Tirani Ibu Mertua

Tirani Ibu Mertua
Apa yang harus dilakukan?


__ADS_3

"Om Rangga, ngapain pagi pagi sudah di sini?" Teriak Amanda sambil melotot saat melihat Rangga duduk di kursi makan sambil menyesap kopi buatan Niken dengan sepiring pancake di hadapannya.


"Kamu nggak lihat? Om sedang sarapan." Sahut Rangga sambil mengangkat alisnya.


"Eh, ada Om Rangga?" Laras yang baru masuk ke dapur terkejut sambil mengucek matanya karena masih mengantuk.


"Halo anak anak cantik, baru bangun? Ayo, sini, duduk! Kita nikmati sarapan."


Rangga menepuk kursi di sampingnya.


Laras dan Amanda saling berpandangan, lalu segera mengikuti saran Rangga.


Setelah itu segelas cokelat panas segera meluncur di hadapan mereka.


"Terima kasih, Mama!"


"Terima kasih, Tante!"


Laras dan Amanda bersorak kegirangan.


Setelah mereka menikmati sarapan. Laras dan Amanda membersihkan peralatan makan bekas sarapan.


"Terima kasih, anak anak!"


"Sama sama, Ma."


" Sama sama, Tante."


Lalu, mereka segera masuk ke kamar mereka kembali dan terdengar mereka cekikikan sambil tertawa-tawa.


Niken, memeriksa mereka. Lalu, tak lama dia kembali lagi ke dapur untuk menemui Rangga.


Niken dan Rangga saling mengobrol di dapur.


Hari hari berlalu, Rangga semakin sering berkunjung ke kediaman Niken.


Rangga berkenalan dengan Bu Lusi, ibu dari Niken.


Rangga juga sering mengobrol dengan Laras.


Liburan Amanda hampir berakhir, malam itu dia merengek ingin menghabiskan malam terakhir di Jakarta bersama Laras.


Rangga pun bersedia mengantar Amanda dengan senang hati.


Satria merasa penasaran, apa yang membuat kakak iparnya itu semangat untuk mengantar jemput putrinya.


Jadi, Satria yang saat itu juga tengah bekerja, akhirnya menyempatkan diri untuk ikut mengantar ke kediaman Niken.


Hari itu seperti biasa Rangga berdandan kasual, namun kali ini dia lebih wangi dan rapi. Rambutnya yang gondrong di pangkas pendek. Ya, Satria baru menyadari perubahan yang terjadi pada Rangga.


"Kamu lagi jatuh cinta, ya, Bro?" Tukas Satria saat dalam perjalanan.


"Iya, Pa!" Celetuk Amanda dengan cepat.


Sontak Rangga menoleh ke belakang sambil mendelik pada Amanda.

__ADS_1


"Sama siapa?" Satria penasaran.


"Sudahlah, biarkan aku fokus menyetir dulu." Elak Rangga.


"Bro, aku nggak masalah kamu jatuh cinta, aku dan Amanda sangat senang mendengarnya. Dengan Niken?" Satria menatap Rangga yang masih berusaha untuk fokus mengemudi.


Rangga hanya diam, tak menjawab apa apa.


"Om Rangga, ngaku sajalah! Selama satu Minggu ini rajin bener nemenin aku ke rumah Laras. Lalu betah berlama-lama di sana, ngobrol sama Oma Lusi, terus bantu bantu jualannya Tante Niken juga. Bahkan beberapa kali promosiin ke kantornya juga, biar order sama Tante Niken. Om, suka, ya, sama Tante Niken?" Tembak Amanda sambil menyeringai lebar.


Rangga hanya diam, lalu melirik keponakannya dari spion yang tergantung di atasnya.


"Ya, aku menyukai mamanya Laras."


"Wow! Secepat itu, Om?! Cinta pada pandangan pertama?" Cecar Amanda penuh semangat.


"Hush! Kamu itu anak kecil, tapi sok tahu dan kepo banget sih!?" Rangga mendelik sambil menatap melalui kaca di atasnya.


Amanda terkekeh geli.


"Serius Ngga?"


"Ya, serius. Aku menyukainya sejak lama. Tapi keduluan sama Bima. Dan sekarang dia sudah nggak sama Bima lagi."


"Nah, lanjut terus Om, aku sangat mendukung! Apalagi Manda nggak harus repot-repot lagi kenalan, terus cari tahu kesukaannya lagi. Sudahlah Om, Manda sangat mendukungmu, Om Rangga."


Satria hanya bisa geleng-geleng kepala menatap Rangga dan Amanda bergantian.


"Kamu nggak dukung papamu ini apa?"


"Dukung gimana?" Amanda balik bertanya sambil menatap Satria.


*


"Jadi beneran kamu jatuh hati sama Niken?" Tanya Satria dengan penasaran.


Usai mengantar Amanda, mereka mampir ke kedai kopi, karena saat itu Niken sedang sibuk mengurus pesanan bersama Bu Lusi.


"Ya. Sejak malam itu kamu cerita tentang perselingkuhan Bima, lalu Niken dan Bima berpisah. Aku merasa, inilah saatnya buat aku untuk mengungkapkan perasaan padanya. Aku telah memendam ini belasan tahun silam."


Rangga tersenyum kecil.


"Kamu menyukai Niken sudah lama."


"Sejak pertama bertemu dia pada hari pertama dia masuk kerja di perusahaan tempatku bekerja dulu."


"Tunggu! Jangan jangan, Niken yang membuat kamu patah hati? Karena dia memilih Bima?" Tanya Satria, raut wajahnya menyiratkan rasa penasaran.


"Ya, itulah sebabnya, aku belum menikah, dan tetap menunggu Niken."


"Astaga Rangga!"


Satria terbelalak terkejut mendengar pengakuan dari saudara iparnya.


"Mengapa dulu kamu tidak mengungkapkan perasaan pada Niken?"

__ADS_1


"Aku tidak berani. Pesona Bima lebih menarik dari pada aku, saat itu. Bima selalu bisa mengambil hati Niken. Belum lagi, Niken selalu menganggap aku seperti kakaknya. Dia selalu bilang kalau aku mirip sekali dengan kakaknya yang ada di Kalimantan."


"Ya, dia memang memiliki kakak yang bekerja di perusahaan asing di Kalimantan." Satria membenarkan ucapan Rangga.


Rangga menyesap kopinya, sambil menerawang menatap ke arah luar.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan? Mengungkapkan perasaan atau terus memendamnya?"


Satria menatap Rangga yang terlihat galau.


Rangga menghela napas dalam-dalam, lalu menatap Satria.


"Jika aku mengungkapkan perasaanku padanya, apakah pantas? Apa aku tidak terlalu tergesa-gesa?"


"Apa lagi yang kamu tunggu, Bro?" Satria mendengus kesal.


"Tenang! Aku harus mempersiapkan semuanya. Jika dulu, Niken masih sendiri, dan status masih lajang, aku mungkin akan mudah. Saat ini berbeda. Sekarang dia sudah janda dan memiliki anak satu dari pernikahan sebelumnya."


"Hei, Bro, dengar aku! Yang penting itu statusnya. Asal dia bukan istri orang, kamu nggak usah banyak pertimbangan. Kamu ingin terlambat lagi? Kamu ingin kehilangan dia lagi, heh?"


"Bukan seperti itu? Kamu tahu, aku sebenarnya grogi."


"Halah! Lagu lama itu! Apa kamu perlu bantuan untuk mengungkapkan perasaan pada Niken?"


Tegas Satria sambil mendelik ke arah Rangga.


"Satria, entahlah, tapi aku akan coba berusaha dulu untuk mengungkapkan semua sebelum terlambat."


"Nah, gitu dong! Semangat! Optimis kamu pasti bisa!"


Keduanya terkekeh bersamaan.


"Biarkan aku yang menjemput keponakanku."


"Terima kasih. Bro, semangat ya! Aku yakin Niken pasti bisa menerimamu kali ini."


Satria terus memberi semangat pada Rangga.


Setelah menikmati kopi, mereka berpisah. Satria kembali meneruskan pekerjaannya, dan Rangga kembali menuju ke kediaman Niken.


"Loh, Mas Rangga, mau jemput Amanda?"


Niken terkejut saat melihat Rangga sudah berdiri di depan pintu.


"Hmmm, iya." Rangga mengangguk sambil tersenyum.


"Eh... Tidak!" Beberapa detik kemudian Rangga tersadar, bukan itu alasan dia datang ke sana.


"Ya sudah, ayo masuk dulu!"


Rangga mengikuti Niken masuk dan duduk di ruang tamu.


"Loh, ada Nak Rangga?" Sapa Bu Lusi saat masuk ke dalam rumah.


"Iya, Bu. Maaf, ya Bu, Amanda sering merepotkan."

__ADS_1


"Ah, nggak apa apa. Lagian Amanda berlibur ke sini. Main sama Laras. Aku juga berterima kasih, sudah mengajak .ain anak anak."


"Iya, Bu."


__ADS_2