Tirani Ibu Mertua

Tirani Ibu Mertua
Menikmati Kebersamaan


__ADS_3

"Mas Bima, ouch....nikmat sekali, lagi, Mas!" Pinta Ayu dengan manja, saat Bima menghujamkan pusakanya dalam lubang kenikmatan Ayu.


"Heh, sempit sekali, Yu, punyamu." Bima terus menggerakkan pinggulnya maju mundur, sehingga membuat Ayu blingsatan menikmati sensasi itu dengan mencengkeram punggung Bima.


"Aku merindukanmu, Mas."


Ayu menatap Bima, yang juga tengah menikmati wajah Ayu yang telah bercucur peluh.


"Apa tak ada lelaki yang mendekatimu selama ini?" Bima membelai wajah Ayu.


"Ada. Tapi, aku tak tertarik. Tak ada yang bisa menggantikan dirimu, Mas Bima. Aku tahu, aku salah. Telah mencintai seorang lelaki yang telah berkeluarga. Namun, aku tak bisa menahan lagi rasa ini. Lalu kamu meninggalkan aku sendiri. Aku bisa bertahan dengan mengalihkan perhatian dan pikiran pada kuliah. Orang tuaku berpisah, dan aku membantu Papa mengurus usaha di Jakarta, sambil menyusun skripsi."


Ayu bercerita pada Bima dengan lepas. Seperti saat dulu. Saat mereka berhubungan, dan sangat dekat.


"Maafkan aku, Ayu."


Bima mengecup lembut kening Ayu, lalu menyusuri pipi, bibir, leher, dan dada Ayu dengan kecupan kecupan lembut, sehingga membuat Ayu membuat lenguhan manja.


Milik mereka masih menyatu, Ayu hanya bisa memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya menahan hasratnya yang seakan ingin meledak.


Ayu membusungkan dadanya saat Bima memainkan puncaknya yang berwarna pink itu.


Ayu kemudian duduk di pangkuan Bima, lalu memeluk Bima dengan erat sambil menggerakkan pinggulnya perlahan.


"Ayu.... ahhh... Nikmat sekali sayangku!" Bima mencium bibir ranum Ayu.


Keduanya sudah tak peduli lagi dengan sekeliling, Bima dan Ayu kembali bergulat saling merengkuh tubuh, dan kemudian, Bima mempercepat gerakannya.


"Mas, aku sudah tak tahan lagi, aaahhh...."


"Ayu, aku akan sampai..."


"Aahhhhh...!"


Keduanya saling berpelukan, tubuh mereka saling bergetar dan menegang.


Jutaan benih Bima telah menyembur dalam rahim Ayu.


Bima tersenyum menatap Ayu, yang terkulai lemas di ranjang hotel. Bima menutupi tubuh Ayu dengan selimut.


"Kenapa?"


"Ditutup dulu, supaya aku nggak ingin lagi."


Sahut Bima sambil memgerling manja.


"Halah, biasanya Mas Bima sampai lima enam kali sekali main."


Kali ini Ayu mengalungkan tangannya pada leher Bima dengan manja.


Bima menghela napas panjang, lalu menatap Ayu.


"Aku ingin menebus kesalahanku sebelumnya padamu, Ayu."


Ayu menatap Bima sambil mengerutkan keningnya bingung.


"Kamu mau menjadi pendamping hidupku?" Tanya Bima pada Ayu.

__ADS_1


Ayu menatap Bima seakan tak percaya.


"Sungguh, Mas?"


Bima mengangguk. Lalu, Ayu memeluk Bima dengan erat.


Semalaman mereka menikmati waktu di atas ranjang berdua, bergulat beradu saliva dan peluh, erangan dan suara lenguhan manja terdengar kembali dalam kamar itu.


Bima dan Ayu seolah merasa tanpa beban melakukan semua itu, melampiaskan hasrat dan kerinduan yang selama ini mereka pendam. Tubuh polos sepasang manusia itu saling merengkuh, hingga mereka lelah dan tertidur kelelahan.


Setelah menikmati sarapan bersama di hotel, Ayu menghabiskan waktu untuk berenang, dan Bima bertemu dengan klien.


Rangga tak sengaja melihat Ayu yang sedang berenang di fasilitas hotel itu.


Rangga teringat, bahwa wanita muda itu yang semalam dilihat bersama Bima masuk dalam hotel.


Sekitar satu jam, Ayu memanjakan tubuhnya dengan bermain air. Lalu keluar dari kolam renang, dan mengeringkan tubuhnya.


Setelah membersihkan dirinya, Ayu menuju ke cafe yang ada di hotel, sambil memeriksa beberapa pekerjaan yang tertunda.


Rangga mendekati Ayu yang tengah memainkan ponselnya sambil menikmati kopi.


"Boleh duduk di sini?" Tanya Rangga.


Ayu mendongakkan kepalanya menatap Rangga sambil mengernyitkan dahi.


"Silahkan."


"Sendiri saja?" Tanya Rangga sambil tersenyum.


"Tidak. Saya dengan tunangan saya menginap di sini." Sahut Ayu dengan nada datar dan dingin.


"Dia sedang bekerja. Anda siapa?"


"Tunangan mu bernama Bima?" Kali ini Rangga langsung pada intinya.


Ayu terkejut, lalu menatap Rangga yang tersenyum sambil membalas tatapannya.


"Kamu kenal Mas Bima?"


"Bima adalah temanku semasa bekerja dulu saat di Jakarta. Sudah belasan tahun silam. Tapi aku tak bertemu lagi setelah dia menikah."


Ayu menghembuskan napas perlahan, dia tahu, lelaki di depannya ini lebih tahu Bima dan Niken.


"Mas Bima sudah bercerai dengan Mbak Niken. Tunggu, bagaimana kamu tahu, aku bersama Mas Bima di sini?"


"Kemarin, kebetulan aku melihat kalian masuk bersama di lobi hotel. Saat hendak mengejar kalian untuk menyapanya, kalian sudah tidak ada lagi. Sudah masuk lift." Ucap Rangga setengah berbohong.


"Ohhh... Ya, kami berhubungan beberapa tahun yang lalu. Aku tak tahu dia telah berkeluarga. Aku mengenalnya sebagai supplier kain batik untuk konveksi milik papaku di Surabaya. Mulanya aku menganggap Mas Bima hanya seperti kakak saja, yang melindungi dan mengayomiku. Setelah aku memutuskan untuk pindah kuliah di Yogya, dialah orang pertama yang aku hubungi untuk membantu aku pindahan. Aku belum mempunyai banyak teman di sana. Dan tidak tak pernah mengatakan, bahwa dia telah berkeluarga selama itu."


Ayu mengambil napas sejenak, lalu menoleh ke arah Rangga.


"Lalu apa yang terjadi?" Tanya Rangga pelan, tak ingin seolah sedang mengorek informasi.


"Kami dekat. Dia sering mengantar dan menjemput aku kuliah. Sering menemani aku juga. Dan semua mengalir begitu saja. Mas Bima yang penuh perhatian, selalu menjagaku. Aku semakin nyaman bersamanya, dan jika sepasang manusia berbeda jenis sering bersama, maka perasaan itu akan tumbuh. Entah siapa yang memulainya, lalu semua terjadi begitu saja. Mas Bima lebih sering menghabiskan waktu di rumahku di Yogya." Tutur Ayu panjang lebar.


"Kalian pernah melakukan hubungan intim selama itu?"

__ADS_1


Ayu mendadak tertawa kecil.


"Mas, kamu ini polos banget. Tentu kami sering melakukannya. Tiap hari. Aku menyerahkan semuanya pada Mas Bima. Dan Dia berjanji padaku akan menikahi aku setelah aku selesai lulus dari universitas."


"Kamu percaya?"


Ayu menatap Rangga.


"Dulu aku sangat percaya. Aku sangat yakin, Mas Bima akan menikahiku. Saat jam makan siang, Mas Bima selalu ke rumahku, untuk meminta jatah. Aku tak pernah berpikir atau terpikir, jika Mas Bima sudah berkeluarga. Kami hanya melakukan apa yang kami rasakan saja."


"Bima tak pernah menceritakan tentang keluarganya padamu?"


Ayu menghela napas.


"Mas Bima pernah bercerita tentang adik adiknya, yang membantunya menjalankan pabrik setelah Bapaknya meninggal dunia. Lalu ibunya yang terlalu mengatur hidupnya, sehingga membuat dirinya tak betah tinggal di rumah. Jadi, dia akhirnya sering menghabiskan waktu di rumahku."


"Jadi, kalian kumpul kebo?"


"Aku tak masalah. Toh, dari awal Mas Bima sudah bilang akan menikahi aku setelah aku lulus."


"Lalu, bagaimana istrinya mengetahui hubungan kalian?"


Ayu menatap Rangga, lalu menceritakan semua kejadian terbongkarnya perselingkuhan Bima dan Ayu oleh Niken sendiri waktu itu.


Ada rasa sesal saat menceritakan semua itu dari Ayu.


"Aku tak meragukan cerita Mas Bima. Karena dia tak pernah memakai cincin nikahnya. Lalu, ternyata Mbak Niken juga mengetahui hal itu. Cincin nikah Mas Bima telah dijual untuk biaya pengobatan Mbak Niken sewaktu kecelakaan."


Terang Ayu.


Rangga termenung mendengar penuturan Ayu yang gamblang.


Ayu perlahan menyesap kopinya dan kembali menatap Rangga.


"Kamu masih mencintainya?"


"Mas Bima?"


Rangga mengangguk.


"Aku mencintainya. Bahkan saat mengetahui bahwa dia telah memiliki keluarga, aku masih mencintainya. Aku tahu, aku salah. Itulah yang membuatku patah hati. Dan membuatku dapat fokus menyelesaikan mata kuliahku. Dan kini aku tinggal menyusun skripsi saja, sambil mengurus beberapa usaha milik papaku yang ada di Jakarta."


"Ternyata parah hati berdampak positif bagimu." Ucapan Rangga terdengar bagai pujian pada Ayu.


Ayu terkekeh menanggapi ucapan Rangga.


"Miris, ya?"


Rangga menggelengkan kepalanya.


"Lalu sekarang kalian telah bebas menjalani hubungan kalian kembali. Mungkin takdir kalian memang berjodoh."


"Amin, Mas. Aku pun senang kali ini dapat berjumpa kembali dengan Mas Bima. Dan dia telah memintaku untuk menjadi pendamping hidupnya."


"Wow, secepat itu? Selamat untuk kalian."


Ayu hanya tersenyum lebar.

__ADS_1


"Terima kasih, Mas.


__ADS_2