
"Seruni, sempit dan nikmat sekali milikmu!"
"Mas! Miliki aku... Ohhh...aahhhh!"
Keduanya saling berpelukan dan bertaut.
"Jika sakit, katakanlah!" Ucap Satria sambil membelai rambut Seruni.
Seruni menggeleng, sambil mengambil napas dalam-dalam, saat milik Satria yang besar dan panjang itu mulai menusuk masuk ke liang kenikmatan milik Seruni.
Seruni menggerakkan tubuh dan pinggulnya, mengikuti gerakan pinggul Satria yang maju mundur, naik cepat dan cepat.
Lalu Satria memainkan gundukan lembut dan kenyal milik Seruni dengan perlahan.
Hingga keduanya, semakin bersaing dengan rintihan dan raungan akibat aktivitas fisik mereka.
Seruni mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi saat Satria menyembur jutaan benihnya dalam rahim Seruni.
Satria mencabut perlahan-lahan miliknya, sehingga Seruni hanya bisa menahan napasnya.
"Aku akan menikahimu, Seruni. Aku janji padamu!" Bisik Satria sambil membelai rambut Seruni.
Seruni meletakkan kepalanya di dada Satria dengan manja.
Tak ada rasa malu dari keduanya saat itu.
Tak lama Satria yang kelelahan mulai memejamkan matanya di atas tempat tidurnya.
Seruni perlahan bangun dari ranjang, dan turun dari tempat tidur itu.
Seruni menggigit bibirnya dan meringis menahan sakit, karena tubuhnya terasa sangat lelah dan pangkal pahanya terasa sakit dan nyeri karena perbuatan panas mereka malam itu yang semalaman.
Seruni melirik jam dinding, yang menunjukkan pukul lima pagi.
Semalam mereka bercinta tak henti-henti. Seruni melayangkan pandangan mencari pakaiannya yang tersebar di berbagai tempat.
Seruni berjalan sambil berjingkat-jingkat, lalu meraih potongan pakaiannya. Seruni segera mengenakan pakaiannya yang masih terasa lembab karena terkena hujan semalam.
Sambil menahan rasa perih pada bagian bawah tubuhnya, dia berjalan perlahan ke arah pintu kamar, dan membuka pelan pelan. Lalu menutupnya kembali.
Seruni meraih tas ranselnya, dan segera keluar dari kediaman Satria.
Seruni menoleh ke belakang. Menatap rumah itu sejenak, sambil menghela napasnya.
"Maafkan aku, Mas. Tapi, kamu akan selalu ada dalam hatiku." Ucap Seruni lirih, dan berlalu dari rumah itu.
Sambil berjalan dengan tangan di dalam saku jaketnya, Seruni merapatkan tangannya, untuk menahan dinginnya udara pagi itu.
Seruni berjalan cepat setengah berlari menuju kediamannya, berusaha melupakan semua kegilaan yang baru saja dia lakukan semalam.
Setelah berjalan cepat sekitar dua puluh menit, Seruni akhirnya sampai di rumahnya. Beruntung, Dewa baru keluar dari pintu samping hendak lari pagi.
__ADS_1
"Seruni?" Dewa menatap Seruni dengan cemas.
"Iya, Mas. Semalam motorku mogok, sepulang dari pabrik."
"Kamu bermalam di mana?"
"Hhmmm... Aku bermalam di rumah Ajeng." Sahut Seruni bohong.
"Oh, ya, sudah. Kamu sana masuk, nanti sakit."
Seruni segera meninggalkan Dewa yang masih terlihat mencemaskan adiknya itu.
Seruni segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Seruni masih teringat setiap ciuman dan sentuhan Satria pada tubuhnya. Seruni masih membayangkan rasanya milik Satria berusaha keras untuk masuk pada miliknya yang berharga itu, dan menembus selaput keperawanan miliknya, lalu menghujam bertubi tubi. Mulai dari rasa sakit dan nyeri yang luar biasa, lalu perlahan berubah menjadi rasa nikmat yang tiada tara. Membuat Seruni ketagihan, hingga mereka melakukannya hampir pagi.
Usai membersihkan tubuhnya, Seruni segera masuk ke kamarnya.
Mengeringkan rambut dan tubuhnya kembali, lalu berjalan menuju cermin yang ada di kamarnya.
Lalu membuka handuk yang melilit tubuhnya, menatap tubuh polosnya pada cermin.
Entah mengapa tiba-tiba, Seruni membayangkan kembali malam saat bersama Satria kembali.
Seruni menatap miliknya lalu dia menyadari, bahwa beberapa bagian tubuhnya dipenuhi oleh tanda cinta dari Satria. Seruni hanya bisa tersenyum.
*
Niken terlihat sibuk mondar-mandir saat acara ijab kabul Seruni dan Bram yang dilangsungkan di kediaman Bu Mirna.
Seruni menginginkan acara yang sederhana saja untuk pernikahan dengan Bram. Mengundang keluarga, teman-teman dekat, dan tetangga saja. Tidak perlu perayaan yang besar.
Keluarga Pak Bagyo tidak masalah dengan hal itu. Mereka dengan senang hati menyetujui permintaan Seruni.
Bapak dan Ibu Bagyo, orang tua Bram, sangat senang Seruni mau menerima lamaran dari Bram. Karena mereka menginginkan wanita berdarah Jawa, yang mengerti tradisi. Lalu memiliki sopan santun, dan dari keluarga baik baik.
Selama ini Seruni memang dikenal sebagai gadis yang penurut, pintar, berbakti pada orang tua, dan bukan termasuk yang suka gonta ganti pacar. Bu Bagyo melihat dan mengenal langsung Seruni. Sejak kecil Bu Bagyo sudah mengincar Seruni untuk dijadikan calon mantunya. Apalagi dari dulu mereka telah mengenal keluarga Pak Widodo dan Bu Mirna dengan baik.
"Seruni, Bram, kalian makan saja dulu. Tamu mulai pada pulang ini."
Niken menghampiri pasangan pengantin baru di pelaminan.
"Atau mau aku ambilkan saja?" Imbuh Niken.
"Nggak usah, Mbak. Nanti kami ke ruang makan sendiri. Ya, kan, Mas?" Ucap Seruni sambil menoleh ke arah Bram.
Bram hanya mengangguk sambil tersenyum.
Bram dan Seruni berdiri hendak menuju ruang makan. Ekor mata Seruni menatap sosok yang dikenalnya berjalan menuju ke arah rumahnya.
Satria.
__ADS_1
Seruni menatap Satria dari kejauhan, lalu berlalu mengikuti Bram masuk ke dalam rumah untuk makan.
Niken sempat melihat kejadian itu, dengan tatapan curiga.
"Selamat, Pak Bima, dan Pak Dewa." Satria menyalami Bima dan Dewa.
"Oh, terima kasih. Silahkan langsung dinikmati saja hidangannya, Pak. Acaranya sederhana saja ini. Lagi pula acara intinya sudah selesai juga. Sekarang tinggal acara makan makan dan hiburan saja." Sahut Bima sambil tersenyum, lalu mempersilakan Satria untuk menuju ke arah makanan yang tersedia di meja prasmanan.
"Kok, baru datang, Pak Satria?" Niken menghampiri Satria saat sedang memilih hidangan.
"Ya, baru sempat."
"Terima kasih sudah datang, loh. Maaf mendadak mengabarinya."
"Nggak apa apa."
"Kok, Amanda nggak diajak?" Niken melayangkan pandangan mencari sosok Amanda.
"Dia sedang bersama Om dan tantenya,buang datang dari Jakarta. Kebetulan sedang berlibur ke Yogya."
"Oh, iya." Niken tersenyum, sambil memperhatikan Satria yang terlihat sedih.
"Silakan, menikmati, ya, Pak. Saya tinggal dulu." Pamit Niken sambil membiarkan Satria memilih hidangannya sendiri.
Niken merasa Satria dan Seruni ada hubungan khusus selama ini. Apalagi Amanda sering menceritakan bahwa Satria sering menghabiskan waktu bersama Seruni, termasuk bersama Amanda. Amanda beberapa kali bercerita sangat senang jika Seruni menjadi Mamanya.
Niken merasa bingung saat mendengar Seruni menerima lamaran dari keluarga Pak Bagyo.
Lalu Niken sibuk dengan beberapa tamu yang hadir pada acara itu kembali.
"Pak Satria! Pak!" Niken berlari kecil sambil menjinjing kain roknya mendekati Satria yang berjalan menjauh dari kediaman Bu Mirna menuju mobilnya.
"Ada apa?" Satria menoleh menunggu Niken.
"Ini buat Amanda, dan Om tantenya. Masih banyak juga soalnya. Sekali lagi, terima kasih atas kedatangannya."
Niken menyodorkan plastik berisi makanan pada Satria.
"Terima kasih, Mbak. Dari awal ketemu sampai sekarang, aku selalu dibawakan oleh oleh setiap kali pulang."
"Sudahlah, nggak apa apa, Pak. Dari pada mubasir, lebih baik dibagi pada tamu dan tetangga, kan?"
Satria tersenyum.
Lalu berpamitan, sambil berlalu menuju mobilnya.
Seruni menatap kepergian Satria dari dalam rumahnya.
Seruni sama sekali tidak mau menemui Satria. Dia merasa sangat bersalah. Detik itu juga, dia sangat menyesal akan keputusannya untuk menikah dengan Bram.
Hati dan pikirannya terus tertuju pada Satria. Bahkan, berharap kejadian malam itu membuahkan hasil. Seruni tak ingin memiliki keturunan dari Bram.
__ADS_1