Tirani Ibu Mertua

Tirani Ibu Mertua
Pertemuan


__ADS_3

Rangga melirik Niken yang sedang memijit pelipisnya, kepalanya masih terasa sedikit pusing karena naik wahana halilintar.


Rangga memberanikan diri memijat tengkuk Niken sambil menyodorkan sebotol air mineral.


Niken menerima botol minum lalu hanya diam menikmati setiap pijatan yang dilakukan oleh Rangga.


Selama dia menikah dengan Bima, tak pernah dia mendapat perlakuan seperti itu. Saat dia sakit, Bima hanya duduk menemani, dan menyediakan makanan atau minuman saja.


Kali ini, entah mengapa, Niken sengaja membiarkan Rangga memijatnya. Ada rasa nyaman yang dirasakan oleh Niken saat ini. Niken sadar, dalam hatinya mulai timbul benih perasaan yang lebih pada Rangga. Dan Niken pun sadar, bahwa selama ini Rangga juga tengah mendekatinya.


"Gimana sekarang?" Tanya Rangga sambil menatap Niken.


"Eh, ya, ya. Enak. Sudah lebih baik." Sahut Niken terbata-bata.


"Maaf jadi merepotkanmu." Sambung Niken tersipu.


"Tenang saja, lagi pula, jika tidak terbiasa pasti akan mengalami hal yang sama. Eh itu anak anak."


Rangga menunjuk Laras dan Amanda yang berjalan menghampiri mereka sambil sesekali tertawa.


"Gimana?"


"Seru, Om!" Sahut dua gadis itu bersamaan sambil tersenyum lebar.


"Habis ini mau ke mana lagi?" Tanya Rangga.


"Terserah Om Rangga saja, deh." Celetuk Amanda.


"Bagaimana kalau kita langsung ke hotel saja, kita langsung berenang di sana."


"Horeee!" Sorak dua gadis muda itu gembira.


Niken menggelengkan kepala sambil menatap Rangga yang masih tersenyum lebar.


Ada getar aneh dalam dada Niken saat menatap Rangga kala itu.


Namun, segera ditepis perasaan itu jauh jauh oleh Niken.


Rangga membawa Niken, Amanda, dan Laras ke sebuah hotel berbintang di kawasan elit Jakarta.


"Wah, pasti mahal kalau menginap di sini." Gumam Laras.


"Tenang saja, Yas. Hotel ini milik Om Rangga. Jadi kita bebas menginap di sini." Sahut Amanda.


"Oya? Beneran Om?" Laras memajukan tubuhnya ke bagian depan di antara kursi kemudi Rangga dan Niken, yang duduk di bangku depan.


Niken pun yang baru tahu, terkejut mendengar ucapan Amanda, dan langsung menoleh ke arah Rangga.


"Ah, kamu ini lebai banget. Om cuma punya sedikit bagian saham saja dari hotel itu."


"Bagian sedikit? Delapan puluh persen kok sedikit sih, Om?!" Kali ini Amanda ikutan memajukan tubuhnya di dekat Tangga yang ada di depannya.


Rangga menyadari menjadi perhatian seisi mobil, lalu menyeringai lebar.


"Nah, sudah sampai, silahkan keluar dari mobil."


Rangga menatap satu persatu dari mereka.


Laras masih terkagum kagum menatap lobi hotel itu, lalu mengikuti Amanda yang terlihat sudah terbiasa.

__ADS_1


Niken hanya mengikuti saja sambil mengamati sekeliling.


"Selamat sore, Pak. Silahkan menikmati hotel." Sapa resepsionis yang sedang bertugas kala itu.


Pegawai yang sedang bertugas, memberi salam dan mengangguk hormat kala berpapasan dengan Rangga.


Niken menjadi ciut, dia merasa malu dan merasa tak pantas seketika. Niken berjalan mengikuti anak anak.


Tiba tiba, sebuah tangan menggenggam jemarinya saat berjalan menyusuri lorong hotel menuju kamar.


Niken terkejut, dan langsung menoleh ke arah samping. Lalu Rangga hanya tersenyum, lalu berjalan seperti biasa sambil menggandeng tangan Niken.


Niken hanya bisa tersenyum, ada rasa bahagia menyeruak dalam hatinya.


"Kalian nanti tidur satu kamar, mau?" Tanya Rangga pada Laras dan Amanda.


"Mau dong, Om. Lalu Mamaku?" Tanya Laras.


"Nanti, Om beri kamar sendiri."


"Apa Mama akan tidur sama Om?" Tanya Laras sambil berbisik pada Rangga.


Rangga terkejut, lalu menoleh ke arah Laras yang memasang wajah setengah menggoda Rangga.


"Memangnya, kamu mengijinkan, jika Om sama mamamu?"


"Boleh boleh saja Om. Tapi, jangan pernah menyakiti Mama." Sahut Laras.


Rangga tersenyum, lalu mengacak rambut Laras yang sudah basah karena air kolam renang.


*


Kali ini dia bertugas menjaga pameran di Singapura, bagian dari pameran produk dari Indonesia.


"Runi?"


Tiba tiba sebuah suara berat yang dikenalnya menyapa.


"Astaga, Mas Satria! Sedang apa di sini?"


Seruni terkejut, dan langsung balas menyapa Satria yang menghampirinya.


"Aku ada kerjaan di sini. Kamu sedang pameran?"


"Iya. Produk dari pabrik. Dan beberapa titipan klien yang kerjasama sama pabrik."


Sahut Seruni.


"Berapa lama di sini?"


"Aku sudah sekitar enam hari di sini. Besok hari terakhir pameran. Lalu setelah itu baru pulang ke Yogyakarta."


"Pukul berapa selesai?"


"Sebentar lagi, Mas. Ini mau siap siap tutup stand."


Satria menemani Seruni yang meeting bersama beberapa karyawannya usai tutup stand.


"Mas Satria beneran nungguin, ya?" Seruni terkejut saat melihat Satria masih menunggunya.

__ADS_1


"Iya, bisa ngobrol sebentar?"


Seruni menghela napas dalam-dalam, lalu menghampiri keryawannya, setelah itu kembali ke Satria lagi.


"Bisa, Mas. Mau ke mana?"


"Kita jalan ke kawasan kuliner saja."


Seruni mengangguk.


Lalu keduanya beranjak dari mall itu, menuju sebuah kawasan kuliner yang tak jauh dari tempat pameran Seruni.


Mereka memesan beberapa jenis makanan, lalu mencari tempat duduk untuk menikmatinya.


"Aku senang pabrik bisa bertambah maju." Puji Satria.


"Terima kasih, Mas. Usaha Mas Satria juga tambah maju juga. Kliennya sampai luar negeri juga."


"Iya, kebetulan orang Indonesia juga. Tapi perusahaannya di Singapura. Jadi, ya aku mau nggak mau harus ke sini."


Seruni tersenyum sambil menikmati ayam gorengnya.


"Regas sama siapa sekarang?"


"Sama Bude Ning, kadang sama Mas Dewa dan Mawar. Sejak, Mbak Niken pulang ke Jakarta, aku kehilangan sosok kakak perempuan lagi. Saat aku sedang galau mau ninggalin Regas, karena event pameran, aku juga konsultasi ke Mbak Niken. Dia bilang minta tolong ke Bude Ning saja."


"Nggak sama Ibu?"


Seruni tersenyum kecut.


"Ibu, nggak bisa diandelin. Selalu sibuk dengan kegiatannya sendiri. Dia nggak berani mengusik aku lagi, setelah mengetahui dengan mata kepalanya sendiri Mas Bram mesra mesraan sama wanita lain di dalam mobil."


Dengus Seruni. Terlihat dia puas saat menceritakan hal itu.


"Kamu adalah wanita yang kuat, Runi."


Puji Satria.


Seruni menatap Satria.


Lalu Satria meraih tangan Seruni.


"Meskipun kamu pernah meninggalkan aku, namun, aku tahu kamu pasti punya alasan tersendiri. Tapi, masih kah ada kesempatan untukku lagi?"


Seruni hanya diam. Lalu sebuah senyum tersungging di bibirnya.


"Tapi, aku sudah pernah dengan yang lain, Mas?"


"Aku juga sama."


"Tapi, Mas Satria beda."


"Aku pernah kehilangan orang yang sangat aku cintai sekali. Lalu kali ini, aku tak ingin kehilangan lagi. Perasaanku padamu nggak pernah bisa hilang, entah kenapa. Kejadian malam itu selalu membayangi aku. Aku selalu merindukanmu, Runi."


Seruni terdiam.


Seruni pun, juga tak pernah melupakan malam itu.


Malam di mana dia dan Satria menghabiskan malam dengan saling mamadu kasih, merengkuh tubuh, menikmati kenikmatan duniawi.

__ADS_1


Dan Seruni sangat yakin, bahwa Regas adalah anak dari dirinya dan Satria, hasil perbuatan mereka malam itu.


__ADS_2