Niken saat membukakan pintu.


Bima melenggang masuk, terlihat lelah, karena dia menghabiskan waktu untuk bermain kuda kudaan bersama Ayu usai lembur di kantor.


"Aku mau mandi. Capek!" Bima berjalan masuk tanpa memberi salam atau pun menyapa sang istri.


Bima meletakkan tas kerjanya pada meja di sudut ruangan. Lalu mengambil handuk dan menuju ke kamar mandi.


"Mas, mau aku teruskan air untuk mandi?" Tanya Niken setengah berteriak di dekat kamar mandi.


"Nggak usah!" Sahut Bima.


Niken mengangguk, lalu bergegas ke dapur membuatkan kopi panas, dan menghangatkan rendang ayam, dan tumis kacang panjang.


Niken menyiapkan semuanya dan meletakkan di meja makan.


Niken menunggu beberapa saat di meja makan. Namun, Bima tak kunjung datang.


Niken memeriksa keberadaan suaminya.


Kamar mandi sudah kosong.


Lalu Niken menuju kamar tidur.


Niken perlahan membuka pintu kamar, dan melihat Bima telah tergeletak di atas ranjang sambil memejamkan matanya.


Niken menghela napas. Lalu berbalik kembali ke dapur membereskan makanan yang telah disiapkan tadi.


"Kamu kelihatan lelah sekali, Mas! Apa yang terjadi denganmu? Mengapa kamu nggak mau cerita padaku lagi seperti dulu?" Ucap Niken dalam hati sambil menatap wajah suaminya yang telah tidur nyenyak.


Niken ikut merebahkan tubuhnya di sisi suaminya, dan berusaha memejamkan matanya.


*


"Terima kasih, sudah menjadi langganan saya, Mas." Ucap Niken saat Satria datang untuk mengambil pesanan.

__ADS_1


"Saya yang terima kasih. Kalo nggak ada masakanmu ini, nggak tahu lagi gimana kami akan makan. Apalagi Amanda hampir setiap hari merengek minta makan sayur masakan Mama Niken." Keluh Satria sambil menggelengkan kepalanya.


Niken hanya terkekeh.


"Oya, Laras boleh main sampai jam berapa?" Tanya Satria.


"Pokoknya sebelum pukul lima dia harus sudah pulang." Sahut Niken.


"Asiiiikkkk!" Seru Laras dan Amanda hampir bersamaan.


"Ya sudah, aku bawa Laras dulu, ya."


"Ya. Nitip, ya, Mas. Kabari jika ada apa apa."


Satria mengangguk.


Lalu Laras dan Amanda masuk ke mobil, Niken mengantar mereka.


Laras dan Amanda melambaikan tangan berpamitan pada Niken, lalu Satria memencet klakson tanda pamit.


Niken melambaikan tangan.


Lalu dia kembali sibuk dengan beberapa pesanan yang harus dikirim pada pelanggan menggunakan jasa ojek online.


*


"Makan, yuk, Mas!" Ayu menarik tangan Bima menuju meja makan.


"Wah, kamu yang masak?"


Bima terpana menatap hidangan di meja makan yang menggiurkan.


Ayu hanya tersenyum, sambil mengambilkan piring untuk Bima.


Ayu menyiapkan makanan untuk Bima bagai suaminya, lalu meletakkan di hadapan Bima.


"Aku senang, Mas Bima bisa makan siang di sini. Menemani aku."


"Kamu nggak kuliah?"


Ayu memeluk leher Bima dari belakang, lalu menciumnya.


Bima mengecup bibir ranum Ayu.


Keduanya kemudian menikmati makan siang dengan lahap.


Bima sangat menikmati makanan itu, dia merasa masakan Ayu sangat lezat, seperti buatan Niken.


Bima sangat senang, Ayu bisa masak, selain servis nya di atas ranjang.


"Ayu, pil anti hamil ya nggak lupa kamu minum, kan?" Tanya Bima usai mereka menikmati makan siang.


Ayu menatap Bima dengan tatapan penuh tanya.


"Mas, mengapa aku harus minum pil anti hamil? Kamu nggak mau punya anak sama aku?" Cecar Ayu sambil merajuk.


Bima mengubah posisi duduknya, menghadap Ayu, dan menggenggam jemari gadis itu.


"Bukan gitu, Ayu. Kamu, kan baru kuliah. Apalagi baru tahun kedua. Masih sibuk sibuknya belajar. Aku nggak mau, jika kamu hamil, malah membuat kuliahmu kacau, belum lagi menunda impianmu usai kuliah, seperti yang sering kamu ceritakan ke aku."


Bima memberi alasan.


"Mas, kamu mau janji?"


"Janji apa, Ayu?"


"Janji menikahi aku, setelah aku lulus kuliah?"


Bima terdiam sejenak.


Dalam hatinya sebenarnya kalut, tapi, dia mulai menyukai gadis muda ini.


"Ya, aku janji." Sahut Bima sambil memeluk Ayu.


Kemudian Ayu tersenyum, lalu mengajak Bima untuk masuk dalam kamarnya.

__ADS_1


Dan mereka seperti biasa melakukan aktivitas fisik menyalurkan hasrat duniawi yang sebenarnya tidak diperbolehkan.


"Ayu, sudah dulu, ya. Aku harus kembali ke kantor, sebelum pukul dua. Ada meeting dengan klien."


"Awas kalo bohong!"


Ancam Ayu sambil memonyongkan bibirnya, membuat Bima gemas.


Lalu mencium kening gadis itu.


Ayu turun dari ranjangnya dengan tubuh polosnya, mengambil kaos yang biasa Bima pakai, lalu mengenakannya.


Lalu keluar dari kamar untuk membereskan meja makan.


Sementara Bima merapikan pakaiannya kembali.


Bima menghampiri Ayu yang sedang mencuci piring di dapur.


Tubuh bagian belakang Ayu sangat menggoda iman Bima.


Gadis itu hanya mengenakan kaos kebesaran, tanpa dalaman.


Benar-benar menggoda.


Bima menghampiri gadis itu dan memeluknya dari belakang.


"Hhhmmm... Katanya mau ke pabrik, kok malah mampir ke dapur?" Goda Ayu.


"Habis kamu nantangin, sih!" Sahut Bima.


Bima menyelipkan kedua tangannya masuk dalam pakaian Ayu. Dengan mudah dia memainkan gunung kembar ranum gadis itu.


Ayu hanya bisa menggeliat pasrah.


Bima menaruh gadis itu di atas meja dapur, lalu menciumimya.


Ayu kini menekuk pahanya dan membuka lebar-lebar seolah meminta untuk dipuaskan kembali.


Bima menyeringai lebar, sudah hapal dengan Ayu.


Lalu dia memberikan pelayanan dengan jari dan lidahnya pada milik Ayu.


"Masss.... Aku, ohh!" Rengek Ayu sambil menggerakkan pinggulnya saat Bima memainkan lidahnya pada bagian intinya.


Ekor mata Bima menangkap kotak pembungkus makanan dengan logo 'Dapur Laras'.


Seketika, Bima tersentak.


Ayu yang menggeliat keenakan, terdiam, saat Bima menghentikan kegiatannya. Lalu menatap Bima sambil mengerutkan keningnya.


"Wadah ini dari mana?" Tanya Bima penuh selidik.


Ayu semakin mengerutkan keningnya heran, karena Bima menanyakan kotak makanan itu.


"Dari penjual makanan yang biasa aku pesan, Mas."


"Dari mana kamu tahu penjualnya?"


"Mas, apa apaan sih? Kan cuma kotak makanan. Lagian tadi kamu sampe nambah tiga kali makannya."


"Makanan tadi kamu pesan dari tempat itu?"


"Iya. Emang kenapa? Mas kenal sama Mbak Dapur Laras?" Gantian Ayu yang bertanya penuh selidik.


"Eh, nggak. Aku nggak kenal. Aku hanya penasaran, karena orang kantor juga sering beli di Dapur Laras." Bima mengelak dan berbohong.


"Tuh, kan. Pokoknya katering langganan ku ini dijamin bersih dan enak makanannya, Mas. Kamu nggak usah khawatir."


Bima hanya tersenyum kecut.


"Jangan lupa pil anti hamil ya diminum!" Bima kembali mengingatkan.


"Iya iya, bawel, ah. Kamu ini maunya enak saja, tapi nggak mau nanggung resikonya!"


"Ayu, Mas bukan nggak mau bertanggung jawab. Mas hanya ingin yang terbaik buat kamu. Selesaikan kuliahmu dulu. Gapai impianmu. Lagi pula jika kamu rajin, pasti kamu bisa menyelesaikan kuliah dengan cepat. Mas sayang sama kamu, Ayu. Mas juga sudah janji sama Papa Mamamu, untuk jaga kamu."

__ADS_1


Ayu diam mendengarkan ceramah Bima. Dia membenarkan semua ucapan Bima.


__ADS_2