
Malam itu Rangga menuju ke rumah Niken dengan mengenakan pakaian kasual, supaya terkesan santai.
Sebelum menuju ke sana, Rangga sengaja mampir ke toko bunga dan mengambil bunga pesanannya untuk Niken dan Laras.
Khusus untuk Niken, Rangga memesan buket bunga mawar berwarna warni. Rangga teringat, dulu pernah sengaja mengirim bunga untuk Niken di kantor, namun, ternyata Bima yang sengaja mengaku bahwa dirinyalah yang mengirimkan bunga itu untuk Niken.
Saat itu, Rangga ingin sekali memukul Bima secara langsung, namun, melihat Niken tersenyum bahagia, rasa marah pada sahabatnya itu menjadi hilang.
Rangga hanya memendam perasaannya pada Niken selama ini.
Rangga menatap sejenak kotak kecil, yang berisi cincin untuk Niken, lalu disimpan kembali dalam sakunya.
Senyum tersungging di wajahnya. Rangga tak peduli apa pun jawaban yang akan diberikan oleh Niken. Kali ini, dia bertekad akan mengungkapkan perasaan yang tertunda selama sekitar lima belas tahun lamanya.
Laras pun, telah memberi lampu hijau padanya, untuk mengungkapkan isi hati pada ibunya.
"Laras senang, jika Om Rangga jadi papa sambung Laras. Laras tahu, Om Rangga sangat mencintai mama. Laras juga tahu, jika perasaan Om Rangga dan mama itu tulus." Laras mengatakan itu sambil berbisik kala itu saat mereka sedang menikmati liburan di Ancol.
Rangga mengetuk setir kemudi sambil bersenandung kecil mengikuti lagu yang diputar pada radio saat ini.
Rangga tak sabar menuju ke rumah Niken malam itu.
Rangga memarkir mobilnya di halaman rumah, terlihat Bima sedang duduk di teras di temani oleh Niken.
Rangga hanya duduk di belakang kemudi saat melihat hal itu. Ada keraguan melanda dirinya.
"Ayo, Rangga! Kamu harus bisa memperjuangkan wanita yang kamu cintai."
Rangga menyemangati diri sendiri, lalu menghela napas dalam-dalam.
Niken berdiri, lalu menghampiri mobil Rangga dan mengetuk kaca jendelanya.
"Eh, iya.." Rangga terkejut, lalu dengan gerakan refleks membuka kaca mobil.
"Ngapain? Numpang parkir?" Tanya Niken sambil tersenyum lebar.
"Maaf aku mengganggu kamu dan Bima."
Niken tersenyum.
"Kok kamu baru datang? Laras menunggumu dari kemarin. Dia ngambek, nggak mau sekolah kalo belum ketemu kamu." Niken mengadu.
Rangga tercenung, lalu menatap Niken seolah tak percaya.
"Masa sih?"
Niken mengangguk meyakinkan Rangga.
"Sana kamu temui dia dulu. Sedari kemarin mengurung diri di kamar, katanya kamu nggak datang dan gak ada kabar."
"Segitunya?"
Rangga menutup kaca jendela mobil dan membuka pintu mobilnya.
Dengan ragu, dia mengambil buket bunga warna warni yang ada di jok samping, dan memberikan pada Niken.
"Ini untukmu." Ucap Rangga sambil menyerahkan buket bunga pada Niken.
__ADS_1
Niken menerima sambil tersenyum lebar.
"Dulu aku pernah memberikan ini padamu diam diam di kantor."
Rangga meraih buket bunga satu lagi untuk Laras, lalu sekotak cokelat di tangannya.
Rangga bergegas turun dari mobil dan menuju ke rumah.
Rangga tersenyum sambil menyapa Bima yang menatapnya dengan tegang.
"Apa kabar?" Sapa Rangga.
"Baik."
Bima hanya diam, saat Niken membimbing Rangga untuk masuk sambil membawa buket bunga.
Tak lama Niken kembali menemui Bima, sementara Rangga sedang membujuk Laras di kamar.
"Aku nggak tahu sejak kapan Laras dekat dengan Rangga."
Ucapan Niken terdengar seperti curhatan, bukan sebuah informasi, menurut Bima.
"Rangga tidak pernah berubah." Gumam Bima, Niken menoleh ke arah mantan suaminya itu, sambil mengerutkan keningnya.
Menyadari Niken seolah mencari jawaban dari ucapannya, Bima menghela napas sebelum berbicara.
"Rangga yang aku kenal dari dulu sampai sekarang memang seperti itu. Di balik tampang galak saat ada yang salah, atau tampang playboy saat ada anak baru, dia selalu tulus. Tulus membantu saat ada masalah, menemani saat ada teman yang terpuruk. Rangga pria yang baik."
"Apa maksudmu?" Niken menolek ke arah Bima.
Niken menatap Bima seolah tak percaya.
"Jadi, selama ini dia menunggu diriku?"
Niken tercenung sendiri dengan pikirannya.
Hatinya bimbang dan masih tak percaya.
"Jika kamu mencintai Rangga, aku juga tak masalah. Kamu berhak menemukan kebahagiaan kembali. Aku minta maaf, jika selama ini pernah menyakiti hatimu. Jujur, sebenarnya mulanya aku hanya iseng, hanya ingin bersaing dengan Rangga untuk mendapatkan hatimu. Tapi, ternyata Rangga terlalu polos untuk masalah mengungkap perasaan."
Tiba-tiba cerita Bima meluncur begitu saja. Mengungkapkan rahasia yang selama ini dipendam olehnya dengan Rangga.
PLAK!
Sebuah tamparan mendarat di wajah Bima. Niken menatap tajam ke arah Bima.
"Dasar brengsek! Mengapa kamu membohongi aku, Mas? Tega! Aku percaya padamu, bahkan sampai rela menghadapi ibumu yang selalu menyakiti aku, aku berusaha bertahan. Tapi ternyata hanya aku yang berjuang selama ini. Cintamu ternyata tidak tulus padaku."
"Niken, bukan seperti itu. Itu mulanya. Tapi, pada akhirnya aku benar benar mencintai kamu, dan menikah denganmu. Aku tulus padamu Niken." Bima mendekati Niken, berusaha meyakinkan mantan istrinya itu, namun segera ditepis oleh Niken.
"Aku kecewa padamu, Mas!" Niken menggelengkan kepalanya, lalu berlalu meninggalkan Bima yang masih berdiri terpaku di teras.
Niken menuju ke kamar Laras.
Di ambang pintu, dia melihat Laras dan Rangga sedang bersenda gurau, di sana ada Bu Lusi juga.
"Bima sudah pulang?" Tanya Bu Lusi saat melihat Niken yang berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
Niken menggelengkan kepalanya pelan.
"Ma, Om Rangga bawain aku bunga dan cokelat."
"Dih, pinternya kalo merayu yang lagi ngambek." Niken meledek Rangga.
Rangga hanya tersenyum sambil mengacak rambut Laras.
"Aku ingin Om Rangga sering sering ke sini." Ucap Laras, seolah sebuah permintaan pada Rangga.
"Om sih, nggak masalah. Tapi, apakah mamamu mengijinkan?"
Rangga menatap Niken dengan penuh harap.
Bu Lusi tersenyum, lalu menepuk pundak Niken dengan lembut, lalu pergi ke luar kamar menuju teras menemui Bima.
Laras meraih tangan Niken, lalu memegang tangan Rangga, dan menatap keduanya bergantian.
"Aku ingin kalian menjadi orang tuaku. Apa Om Rangga mau menjadi papaku?" Tanya Laras sambil menatap Rangga.
Sontak pertanyaan Laras membuat Niken terhenyak.
"Laras, apa apaan ini? Jangan memaksa Om Rangga."
Niken mendelik pada Laras sambil memberi isyarat menggeleng kepala.
"Ya. Aku mau." Sahut Rangga singkat dan jelas.
Niken terkejut dan melotot ke arah Rangga.
"Aku mencintaimu Niken, maukah kamu menjadi pendamping hidupku untuk selamanya? Menjadi istriku, dan kita menua bersama?" Ucap Rangga sambil mengambil kotak cincin dalam sakunya.
Wajah Laras langsung berbunga, matanya berbinar-binar, lalu menatap mamanya.
Niken masih diam. Dalam hatinya masih bimbang.
Di sisi lain hatinya mulai menyukai Rangga, namun, di sisi lain, dia masih trauma dengan apa yang pernah dialaminya.
Niken memejamkan matanya sejenak, lalu membuka matanya dan menatap Rangga.
"Aku bersedia." Ucap Niken lirih sambil tersenyum.
"Yey...!!!" Laras bersorak gembira sambil menari nari kegirangan.
Rangga lalu meraih tubuh Niken dan membawa dalam dekapannya.
Hangat, itu yang pertama kali Niken rasakan.
Lalu dia mulai merasa nyaman dalam pelukan Rangga.
"Aku janji akan menjagamu dan Laras. Dan setia padamu."
Niken mendongak menatap Rangga, ada roda bahagia terpancar dari wajahnya.
Rangga mengecup kening Niken dengan rasa sayang.
Niken merasakan ketulusan yang terpancar dari diri Rangga saat itu.
__ADS_1