
"Seruni!" bentak Ibu Mirna tiba-tiba.
"Ada apa, Bu?" tanya Seruni sambil meletakkan cangkir berisi kopi.
"Semalam kamu pergi dengan siapa? Semalam Bram telepon. Katanya kamu tidak pernah menjawab pesannya atau terangkat teleponnya. Ibu pikir semalam kamu pergi dengan Bram," ujar Ibu Mirna sambil mengacak-acak pinggang dan menatap tajam Seruni.
"Aku pergi dengan siapa bukan urusan Ibu. Lagipula, aku tidak ingin lagi berhubungan dengan Bram. Dia tidak sopan dengan perempuan, Bu," sahut Seruni santai sambil melewati ibunya, lalu duduk di kursi dan menikmati secangkir kopi yang dibuatnya.
"Kamu pergi dengan laki-laki?" selidik Ibu Mirna sambil duduk di samping Seruni.
"Bukan urusan Ibu. Sudahlah, aku harus pergi sekarang," ucap Seruni sambil bergegas berdiri, membuang kopi setengah yang masih tersisa, mencuci gelasnya, dan meninggalkan Ibu Mirna yang hanya mendengus kesal.
Seruni mengambil tasnya, lalu pamit.
"Mala, terima kasih sarapannya," bisik Dewa sambil memeluk pinggang Mala saat wanita itu mencuci piring.
"Hmm, iya. Ada apa sih? Pagi-pagi sudah merayu?" sahut Mala sambil tersenyum manja dan membelai pipi Dewa.
Dewa menciumi leher kekasih serumahnya itu dengan terdengar helaan napas setiap kali Dewa memberi ciuman.
"Aku ingin menikahi kamu, Mala."
Mala terdiam, lalu menoleh ke arah Dewa.
"Ada apa?" tanya Dewa heran dengan reaksi Mala.
"Dewa, aku seorang janda dan usianya kita terpaut beberapa tahun. Aku juga memiliki seorang anak yang sudah besar," ujar Mala sambil menatap Dewa ragu-ragu.
"Aku tak masalah dengan hal itu. Aku mencintaimu dan ingin hubungan kita tidak seperti ini saja," jawab Dewa dengan mantap.
"Lalu seperti apa yang kamu inginkan?" tanya Mala.
"Aku ingin kita menikah dan membangun rumah tangga bersama," tutur Dewa dengan penuh harapan.
Mala menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kenapa Mal? Apa ada yang salah dengan aku?"
"Tidak ada yang salah denganmu, Wa. Kamu sangat baik padaku. Aku tahu kamu mencintaiku, tapi aku belum bisa seperti kamu. Aku hanya ingin menikmati setiap saat bersamamu tanpa ikatan apapun."
"Apa yang kamu maksud?" tanya Dewa dengan bingung.
"Aku masih trauma membangun hubungan dengan lawan jenis setelah mantan suamiku meninggalkanku dan aku memutuskan untuk meninggalkan keluargaku dan berpisah. Aku khawatir tidak mampu membangun hubungan seperti dulu lagi. Aku ingin menikmati hidupku dengan damai dan bahagia," ujar Mala sambil menerawang dan menatap Dewa.
"Jadi, bagaimana hubungan kita selama ini menurutmu?" tanya Dewa dengan santai.
"Aku menganggap kamu kekasihku. Aku sangat menikmati setiap saat bersamamu dan menghargai dirimu. Aku juga senang kamu menghargai aku," jelas Mala dengan jujur.
"Lalu, apa yang kita lakukan selama ini?" tanya Dewa dengan merasa bingung.
"Maksudmu kita tinggal bersama?" tanya Mala.
Dewa mengangguk.
"Aku pikir hubungan pasangan dewasa tidak masalah melakukan hubungan intim. Aku sadar kamu melakukan ini semua dengan aku dan aku juga menikmati semuanya. Kita sudah dewasa, Dewa. Kita butuh kepuasan batin untuk menikmati hidup secara lebih baik dan melupakan masalah yang ada," ujar Mala sambil mendekatkan dirinya pada Dewa dan membelai wajah Dewa.
"Aku merasa jijik pada diriku sendiri, Mal! Selama ini aku berpikir kita dapat saling mengerti, lalu aku dapat menikah denganmu dan hidup bahagia bersamamu. Tapi, sepertinya kamu hanya ingin bermain-main saja!" keluh Dewa sambil mengambil kunci motornya.
"Dewa, jangan pergi!" seru Mala sambil memeluk pinggang Dewa dengan erat.
Dewa terdiam. Ia memutar tubuhnya dan menatap Mala yang menangis.
Dewa tercenung sejenak, lalu membungkukkan kepala dan menyeka air mata di sudut mata wanita itu.
Dewa menghampiri Mala, lalu bibir keduanya bertemu. Lidah Dewa bermain-main di dalam mulut Mala sehingga ia merintih.
Dewa membelai paha Mala, dan Mala merintih dengan nikmat. Dewa melepas daster Mala, sehingga membuat paha mulusnya terlihat. Dewa membelai paha Mala dan memutar jari pada bagian intimnya, sehingga membuat Mala merintih dan mengerang nikmat.
"Dewa, aku tidak kuat lagi," rintih Mala sambil menaikkan bagian belakang tubuhnya, dan menggeliat seperti cacing kepanasan.
Dewa menyibak celana pendek milik Mala, lalu membuka belahan dan membenamkannya pada bagian intim Mala. Dewa memompa tubuhnya naik turun.
__ADS_1
Plok... Plok... Plok...
Suara kegiatan penyatuan hasrat dua sejoli membuat Mala meraih tubuh Dewa dan melingkarkan kakinya di pinggang Dewa.
"Mala, aku akan mencapai *******, tahan!" titah Dewa.
Mala hanya menganggukkan kepalanya pelan. Pinggulnya naik turun merespons gerakan Dewa yang semakin memasuki lubang kenikmatan Mala.
Hasrat Mala semakin tak terkendali, seolah-olah meledak di dalam.
"Mala... Oh...!" teriak Dewa sambil memompa miliknya semakin cepat dan cepat.
"Dewa..aku...aaahhh...!"
"Malaa!"
Kedua tubuh mereka menegang karena persatuan mereka.
Dewa memompa lambat-lambat mencabut miliknya yang berlendir, akibat terlalu dalam mengobrak-abrik di dalam isi milik Mala.
Mala tersenyum, sambil mendekap dengan lembut leher Dewa.
"Terima kasih!" Mala mencium pipi Dewa.
"Untuk apa?" tanya Dewa.
"Untuk kamu memberikan kebahagiaan padaku di pagi hari."
"Jika kamu hamil, aku akan bertanggung jawab, Mala." bisik Dewa.
Mala hanya tersenyum, lalu memeluk erat tubuh Dewa.
Sejenak, mereka saling menikmati kehangatan cinta yang diciptakan.
Lalu, Mala membawa Dewa ke kamarnya dan mereka menghabiskan waktu dengan bergulat di atas tempat tidur kembali pagi itu.
__ADS_1