
Pagi itu, Niken terbangun karena terkena sinar matahari pagi yang menyapa wajahnya dari jendela hotel.
Niken membuka matanya, lalu menyibak selimut yang dikenakan olehnya.
Niken duduk pada bibir ranjang, sambil menatap ke arah luar hotel melalui jendela.
Pemandangan pagi itu sangat indah. Usai hujan deras, namun, tidak banjir hari itu.
Niken memegang bibirnya perlahan.
Dia teringat semalam, Rangga menciumnya dengan lembut, dan entah mengapa Niken pun membalas ciuman Rangga itu.
Niken memejamkan matanya.
"Aku mencintaimu sejak dulu, Niken. Dulu aku sangat bodoh, dan mudah menyerah. Namun, kali ini, aku tak bisa membiarkan kamu pergi begitu saja. Aku masih mencintaimu. Niken, aku ingin kita bisa menghabiskan sisa usia kita hidup bersama. Maukah kamu menjadi istriku?"
Niken, hanya diam. Dia sangat terkejut. Hatinya bimbang.
Selama ini, Niken menganggap Rangga seperti kakak baginya, bagai pengganti kakaknya, Mas Bagas. Lalu, tiba-tiba, Rangga mengungkapkan perasaan padanya.
Niken masih sangat syok dan terkejut.
Niken hanya bisa diam dan menundukkan wajahnya, tak berani menatap Rangga.
"Niken.... Aku tak memaksamu untuk menjawabnya sekarang. Aku masih akan menunggu jawaban darimu."
Rangga meraih dagu lancip Niken, lalu mengangkat wajah Niken perlahan. Mereka bertatapan sejenak, lalu Rangga mendekat dan mencium Niken.
Mulanya, Niken sangat terkejut, dan seiring itu juga, bibir mereka telah menyatu.
Niken menikmati sentuhan lembut bibir Rangga.
Seolah menyirami hatinya yang gersang. Ada kehangatan yang dirasakan olehnya saat ini.
Untuk beberapa saat, Niken terlena dengan kehangatan saat itu, hingga suara teriakan Laras dan Amanda menyadarkan dirinya dan Rangga.
Keduanya langsung berjauhan menjaga jarak, dan Niken terlihat kikuk.
Rangga hanya bisa menahan senyum melihat Niken yang salah tingkah.
"Om Rangga, ayo temani kita beli cemilan di minimarket bawah!" Ajak Laras dan Amanda sambil menarik lengan Rangga.
"Ya sudah, kalian sama Om Rangga dulu, nanti Mama susul kalian."
Niken memberi instruksi pada Laras dan Amanda sambil memberi isyarat akan menyusul.
Akhirnya, Laras, Amanda dan Rangga pergi meninggalkan Niken yang masih duduk termenung.
Sama ketika pagi hari, saat dia baru bangun. Ingatannya akan Rangga semakin menari-nari dalam pikirannya.
Kehangatan yang diberikan oleh Rangga, seolah mengisi kekosongan dalam dirinya kembali.
Niken, berusaha untuk menepis perasaan yang mulai tertanam untuk Rangga. Namun, semakin diingakarinya, rasa itu semakin nyata. Niken mulai menaruh perasaan pada Rangga.
Niken beranjak dari tempat tidurnya, lalu melihat pesan yang tertulis di atas meja. Laras, Amanda, dan Rangga sedang berenang di kolam renang fasilitas hotel.
Niken berjalan menyusul mereka ke kolam renang.
Di kejauhan Laras melambaikan tangan pada Niken saat melihatnya dari lorong hotel.
"Mama, sini!" Teriak Laras sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
Niken hanya bisa tersenyum dan mempercepat langkahnya menuju kolam renang.
Fasilitas hotel itu terlihat masih sepi. Kebetulan saat itu hanya Laras dan Amanda yang menikmati berenang di sana. Dan diawasi oleh Rangga.
*
Usai pulang dari liburan, Amanda dan Satria langsung pamit kembali ke Yogyakarta. Sedangkan Rangga tinggal sendiri lagi dengan kesibukannya.
Rangga mengurangi bepergian ke luar negeri, dan lebih banyak menghabiskan waktu di kantor. Rangga sengaja berlangganan katering dengan Niken untuk mengurus makannya.
Niken pun merasa itu hanya urusan bisnis, namun, sebenarnya, Rangga ingin selalu dekat dengan Niken, dan menunggu jawaban dari wanita itu.
Niken masih ragu dengan perasaan yang terkadang masih tumbuh dan menghilang itu pada Rangga.
Satu tahun lebih setelah perceraian dengan Bima membuatnya trauma untuk menjalin hubungan kembali.
Niken terus bekerja keras untuk melupakan rasa sakit hatinya itu.
Hubungan yang ia bina dengan Bima selama bertahun-tahun harus hancur dalam waktu satu tahun saja.
Niken masih ingat dengan jelas, Bima keluar dari arah dalam rumah sambil mengenakan boxer dan dalaman saja, lalu memanggil sayang pada Ayu.
Niken memejamkan matanya, lalu menghembuskan napas kuat.
Oksigen yang memenuhi paru-parunya seolah tak membuatnya lega saat itu saat melirik ponselnya.
Bima mengirimkan pesan padanya, menanyakan kabar.
Mengapa masih bersikap manis setelah mereka berpisah?
Niken mendengus kesal, lalu melanjutkan pekerjaannya kembali, tanpa memedulikan chat dari Bima.
Niken tersenyum saat melihat nama yang menanyakan kabarnya.
Chat dari Rangga, yang langsung membuat suasana hatinya menjadi berubah drastis menjadi senang.
Niken sengaja tak membuka chat dari Bima.
Entahlah, dia merasa muak melihat nama Bima pada layar ponselnya.
Terlebih perlakuan Rangga yang sangat tulus padanya, mampu membuat Niken menjadi luluh.
"Laras suka apa saat ini?" Tanya Rangga melalui telepon.
"Kamu tanya sendiri ke anaknya ini?" Elak Niken, sambil menyodorkan ponselnya pada Laras yang sedang menikmati semangkuk sup ayam.
"Halo, Om Rangga, ada apa?" Sapa Laras.
"Kamu mau apa sebagai hadiah ulang tahunmu?"
"Aku pingin jalan jalan ke luar negeri Om." Sahut Laras dengan polosnya.
Seketika Niken mendelik menatap Laras. Dan gadis muda itu hanya bisa menyeringai dengan senang.
Laras mengobrol beberapa saat dengan Rangga melalui ponsel.
Sedangkan Niken hanya menatap Laras dengan tatapan penasaran.
"Ma, tenang saja. Aku sudah memberi tahu apa hadiah untukku besok." Ucap Laras sambil tersenyum geli.
"Apa?" Tanya Niken penasaran sambil mendekatkan tubuhnya pada Laras.
__ADS_1
"Rahasia! Pokoknya hadiah ini spesial." Seru Laras.
Niken hanya mengerutkan keningnya penasaran.
Bu Lusi terkikik geli melihat Niken yang cemberut penasaran pada Laras cucunya.
"Kalau dari Oma, mau apa?"
"Aku mau Oma masak soto Banjar."
"Siipp...!" Sahut Bu Lusi sambil mengacungkan jempolnya pada Laras.
Niken hanya bisa menggelengkan kepalanya.
*
Hari ini adalah hari ulang tahun Laras, Bu Lusi dan Niken sibuk di dapur mempersiapkan acara kecil-kecilan untuk Laras.
Laras merayakan ulang tahun bersama dengan teman-teman sekelasnya.
Lalu saat di rumah akan merayakan ulang tahun dengan Oma Lusi, Niken, dan tak lupa mengundang Rangga.
Sepulang sekolah, Laras tersenyum lebar saat melihat Rangga menjemputnya.
Laras sengaja meminta itu pada Rangga. Niken terkejut, namun di dalam hatinya sebenarnya dia senang.
Laras juga seolah memberi sinyal menyetujui bahwa dirinya dapat dekat dengan Rangga.
"Selamat ulang tahun anak cantik!"
"Terima kasih, Om."
"Ini yang kedua belas?"
"Ya!" Laras mengangguk sambil tersenyum.
"Ayo kita pulang." Ajak Rangga.
Lalu Niken dan Laras mengikuti Rangga menuju ke arah mobil yang ada di parkiran.
"Om punya hadiah buat Laras."
"Apa, Om?" Tanya Laras penasaran sambil memajukan tubuhnya ke arah Rangga yang ada di bangku kemudi.
Rangga menyerahkan paper bag berisi ponsel.
"Wow!" Seru Laras dengan gembira saat mengetahui hadiah dari Tangga untuknya.
Rangga memberikan sebuah tablet pintar yang harganya lumayan.
Niken menatap Rangga yang ada di sampingnya.
"Terima kasih, Om!"
Laras berseru dengan gembira.
"Mas, hadiahnya mahal sekali tentu?"
"Ngga juga. Aku melihat Laras menyukai desain gambar, atau editing gambar dan video. Semoga tab nya bisa membantu."
"Sangat membantu, Om!" Laras bersorak kegirangan.
__ADS_1